Jakarta, Kompas -
Agus (45), warga Koja, Senin (5/3), mengaku baru tahu lewat televisi bahwa pilkada akan berlangsung bulan Juli. Namun, terkait jadwal pendaftaran pemilihan, verifikasi data pemilih, hingga tanggal pemungutan suara, dia mengaku tidak mengetahuinya.
Wali Kota Jakarta Utara Bambang Sugiyono mengatakan, sebagian besar warga di Jakarta Utara memang masih belum mengetahui jadwal pelaksanaan pilkada. ”Warga memang masih belum tahu kapan mulai dilakukan pendaftaran, kapan mulai verifikasi daftar pemilih tetap, sampai tanggal pemilihan itu kapan. Termasuk juga siapa yang boleh memilih,” ujarnya.
Untuk itu, kata Bambang, pihaknya telah menginstruksikan setiap pejabat pegawai negeri sipil (PNS) di unit kerja masing- masing agar menyisipkan program sosialisasi pilkada dalam setiap kegiatan yang dilaksanakan di masyarakat. Suku dinas kebersihan, contohnya, dapat menyisipkan sosialisasi pilkada dalam kegiatannya melaksanakan kebersihan di lingkungan warga.
Dengan demikian, tidak perlu lagi ada anggaran tambahan untuk sosialisasi pilkada. ”Yang terpenting, mendorong warga untuk menggunakan hak pilihnya dalam pilkada nanti,” katanya.
Terkait hak pilih warga di daerah abu-abu, Bambang mengatakan, itu sangat bergantung pada kepemilikan kartu tanda penduduk (KTP). Warga yang tinggal di area abu-abu tidak akan dilengkapi RT dan RW sehingga tidak bisa membuat KTP.
”Tetapi kan tidak sedikit warga yang berada di grey area punya KTP dengan alamat di RT atau kelurahan tetangga. Mereka tetap punya hak pilihnya dalam pilkada,” lanjutnya.
Sebaliknya, pada pemilu presiden, menurut Bambang, semua warga di area abu-abu turut didata sebagai pemilih karena pemilu presiden menjaring suara seluruh warga negara Indonesia. Perhitungan itu diambil dari data Badan Pusat Statistik (BPS).
”Dari data BPS tercatat warga Jakarta Utara sebanyak 1,6 juta jiwa. Tetapi, warga yang memiliki KTP di Jakarta Utara hanya 1,4 juta jiwa. Jadi, ada sekitar 200.000 jiwa yang tidak punya KTP,” ujar Bambang.
Komisi Pemilihan Umum Jakarta Barat mulai menyosialisasi pemilihan gubernur DKI Jakarta pada 11 Juli. Kegiatan itu dilakukan dengan membagikan stiker kepada warga dan pemasangan spanduk-spanduk di perempatan Grogol sekitar Mal Ciputra dan Kampus Universitas Trisakti, Senin.
”Stiker dan spanduk ini untuk mengingatkan warga tentang pemilihan gubernur pada 11 Juli nanti,” kata Sekretaris KPU Jakarta Barat Rudi Ichwan.
Saat ini, KPU Jakarta Barat mengadakan bimbingan teknis bagi petugas pemutakhiran data pemilih di setiap kelurahan. Pekan depan, petugas akan mulai berkeliling dari pintu ke pintu untuk mendata pemilih potensial dan memutakhirkan data pemilih.
Data pemilih sementara Jakarta Barat sebanyak 1.686.297 orang. Pemilih tersebar di 56 kelurahan dan di 8 kecamatan, yaitu Taman Sari, Tambora, Grogol Petamburan, Palmerah, Kembangan, Kebon Jeruk, Cengkareng, dan Kalideres.