Romney Gagal Menang Besar

Kompas.com - 08/03/2012, 02:20 WIB

WASHINGTON DC, SELASA - Mitt Romney meraih kemenangan dalam pemilihan pendahuluan di 6 dari 10 negara bagian dalam Super Tuesday, Selasa (6/3). Namun, ia gagal menang besar untuk menghentikan langkah para rivalnya.

Seperti diperkirakan sebelumnya, mantan Gubernur Massachusetts itu berjaya dalam serangkaian pemilihan pendahuluan calon presiden Amerika Serikat dari Partai Republik di wilayah utara dan timur laut AS, dengan meraih kemenangan mudah di Massachusetts, Vermont, dan Virginia. Keberhasilan itu disusul kemenangan Romney di Idaho dan Alaska.

Romney juga meraih ”hadiah utama” Super Tuesday, yakni kemenangan di Negara Bagian Ohio. Namun, kemenangan itu harus diraih melalui persaingan sengit dengan Rick Santorum, mantan senator AS dari Pennsylvania yang menjadi rival utama Romney saat ini.

Santorum bahkan terus memimpin dalam perhitungan suara yang berlangsung hingga tengah malam. Baru setelah proses perhitungan suara melewati 70 persen, Romney mulai mendekat dan akhirnya menyalip Santorum dengan selisih hanya sekitar 12.000 suara dari total 1,1 juta pemilih peserta pemilihan pendahuluan (primary) di Ohio.

Secara keseluruhan, Romney lolos dari Ohio dengan mengantongi 38 persen suara, disusul Santorum (37 persen), mantan Ketua DPR AS Newt Gingrich (15 persen), dan anggota DPR AS dari Texas, Ron Paul (9 persen).

Kemenangan di Ohio sangat menentukan. Sejarah mencatat, tak seorang pun calon presiden (capres) dari Partai Republik bisa memenangi persaingan menuju Gedung Putih tanpa menang di Ohio.

Curtis Johnson, staf Kedutaan Besar AS di Jakarta yang pernah aktif dalam tim kampanye Barack Obama pada pemilu 2008, menjelaskan berbagai keistimewaan Ohio. Selain jumlah penduduknya yang besar (sekitar 11,5 juta jiwa atau nomor tujuh terpadat di AS), Ohio juga dianggap sebagai miniatur Amerika.

”Populasi Ohio mewakili keberagaman lapisan masyarakat di AS, ada warga perkotaan, pinggir kota, pedesaan, kawasan industri, jasa, maupun pertanian. Perusahaan yang mengeluarkan produk baru di AS biasanya melakukan uji pasar di Ohio,” kata Johnson, dalam diskusi Super Tuesday yang digelar Kedubes AS di @america, Mal Pacific Place, Jakarta, Rabu (7/3) pagi.

Dukungan terbatas

Namun, kemenangan tipis Romney itu menunjukkan, ia tak kunjung bisa merangkul seluruh basis massa pendukung Partai Republik untuk mendukung dia. Padahal, di Ohio, Romney menghabiskan uang untuk berkampanye empat kali lipat lebih besar dibanding Santorum.

Jajak pendapat yang dilakukan di tempat-tempat pemungutan suara di Ohio juga menunjukkan, Romney meraih dukungan besar hanya di kawasan perkotaan dan kalangan masyarakat berpenghasilan menengah ke atas. Sementara Santorum menang di kawasan pedesaan dan di kalangan pekerja yang berpenghasilan di bawah 100.000 dollar AS (Rp 910 juta) per tahun.

Antusiasme para pemilih Romney pun terlihat kurang. Andy Kriner, yang memilih Romney dalam kaukus Alaska, mengaku sebenarnya tidak bersemangat memilih Romney. ”Tetapi saya lebih bersemangat memilih dia daripada Obama,” tutur dia.

Namun, saat ditanya apakah para kandidat republiken saat ini bisa mengalahkan Obama dalam pemilu 6 November nanti, Kriner menjawab, ”Kalau saya harus pasang taruhan, saya akan bilang, sangat sulit bagi siapa pun untuk mengalahkan Obama,” kata dia.

Sementara itu, Gingrich mendapat angin segar setelah menang di Georgia, negara bagian yang ia wakili di Kongres AS selama 20 tahun. Gingrich gagal menyapu bersih kawasan selatan AS setelah kalah dari Santorum di Tennessee dan Oklahoma.

Meski demikian, ia mendapat dukungan dari Sarah Palin, tokoh gerakan ultrakonservatif Tea Party yang pernah menjadi calon wakil presiden Partai Republik dalam pemilu 2008. ”Saya sangat menghargai apa yang dia perjuangkan dalam kampanye ini,” tutur Palin, setelah mengaku ia memilih Gingrich dalam kaukus di Alaska.

Palin juga menyatakan, ia tak menutup kemungkinan akan maju menjadi salah satu kandidat capres dalam Konvensi Nasional Partai Republik, akhir Agustus nanti, apabila tak satu pun dari empat kandidat saat ini terpilih sebelum itu.

(AP/AFP/Reuters/DHF)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau