Drama Pahit All England

Kompas.com - 09/03/2012, 03:07 WIB

Birmingham, Rabu - Drama kelam terjadi pada babak pertama turnamen bulu tangkis paling bergengsi All England, Inggris, Kamis (8/3). Sejumlah pemain unggulan tumbang, termasuk pemain fenomenal Denmark, Peter Gade, yang berniat mencetak hasil manis pada akhir kariernya.

Pemain berusia 35 tahun ini bahkan tak mampu menutup kekecewaannya. Pemain yang secara konsisten berada di papan atas dunia dalam kurun waktu lebih dari satu dekade ini seperti masih tak percaya dirinya tersingkir pada babak pertama. Impiannya untuk mencetak hasil manis di turnamen ini pada masa akhir kariernya pun sirna.

Gade berniat akan menyudahi sepak terjangnya di dunia bulu tangkis sebagai pemain seusai olimpiade di London. Ini artinya, penampilan di All England kali ini adalah yang terakhir. Perpisahan dengan publik di National Indoor Arena, Birmingham, ternyata tak sesuai harapan.

Ironisnya, Gade kalah pada babak pertama setelah ditaklukkan pemain nonunggulan asal Inggris, Rajiv Ouseph, 21-17, 16-21, 14-21. Ini merupakan kekalahan pertamanya dari Ouseph dari delapan kali pertemuan.

Gade bahkan sangat emosional menyikapi kekalahannya. Dia tidak cuma merasa sedih, tetapi menumpahkan kekesalan kepada pihak penyelenggara turnamen yang dinilai tidak bisa mengatur jadwal pertandingan dengan baik.

”Saya kecewa karena saya harus menunggu beberapa jam untuk bertanding. Saya pun akhirnya bermain pada pukul 02.30 dengan hasil yang mengecewakan juga,” ujar Gade.

”Pemain dengan usia seperti saya tidak akan bisa tampil bagus jika semua persiapan tidak berjalan baik. Saya sendiri sudah membuat persiapan matang untuk turnamen ini. Namun, faktanya situasi sangat tidak mendukung,” kata Gade.

Untuk tampil di turnamen ini, Gade sudah membuat pengorbanan besar. Selain tidak tampil di babak kualifikasi Piala Thomas zona Eropa, dia juga memilih absen di Jerman Terbuka pada pekan lalu. Sangat pantas jika Gade merasa terpukul. Di turnamen All England, Gade tercatat pernah menjadi juara satu kali, yakni tahun 1999.

Gade juga mempertanyakan kebijakan Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF) yang menetapkan standar pemakaian lapangan untuk babak kualifikasi hanya empat lapangan. Akibatnya, jadwal pertandingan sangat padat dan pemain harus menunggu giliran yang cukup lama.

”Kenapa BWF tidak mencontoh olahraga tenis atau golf yang bisa memakai banyak lapangan untuk babak kualifikasi. Ini lebih efisien secara waktu dan tidak merugikan atlet,” ujarnya.

BWF sendiri membuat estimasi satu pertandingan akan selesai selama 30-40 menit. Faktanya beberapa pertandingan harus memainkan tiga gim dengan waktu lebih dari satu jam. Akibatnya, banyak pertandingan molor dan beberapa di antaranya digelar sampai dini hari menjelang pagi.

Taufik kelaparan

Tidak cuma Gade yang merasa dirugikan jadwal pertandingan. Pemain Indonesia, Taufik Hidayat, bahkan sampai kelaparan menunggu pertandingan. Beruntung Taufik masih bisa menang dari pemain Guatemala, Kevin Cordon, 25-23, 21-17.

”Saya bermain dalam keadaan lapar karena harus menunggu terlalu lama. Kami harus makan tepat waktu dan kemudian harus menunggu tiga jam sebelum bertanding. Tangan saya sampai gemetaran,” kata Taufik yang pada laga selanjutnya melawan pemain China, Chen Jin.

Pukulan telak harus diterima pemain tunggal putri China, Wang Xin. Pemain nomor dua dunia ini memainkan laganya menjelang pukul 03.00 melawan pemain nonunggulan asal Korea Selatan, Sung Ji-hyun. Diduga karena kekurangan nutrisi dan kelelahan menunggu pertandingan, Wang Xin bermain buruk dan akhirnya kalah mudah dua gim langsung, 8-21, 13-21.

Pemain unggulan lain yang tumbang adalah pasangan ganda campuran asal China, Zhang Nan/ Zhao Yunlei. Unggulan pertama ini kalah dari pasangan gado-gado asal Inggris dan Skotlandia, Chris Adcock/Imogen Bankier, 21-16, 19-21, 19-21.

Namun, tumbangnya Zhang Nan/Zhao Yunlei secara tidak langsung menguntungkan buat pasangan Indonesia, Tontodi Ahmad/Liliyana Natsir, dengan mempermudah jalan mereka ke final. Tontowi/Liliyana pada babak pertama menang atas pasangan Malaysia, Ong Jian Guo/ Lim Yin Loo.

Sementara itu, pemain ganda putra Markis Kido/Hendra Setiawan melaju ke babak kedua untuk menantang pasangan Denmark, Mathias Boe/Carsten Mogensen. (AFP/OTW)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau