Pemain berusia 35 tahun ini bahkan tak mampu menutup kekecewaannya. Pemain yang secara konsisten berada di papan atas dunia dalam kurun waktu lebih dari satu dekade ini seperti masih tak percaya dirinya tersingkir pada babak pertama. Impiannya untuk mencetak hasil manis di turnamen ini pada masa akhir kariernya pun sirna.
Gade berniat akan menyudahi sepak terjangnya di dunia bulu tangkis sebagai pemain seusai olimpiade di London. Ini artinya, penampilan di All England kali ini adalah yang terakhir. Perpisahan dengan publik di National Indoor Arena, Birmingham, ternyata tak sesuai harapan.
Ironisnya, Gade kalah pada babak pertama setelah ditaklukkan pemain nonunggulan asal Inggris, Rajiv Ouseph, 21-17, 16-21, 14-21. Ini merupakan kekalahan pertamanya dari Ouseph dari delapan kali pertemuan.
Gade bahkan sangat emosional menyikapi kekalahannya. Dia tidak cuma merasa sedih, tetapi menumpahkan kekesalan kepada pihak penyelenggara turnamen yang dinilai tidak bisa mengatur jadwal pertandingan dengan baik.
”Saya kecewa karena saya harus menunggu beberapa jam untuk bertanding. Saya pun akhirnya bermain pada pukul 02.30 dengan hasil yang mengecewakan juga,” ujar Gade.
”Pemain dengan usia seperti saya tidak akan bisa tampil bagus jika semua persiapan tidak berjalan baik. Saya sendiri sudah membuat persiapan matang untuk turnamen ini. Namun, faktanya situasi sangat tidak mendukung,” kata Gade.
Untuk tampil di turnamen ini, Gade sudah membuat pengorbanan besar. Selain tidak tampil di babak kualifikasi Piala Thomas zona Eropa, dia juga memilih absen di Jerman Terbuka pada pekan lalu. Sangat pantas jika Gade merasa terpukul. Di turnamen All England, Gade tercatat pernah menjadi juara satu kali, yakni tahun 1999.
Gade juga mempertanyakan kebijakan Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF) yang menetapkan standar pemakaian lapangan untuk babak kualifikasi hanya empat lapangan. Akibatnya, jadwal pertandingan sangat padat dan pemain harus menunggu giliran yang cukup lama.
”Kenapa BWF tidak mencontoh olahraga tenis atau golf yang bisa memakai banyak lapangan untuk babak kualifikasi. Ini lebih efisien secara waktu dan tidak merugikan atlet,” ujarnya.
BWF sendiri membuat estimasi satu pertandingan akan selesai selama 30-40 menit. Faktanya beberapa pertandingan harus memainkan tiga gim dengan waktu lebih dari satu jam. Akibatnya, banyak pertandingan molor dan beberapa di antaranya digelar sampai dini hari menjelang pagi.
Tidak cuma Gade yang merasa dirugikan jadwal pertandingan. Pemain Indonesia, Taufik Hidayat, bahkan sampai kelaparan menunggu pertandingan. Beruntung Taufik masih bisa menang dari pemain Guatemala, Kevin Cordon, 25-23, 21-17.
”Saya bermain dalam keadaan lapar karena harus menunggu terlalu lama. Kami harus makan tepat waktu dan kemudian harus menunggu tiga jam sebelum bertanding. Tangan saya sampai gemetaran,” kata Taufik yang pada laga selanjutnya melawan pemain China, Chen Jin.
Pukulan telak harus diterima pemain tunggal putri China, Wang Xin. Pemain nomor dua dunia ini memainkan laganya menjelang pukul 03.00 melawan pemain nonunggulan asal Korea Selatan, Sung Ji-hyun. Diduga karena kekurangan nutrisi dan kelelahan menunggu pertandingan, Wang Xin bermain buruk dan akhirnya kalah mudah dua gim langsung, 8-21, 13-21.
Pemain unggulan lain yang tumbang adalah pasangan ganda campuran asal China, Zhang Nan/ Zhao Yunlei. Unggulan pertama ini kalah dari pasangan gado-gado asal Inggris dan Skotlandia, Chris Adcock/Imogen Bankier, 21-16, 19-21, 19-21.
Namun, tumbangnya Zhang Nan/Zhao Yunlei secara tidak langsung menguntungkan buat pasangan Indonesia, Tontodi Ahmad/Liliyana Natsir, dengan mempermudah jalan mereka ke final. Tontowi/Liliyana pada babak pertama menang atas pasangan Malaysia, Ong Jian Guo/ Lim Yin Loo.
Sementara itu, pemain ganda putra Markis Kido/Hendra Setiawan melaju ke babak kedua untuk menantang pasangan Denmark, Mathias Boe/Carsten Mogensen.