Konflik timur tengah

Israel Tewaskan14 Warga Palestina

Kompas.com - 11/03/2012, 06:04 WIB

Gaza City, Sabtu - Rangkaian serangan udara Israel menewaskan sedikitnya 14 warga Palestina, termasuk Kepala Komite Perlawanan Rakyat Zohair al-Qaisi dan rekannya, Mahmud Hanafi. Petugas medis, Sabtu (10/3), menyebutkan, rangkaian serangan Israel di wilayah perbatasan itu merupakan 24 jam yang paling mematikan dalam lebih dari tiga tahun terakhir.

Wartawan menyebutkan, serangan udara Israel ke wilayah Palestina itu merupakan salah satu pelanggaran terburuk di sepanjang perbatasan Gaza dalam beberapa bulan terakhir.

Serangan udara Israel itu dilancarkan setelah kelompok perlawanan Palestina menembakkan setidaknya 90 roket dan mortir ke wilayah selatan Israel sejak Jumat pagi yang melukai sedikitnya empat orang dan satu di antaranya luka parah. Serangan besar-besaran Israel itu berlangsung hari Jumat, tetapi salah seorang pemimpin gerakan perlawanan Palestina terbunuh di dalam mobilnya dalam serangan hari Sabtu.

Saksi mata menyebutkan, raungan suara mesin pesawat tempur Israel terdengar di dekat Gaza City sebelum mobil yang ditumpangi Zohair al-Qaisi terkena tembakan dan terbakar. Juru bicara militer Israel mengatakan, Qaisi berada di balik serangkaian tembakan dan serangan bom di dekat perbatasan Israel dengan Mesir tahun lalu. Dalam serangan tersebut, 8 warga Israel, 10 penyerang, dan 5 warga Mesir terbunuh.

Juru bicara Kelompok Perlawanan Rakyat di Gaza mengancam akan mengadakan pembalasan terhadap Israel atas rangkaian serangan udara Israel itu. ”Kami akan melakukan tindakan apa saja yang dimungkinkan untuk membalas kejahatan yang tercela itu,” kata Abu Attiya, juru bicara Kelompok Perlawanan Rakyat.

Ribuan orang yang berkabung atas tewasnya warga Palestina itu menyanyikan lagu-lagu yang berisi seruan untuk membalas tindakan Israel sambil melepaskan tembakan senjata otomatis ke udara, Sabtu.

Sekitar 1.000 orang mengambil bagian dalam upacara pemakaman Zohair al-Qaisi di Rafah di bagian selatan Gaza.

Kepala Kelompok Perlawanan Rakyat sebelumnya, Kamal al-Nairab, dan kepala militernya juga terbunuh dalam serangan udara yang sama tahun lalu.

Kuartet Timur Tengah

Serangan udara Israel serta serangan roket dan mortir Palestina itu terjadi menjelang pertemuan kuartet Timur Tengah di Kantor Pusat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), New York, Amerika Serikat.

Para pejabat tinggi Amerika Serikat, Rusia, PBB, dan Uni Eropa, Senin, akan bertemu untuk membahas upaya-upaya mengakhiri konflik Israel dan Palestina yang mengalami jalan buntu. Pertemuan itu akan menjadi pertemuan pertama dalam enam bulan terakhir.

Menurut rencana, Menteri Luar Negeri (Menlu) Hillary Clinton, Menlu Rusia Sergei Lavrov, dan Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon akan menghadiri pertemuan yang diadakan di kantor pusat PBB. Sementara Kepala Urusan Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Catherine Ashton dan Utusan Kuartet Tony Blair akan berpartisipasi melalui link video.

Hillary Clinton, Sergei Lavrov, dan Ban Ki-moon akan bergabung dalam sidang Dewan Keamanan PBB yang akan membahas tentang Musim Semi Arab.

Dibekukan

Perundingan antara Israel dan Palestina telah dibekukan sejak September 2010 dan konflik yang telah berumur beberapa dekade itu telah tertutup oleh pemberontakan yang berlangsung di negara tetangganya, Suriah. Upaya kuartet untuk menghidupkan kembali perundingan di antara kedua musuh bebuyutan itu tidak membawa hasil.

Kemarahan Palestina atas pembangunan permukiman Israel di wilayah pendudukan menjadikan Palestina mencoba untuk membawa tuntutan mereka akan suatu negara yang merdeka ke tingkat yang lebih tinggi, misalnya ke PBB.

Dalam Sidang Majelis Umum PBB, September lalu, Presiden Palestina Mahmud Abbas mengajukan permohonan untuk menjadi anggota penuh PBB. Namun, Amerika Serikat mengancam akan memveto rekomendasi Dewan Keamanan yang mengarah kepada keanggotaan penuh Palestina di PBB seperti yang diinginkan Mahmud Abbas.

Amerika Serikat dan Israel mengatakan, hanya perundingan langsung antara Isreal dan Palestina yang akan mewujudkan Palestina sebagai negara baru.

Ketika Abbas mengajukan permohonannya di PBB, negara-negara kuartet mengeluarkan inisiatif baru untuk mendesak kedua pihak yang berkonflik kembali ke perundingan serta menetapkan jadwal bagi Israel dan Palestina untuk membuat usulan tentang perbatasan dan keamanan bagi negara baru Palestina.

Namun, kontak-kontak awal di Jordania, Januari lalu, gagal mencapai kesepakatan baru bagi diadakannya perundingan langsung.

Walaupun keanggotaan penuh Palestina ditolak di PBB, Palestina sudah mendapatkan keanggotaan di UNESCO, yang merupakan salah satu badan PBB, dan Palestina mengatakan, mereka dapat mencari tempat di badan-badan internasional lain.

(AP/Reuters/jl)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau