Kekerasan

Parlemen Afganistan Tuntut Pengadilan Terbuka

Kompas.com - 12/03/2012, 19:43 WIB

KOMPAS.com - Insiden penembakan oleh prajurit Amerika Serikat (AS) kemarin berbuntut panjang. Pasalnya, parlemen Afganistan menuntut adanya pengadilan terbuka alias di muka publik. Lokasi pengadilan itu pun mesti di Afganistan.

"Kami serius menuntut dan mengharapkan bahwa pemerintah Amerika Serikat menghukum pelaku dan mengadilinya di pengadilan terbuka di hadapan rakyat Afganistan," kata majelis rendah parlemen dalam sebuah pernyataan sebagaimana warta AP dan AFP pada Senin (12/3/2012).
   
Sebagaimana warta sebelumnya, seorang prajurit Amerika Serikat berjalan dari markasnya menggunakan senjata lengkap dan peralatan penglihatan malam menerobos masuk tiga rumah di sebuah desa sebelum fajar, Minggu (11/3/2012). Kejadian itu menewaskan 16 orang termasuk perempuan dan anak-anak, menurut sumber-sumber Barat dan Afganistan.
   
Sementara itu, parlemen tersebut mengutuk pembunuhan itu sebagai brutal dan tidak manusiawi. "Orang kehabisan kesabaran atas kebodohan pasukan asing," kata parlemen.
   
Atas kejadian itu, Presiden Barack Obama menelepon Presiden Afganistan Hamid Karzai dan berjanji melakukan penyelidikan cepat terkait peristiwa pembunuhan itu.
   
Kekerasan pada Minggu itu mengancam persekutuan Amerika Serikat- Afganistan, di saat kedua negara melakukan perundingan sulit untuk mengamankan pakta strategis mengatur kemitraan mereka pascapasukan perang asing meninggalkan Afganistan pada 2014.
   
"Ketika orang Afganistan dibunuh dengan sengaja oleh pasukan Amerika Serikat, tindakan ini adalah pembunuhan dan teror dan tindakan tak termaafkan," kata Karzai.

 
 

 
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau