Kedua tangan Putu Marmar Herayukti (29), warga Banjar Gemeh, Kota Denpasar, Bali, pun sibuk mengutak-atik tangan patung Ganesha besar yang masih setengah jadi dari bahan styrofoam
Ya, setiap menjelang hari raya Nyepi bagi umat Hindu, termasuk untuk 23 Maret mendatang, sejumlah pemuda di setiap banjar di Pulau Dewata sibuk membuat patung buta (raksasa) berukuran besar. Patung itu biasanya berbahan baku styrofoam atau rangkaian bambu karena ringan dan perkembangannya dikreasikan dengan lampu-lampu serta terkadang divariasikan agar bisa berputar di beberapa bagian badan butanya untuk lebih menarik. Patung itu disebut ogoh-ogoh.
Pemuda-pemuda itu mengerjakannya secara gotong royong dan sukarela seusai sekolah atau kuliah. Bahkan, tidak sedikit dari mereka rela mengerjakannya mulai petang sampai dini hari. ”Ya, kami senang dan bangga jika bisa membuat sendiri ogoh-ogoh ini. Kami bisa tidur di sini sampai pagi, lalu pulang untuk siap-siap sekolah. Orang tua kami sudah maklum untuk ini,” kata I Gede Arya Sanjaya (25), sambil membantu Marmar.
I Ketut Alit Wijaya (22), pemuda Denpasar lainnya, justru kewalahan menerima pesanan ogoh-ogoh berukuran kecil berbahan dasar spons. Selain membantu membuat di banjarnya sendiri, Wijaya juga menilai hal ini menjadi peluang mendapatkan tambahan uang kuliah. Ia memiliki modal kreativitas dari kuliahnya di Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar.
Bersama saudaranya yang masih SMA, Kompyang Gde Aditya Dharma Putra (15), Wijaya pun berkreasi dan sekitar 65 ogoh-ogoh kecil dihasilkan dalam berbagai bentuk dan tema. Harga yang ditawarkan pun mulai Rp 25.000 per unit hingga Rp 650.000 per unit (ukuran tinggi maksimal ogoh-ogoh kecil sekitar satu meter). Total keuntungan yang dihasilkan pun bisa mencapai
Bengkel ogoh-ogoh paling populer berada di Sanggar Seni Gases, Denpasar. Wayan Candra (57), ahli pembuat ogoh-ogoh raksasa tersebut, pun tak pernah sepi pesanan, baik hanya bagian kepala maupun utuh seluruh badan dari tahun ke tahun dengan harga mulai Rp 200.000 hingga jutaan rupiah per bagian badan ogoh-ogoh.
Pesanan pun bisa datang dari warga Bali sendiri hingga umat Hindu yang tinggal di mancanegara. Sanggar Seni Gases pula yang terkenal pertama memperkenalkan ogoh-ogoh untuk diarak keliling desa sebagai pengiring obor dan kentungan pada malam menjelang hari penyepian bagi umat Hindu.
Soal harga, satu ogoh-ogoh ini bisa merogoh dompet hingga puluhan juta rupiah. Bahkan, semakin kreatif dan bervariatif ogoh-ogoh, baik bentuk maupun penampilannya, semakin mahal pula rupiah yang bakal dibayar. Seperti ogoh-ogoh yang bertema Ganapati Duta yang tengah dikerjakan Marmar dan teman- temannya menghabiskan dana sekitar Rp 12 juta. Mengapa bisa mahal?
”Ya, ogoh-ogoh setinggi tiga meter ini bakal bisa berputar di bagian teratai yang menjadi dasar perhiasannya. Selain itu, ada lampu-lampu di beberapa bagian Ganesha-nya, seperti mahkota, dan beberapa bagian lainnya. Ini bagian dari kreativitas dan kami serius mengerjakannya. Ini menjadi kebanggaan kami karena bakal diarak keliling desa...,” jelas Marmar.
Baik Candra, Marmar, maupun pemuda lainnya yang membuat ogoh-ogoh ini memang tak sembarangan dalam pembuatannya. Soal tema pun mereka siapkan benar-benar dari awal sebelum pengerjaannya. Segala referensi pun dicari dari kekawin hingga referensi pewayangan. Belakangan, tema pewayangan pun bergeser ke isu-isu yang tengah tren saat itu. Patung pun bisa bertemakan korupsi atau mafia pajak, seperti Gayus dan tokoh-tokoh kartun.
Namun, ada beberapa banjar yang tidak memperkenankan pemudanya membuat ogoh-ogoh. Pasalnya, ada beberapa ogoh-ogoh pernah hidup dan menakuti warga (semacam kerasukan).
Menurut Candra, ogoh-ogoh bisa saja hidup jika badannya kosong terbuat dari rangkaian bambu. Ini menjadikan peluang kerasukan. Jika terbuat dari bahan padat, peluang kerasukan pun kecil. Makanya, ogoh-ogoh pun tetap di beri sesaji dan didoakan sebelum diarak keliling agar tetap aman.
Pedanda Ida Pedanda Subali Tianyar menjelaskan, tradisi membuat kemudian mengarak ogoh-ogoh sebenarnya tidak ada hubungan dengan Nyepi. Pasalnya hanya mengarak obor dan membunyikan kentungan serta menggelar upacara Caru (pembersihan) kecil di masing-masing rumah.
Obor itu sudah menjadi simbol kejahatan yang selanjutnya harus dipadamkan seusai diarak sebagai tanpa mulainya caturbratha penyepian. Caturbratha penyepian adalah berpuasa bekerja (amati karya), tidak menyalakan api atau listrik (amati geni), tidak mencari hiburan (amati lelanguan), dan berpuasa bepergian (amati lelungan).
Kebiasaan pun bergeser tidak hanya di persoalan tema, membakar ogoh-ogoh seusai diarak pun hampir berkurang. Tak sedikit hotel atau perseorangan tertarik untuk mengoleksi dan membeli sebagai barang bernilai seni yang pantas dipamerkan. Karena itu, Marmar dan teman-temannya ataupun Wijaya serta saudaranya begitu bangga dengan kreasi mereka melalui ogoh-ogoh.(Ayu Sulistyowati)