Pilkada dki

Fauzi Kantongi Tiket Pilkada

Kompas.com - 18/03/2012, 02:43 WIB

jakarta, kompas - Kepastian Fauzi Bowo maju lagi sebagai calon gubernur pada Pilkada DKI Jakarta akhirnya diperoleh setelah Majelis Tinggi Partai Demokrat, yang mempunyai 32 kursi di DPRD DKI, memutuskan untuk mendukung Fauzi yang berpasangan dengan Adang Ruchiatna sebagai calon gubernur-wakil gubernur DKI Jakarta.

Keputusan itu disampaikan Ketua Umum Partai Demokrat (PD) Anas Urbaningrum di sela-sela acara panen raya padi di Desa Pancawati, Kecamatan Ciawi, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (17/3). ”Majelis Tinggi kemarin malam memutuskan bahwa yang didukung Partai Demokrat calon gubernurnya Pak Fauzi Bowo dan calon wakil gubernurnya Pak Adang Ruchiatna,” katanya.

Fauzi dipilih karena, berdasarkan survei yang dilakukan sejumlah lembaga, popularitas dan elektabilitasnya masih cukup tinggi. Jika tidak ada sesuatu atau kejadian luar biasa, Anas yakin popularitas Fauzi tetap tinggi.

”Kalau popularitasnya stabil, Fauzi akan kembali terpilih untuk periode kedua,” ujar Anas.

Peta politik di DPRD DKI saat ini, hanya PD dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang bisa langsung mengusung pasangan calon gubernur-wakil gubernur. Persyaratan minimal adalah 15 kursi, dan PKS memiliki 18 kursi.

Sebelumnya Partai Amanat Nasional, yang memiliki 4 kursi di DPRD DKI, menyatakan dukungan terhadap Fauzi Bowo sebagai calon gubernur DKI.

Sementara Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), yang mengantongi 11 kursi DPRD DKI, masih menimbang Wali Kota Solo Joko Widodo sebagai calon gubernur DKI Jakarta dan sedang mencari sosok pendamping pria yang akrab dipanggil Jokowi tersebut.

Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri menegaskan, sebelum ada rekomendasi resmi dari partai, itu berarti belum ada pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta yang diusung PDI-P.

”Kami punya mekanisme dan aturan yang jelas,” kata Megawati di Lombok, Nusa Tenggara Barat, Sabtu.

”Sampai Sabtu sore ini, DPP PDI-P masih rapat menginventarisasi nama-nama yang mampu memperkuat figur Jokowi,” tutur Sekretaris Jenderal PDI-P Tjahjo Kumolo.

Sebelumnya Partai Gerindra, yang memiliki 6 kursi di DPRD DKI, menyodorkan nama Basuki Cahaya Purnama, mantan Bupati Belitung Timur nan sukses, sebagai pendamping Jokowi. Tentang pria yang akrab dipanggil Ahok ini, baik Trimedya maupun Tjahjo mengatakan, DPP PDI-P belum memutuskan.

”Kami masih menghitung dampak Jokowi disandingkan dengan Ahok,” kata Tjahjo.

Ahok, yang dihubungi kemarin, mengaku pasrah. ”Memang saya diusulkan Partai Gerindra, tetapi kan tergantung PDI-P. Kalau PDI-P memilih Jokowi, belum tentu saya menjadi pasangan Jokowi meski kami dalam satu pertemuan merasa sudah ketemu chemistry-nya satu sama lain,” ucap Ahok.

Tergantung PKS

Dua pengamat politik, Andrinof Chaniago dari UI dan Doktor Siti Zuhro dari LIPI, berpendapat, dalam Pilkada DKI kali ini, figur yang bisa menandingi Fauzi Bowo cuma Jokowi.

Menurut kedua pengamat, calon dari Partai Golkar, Alex Noerdin yang dipasangkan dengan Nono Sampono tingkat elektabilitas dan popularitasnya jauh di bawah Jokowi.

”Pilkada bukan cuma soal profil atau sosok calon, melainkan mesin-mesin politik yang mampu mendekatkan calon dengan pemilihnya. Mengandalkan dukungan warga DKI secara individual masih sulit untuk saat ini,” kata Chaniago.

Yang harus menutup kelemahan sosok Jokowi adalah parpol pendukungnya. Ia berpendapat, satu-satunya parpol yang bisa diandalkan jadi mesin politik mememenangi pertarungan Pilkada DKI adalah PKS.

”Jadi idealnya, ada koalisi PKS-PDI-P dan kawan-kawan mengusung Jokowi dan pasangannya,” kata Chaniago.

Sementara itu, PKS hingga Sabtu malam masih melakukan pembahasan. PKS sebelumnya memilih Triwisaksana sebagai calon gubernur. ”Masih dalam pembahasan Dewan Pimpinan Pusat,” ujar Ketua Dewan Pimpinan Wilayah PKS DKI Jakarta Slamet Nurdin, kemarin. (NEL/WIN/NTA/NWO)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau