Tontowi/liliyana

Harapan Penjaga Tradisi di Olimpiade

Kompas.com - 20/03/2012, 02:20 WIB

OLEH GATOT WIDAKDO

Hanya dalam sepekan, pebulu tangkis ganda campuran Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir meraih dua gelar juara. Setelah pekan lalu menjuarai turnamen bergengsi All England, akhir pekan ini mereka menjadi yang terbaik di Grand Prix Gold Swiss Terbuka. 

Hasil ini menggembirakan sekaligus membanggakan di tengah terpuruknya prestasi olahraga Indonesia. Mereka bisa menjadi harapan sebagai penjaga tradisi meraih medali emas di Olimpiade London pertengahan tahun ini.

Bagi Tontowi/Liliyana, akan menjadi sejarah jika mereka mampu juara di olimpiade. Mereka akan menjadi pemain ganda campuran Indonesia pertama yang meraih medali emas. Sejak olahraga bulu tangkis dipertandingkan di olimpiade pada tahun 1992 di Barcelona, medali emas disumbang dari nomor tunggal putra dan putri serta ganda putra.

Tradisi emas dimulai dari Alan Budi Kusuma dan Susy Susanti yang juara di Olimpiade Barcelona tahun 1992; ganda putra Ricky Subagja/Rexy Mainaky di Atlanta (1996); ganda putra lewat pasangan Tony Gunawan/Candra Wijaya di Sydney, Australia (2000); pemain tunggal putra Taufik Hidayat di Athena, Yunani (2004); terakhir pemain ganda putra Markis Kido/Hendra Setiawan yang menyumbang emas untuk Indonesia di Olimpiade Beijing, China, 2008.

Mencermati penampilan Tontowi/Liliyana, pasangan yang belum genap dua tahun main bersama ini punya kapasitas untuk menjadi juara olimpiade. Keberhasilan mereka menjuarai All England merupakan momentum yang pas serta menjadi lompatan besar dan catatan sejarah buat mereka. Kemenangan ini bak penghapus dahaga gelar yang sudah tidak dinikmati pemain Indonesia sejak tahun 2003 pada ajang bergengsi yang sudah berusia 102 tahun tersebut.

Bahkan, untuk di nomor ganda campuran, Tontowi/Liliyana merupakan pasangan pertama yang menjadi juara sejak tahun 1979. Artinya, setelah pasangan Christian Hadinata/Imelda Wiguna juara pada 33 tahun silam, baru Tontowi/Liliyana yang melanjutkan.

Prestisius

Gelar juara di All England hampir sama prestisusnya dengan menjadi juara olimpiade. Di olahraga tepok bulu, All England punya gengsi yang sangat tinggi. Jika dibandingkan dengan olahraga tenis, All England seperti Wimbledon, turnamen yang memiliki karisma dengan tradisi dan sejarah yang panjang.

Itu sebabnya buat pebulu tangkis dunia, prestasi mereka seakan tak lengkap jika belum mampu menjuarai turnamen All England. Hal ini pula yang dirasakan Taufik Hidayat dan pasangan Markis Kido/Hendra Setiawan. Meski sudah menjadi juara dunia, Asian Games dan Olimpiade, mereka tak pernah mencicipi gelar All England.

Ironisnya, pada saat mereka masih berupaya memenuhi rasa penasaran, justru Tontowi/Liliyana tampil sebagai juara pada final pertama mereka. Kemenangan di Swiss, Minggu (18/3) lalu, menjadi penegas bahwa mereka layak diperhitungkan.

Meroketnya prestasi Tontowi/Liliyana sebenarnya tidak diperkirakan bakal secepat ini. Pelatih Richard Mainaky mengatakan, tidak mudah menyatukan pemain berbeda latar belakang itu.

Liliyana merupakan salah satu pemain senior di pelatnas Cipayung. Anak bungsu dari pasangan Beno Natsir dan Olly Maramis itu sejak duduk di sekolah dasar sudah bergabung dengan klub bulu tangkis Pisok, Manado. Pada 1997, saat berusia 12 tahun, Liliyana diterima masuk di PB Tangkas, Jakarta.

Sebelum main bareng dengan Tontowi, Liliyana pernah bermain di nomor ganda putri di samping ganda campuran. Di ganda putri, pemain kelahiran Manado, Sulawesi Utara, itu pernah bermain bersama Eny Erlangga dan Vita Marissa. Sejumlah gelar didapat dari nomor ganda putri ini, seperti juara SEA Games, China Masters, dan Indonesia Open.

Adapun di ganda campuran, Liliyana pernah berpasangan dengan Markis Kido dan Nova Widianto. Bersama Kido, mereka menjuarai Kejuaraan Asia Yunior (2002). Sementara bersama Nova, prestasinya lebih tinggi lagi. Selain juara di beberapa turnamen super series, Liliyana/Nova juga menjadi juara dunia (2005 dan 2007) serta meraih medali perak di Olimpiade Beijing.

Sementara di All England, keberuntungan belum didapat karena dari dua kali tembus ke final (2008 dan 2010), mereka selalu gagal juara. Perjalanan Liliyana/Nova pun selesai akhir tahun 2010 setelah pengurus Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) tidak memperpanjang kontrak Nova Widianto di pelatnas karena usianya sudah 33 tahun.

Tantowi Ahmad

Di sisi lain, Tontowi merupakan salah satu pemain yunior di pelatnas Cipayung. Pemain asal klub PB Djarum Kudus ini masih menjadi pemain pelapis buat seniornya. Tontowi pernah dicoba main ganda putra bersama Muhammad Rijal. Namun, kiprahnya di ganda putra cuma sebentar karena akhirnya dia difokuskan untuk main di ganda campuran.

Pemain kelahiran Banyumas ini kemudian dipasangkan dengan Shendy Puspa dan meraih gelar di GP Vietnam tahun 2008. Namun, kiprahnya dengan Shendy tak berlangsung lama karena dia kemudian dipasangkan dengan Richi Puspita Dili. Nama Tontowi belum juga bersinar karena tak ada gelar prestisius yang diraihnya.

Di tengah situasi seperti itu, Liliyana dan Tontowi kemudian dipersatukan. Namun, buat Tontowi, mendapat tandem yang sarat pengalaman seperti Liliyana bukan perkara mudah. Dia sering kali merasa minder dan tak percaya diri.

”Bagaimana tidak minder, Liliyana itu juara dunia dan dia pemain senior. Namun, untungnya situasi ini bisa saya atasi. Liliyana juga banyak membantu memotivasi saya,” kata Tontowi.

Liliyana juga mengaku awalnya tidak mudah ketika dipersatukan dengan Tontowi. ”Dia itu kurang percaya diri. Namun, saya bisa memahami karena sebenarnya situasi yang dia alami hampir sama ketika saya harus dipasangkan dengan Nova,” ujarnya.

Komunikasi yang baik ini pula yang akhirnya membuat adaptasi mereka menjadi cepat. Tontowi perlahan bisa mengimbangi permainan Liliyana. Hasilnya, pada tahun pertama mereka mampu membuat kejutan dengan tampil sebagai juara di GP Indonesia Open 2010, India Super Series 2011, dan Singapura Open 2011. Tahun ini mereka lebih mencengangkan dengan tampil sebagai juara di All England dan Swiss Open.

Hasil ini semestinya menjadi modal yang bagus menuju olimpiade. Sekarang tinggal bagaimana mereka menjaga konsistensi permainan. Perjuangan mempertahankan tradisi emas olimpiade kini berada di pundak mereka. Saat ini keduanya merupakan pemain Indonesia dengan peringkat dunia tertinggi, yaitu peringkat empat dunia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau