Pilkada dki

6 Pasang Calon Maju Bertarung

Kompas.com - 20/03/2012, 07:20 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Enam pasang calon akan maju bertarung memperebutkan posisi Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta 2012-2017. Tiga partai besar di Jakarta tidak membangun koalisi dan mengajukan kadernya masing-masing untuk memperebutkan posisi strategis tersebut.

Partai Demokrat yang sebelumnya mengajak Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan untuk berkoalisi mengusung pasangan Fauzi Bowo-Adang Ruchiatna akhirnya mendaftarkan pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli, Senin (19/3) malam.

Keputusan itu diambil setelah PDI-P mendaftarkan kadernya, Joko Widodo, yang berpasangan dengan Basuki Tjahaja Purnama yang berkoalisi dengan Partai Gerakan Indonesia Raya, sore hari.

Partai Keadilan Sejahtera yang sebelumnya banyak diperkirakan akan berkoalisi dengan Partai Demokrat mengusung duet Fauzi-Triwisaksana pada detik-detik terakhir juga mendaftarkan kadernya, Hidayat Nur Wahid, yang berpasangan dengan Didik J Rachbini.

Dengan demikian, hingga penutupan pendaftaran pukul 24.00, ada enam pasang yang mendaftar dalam Pilkada DKI 11 Juli 2012. Empat pasang dari jalur partai politik dan dua pasang dari jalur perseorangan.

Calon dari parpol lainnya adalah Alex Noerdin-Nono Sampono yang diusung Partai Golkar, Partai Persatuan Pembangunan, dan Partai Damai Sejahtera. Pasangan ini mendaftar hari Minggu.

Sementara itu, dua pasang dari jalur perseorangan adalah pasangan Faisal Basri-Biem Benjamin dan Hendardji Soepandji-A Riza Patria.

Keenam pasang ini apabila nantinya lolos verifikasi akan memperebutkan sekitar 7,5 juta suara pemilih.

Fauzi-Nachrowi
Pencalonan Fauzi-Nachrowi terjadi pada detik-detik terakhir pendaftaran karena dua hari sebelumnya, Sabtu, Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum menyatakan bahwa keputusan Majelis Tinggi Partai Demokrat mengusung Fauzi Bowo dengan Adang Ruchiatna, anggota DPR dari PDI-P.

Menanggapi perubahan itu, Anas mengatakan bahwa politik itu dinamis dan ada faktor jodoh juga.

Jokowi-Ahok
PDI-P dan Gerindra akhirnya mengusung pasangan Wali Kota Solo Joko Widodo, atau biasa disapa Jokowi, dengan mantan Bupati Belitung Timur Basuki Tjahaja Purnama, biasa disapa Ahok.

Sebelumnya, sempat berkembang juga opsi untuk menduetkan Jokowi dengan aktor kawakan Deddy Mizwar. Namun, keputusan akhir dari kedua partai itu memutuskan Jokowi-Ahok.

”Saya memilih Pak Basuki karena kami sama-sama muda. Kami ingin membawa perubahan dan perbaikan bagi Jakarta,” ujar Jokowi seusai pemberian berkas.

Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto juga hadir mendampingi.

Hidayat-Didik
Sekretaris Jenderal PKS Anis Matta mengungkapkan, pasangan Hidayat Nur Wahid-Didik J Rachbini yang diajukan PKS merupakan pasangan yang paling pas. ”PKS percaya bisa memenangi Pilkada DKI karena telah berhasil memenangkan tiga kader seniornya untuk memimpin provinsi, di Jawa Barat, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat dengan total populasi sekitar 60 juta penduduk,” ujarnya.
(Clara Wresti/Sri Rejeki/Anita Yossihara/Sonya Hellen Sinombor/Windoro Adi)

SELENGKAPNYA BACA KOMPAS CETAK SELASA INI

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau