Stasiun Bogor Kalahkan Jakarta

Kompas.com - 22/03/2012, 04:47 WIB

BOGOR, KOMPAS - Kapasitas Stasiun Bogor akan meningkat dua kali lipat. Kementerian Perhubungan akan menambah delapan jalur rel. Saat ini, Stasiun Bogor sudah memiliki delapan jalur untuk lalu lintas kereta rel listrik Bogor-Depok-Jakarta serta kereta rel diesel Bogor-Sukabumi. Dengan demikian, total akan ada 16 jalur kereta.

Delapan jalur baru itu, masing-masing sepanjang 300 meter, akan diarahkan ke sisi barat stasiun.

Menurut Wakil Kepala Stasiun Bogor FS Budiman, Rabu (21/3), pengerjaan proyek itu sepenuhnya ditangani Kementerian Perhubungan. Pengerjaannya diperkirakan selesai tahun 2013.

Selain membangun infrastruktur rel, proyek ini juga perlu memasang sistem persinyalan dan jaringan listrik tegangan atas.

”Kalau sudah selesai, Stasiun Bogor akan memiliki jalur lebih banyak dibandingkan dengan Stasiun Jakarta Kota dan Stasiun Manggarai yang masing-masing punya sekitar 12 jalur,” tutur Budiman.

Dampak positif dari penambahan jalur ini akan terlihat dari penambahan kapasitas rangkaian kereta rel listrik dari awalnya 12 rangkaian menjadi 20 rangkaian.

Hal ini juga untuk mengantisipasi penambahan jumlah rangkaian kereta rel listrik yang dibeli dari Jepang. Selain itu, frekuensi perjalanan kereta bisa ditingkatkan. Jeda antar-perjalanan kereta yang sekarang ini sekitar 10 menit bisa menjadi setidaknya 7 menit.

Dengan begitu, pelayanan terhadap penumpang Stasiun Bogor yang berjumlah sekitar 35.000 orang per hari pun bisa ditingkatkan.

Meski demikian, selain berdampak positif, kebijakan itu juga berpotensi membuat pekerja komuter sulit menitipkan kendaraan karena jalur baru akan memanfaatkan lahan penitipan kendaraan.

Saat ini, lahan untuk jalur baru itu disewakan kepada 14 penyedia jasa penitipan kendaraan dengan kapasitas tampung 3.000 sepeda motor dan 250 mobil. ”Namun, kontrak sewa lahan itu akan habis per 31 Maret dan kami tidak akan perpanjang dengan adanya rencana ini,” kata Budiman.

Menurut dia, pihaknya sudah memfasilitasi sosialisasi rencana itu kepada penyewa sekaligus pedagang dan memberikan tenggat hingga 28 Mei bagi mereka untuk mengosongkan lahan.

Direncanakan mulai 1 Juni, material untuk pengerjaan delapan jalur baru itu sudah akan dimasukkan ke lokasi.

Namun, beberapa penyewa lahan parkir di sisi barat stasiun mengaku belum mengetahui akan direlokasi ke mana.

Anwar (20), penjaga salah satu penitipan sepeda motor, memprediksi pekerja yang kerap menitipkan sepeda motor akan kesulitan jika lahan parkir itu ditutup tanpa ada solusi relokasi. Saat ini di satu lokasi parkir saja setidaknya ada 300-350 sepeda motor titipan.

”Kalau hanya mengandalkan penitipan di luar stasiun, tetap tidak akan bisa menampung, apalagi jumlahnya terus naik,” katanya.

Terkait dengan hal itu, Kepala Stasiun Bogor Eman Sulaeman mengatakan, pihaknya sudah meminta bantuan Pemerintah Kota Bogor untuk mengatasinya karena hal itu tidak bisa hanya diselesaikan pengelola Stasiun Bogor.

”Pemerintah Kota Bogor masih memikirkan,” ujar Eman.

Selain itu, dia juga berharap ada antisipasi lain selain penitipan kendaraan, yakni soal pelintasan sebidang di tengah kota.

Pemerintah pun diharapkan bisa membuat jembatan layang atau terowongan untuk pelintasan sebidang tersebut guna menghindari kemacetan sekaligus meminimalkan potensi kecelakaan. (GAL)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau