TENGGARONG SEBERANG, KOMPAS
Manajer Persidafon Dafonsoro Iwan Nazaruddin tidak menduga timnya dapat menuai kemenangan di kandang Mitra Kukar karena bertanding tanpa diperkuat lima pemain inti, termasuk Patrick Wanggai, Izaak Wanggai, Izaak Ogoai, Fernando Cirelli, dan Zico.
”Mungkin karena pemain lapis kedua kami yang turun, mereka jadi termotivasi. Mitra Kukar terbebani untuk menang, sedangkan kami bermain tanpa beban,” ujar Iwan.
Sejak awal babak pertama, Mitra Kukar menguasai pertandingan dengan memanfaatkan kekuatan lini tengah dan depan. Banyak peluang tercipta, tetapi gagal dimanfaatkan para penyerang Mitra Kukar, termasuk Marcus Bent, yang pernah bermain di Liga Primer Inggris.
Strategi bertahan Persidafon berhasil membuat stres para penyerang tim berjuluk ”Naga Mekes” ini. Serangan Mitra Kukar kerap kali kandas karena jeleknya penyelesaian dan permainan gemilang kiper Selsius Gebze.
Terlalu fokus untuk mencetak gol, Mitra Kukar malah kebobolan. Penyerang bertubuh mungil Persidafon, Ferinando Pahabol, mencetak gol pada menit ke-54 lewat aksi individunya sebelum menendang bola melewati kiper Joyce Sorongan. Gol itu buah serangan balik nan cepat.
Setelah ketinggalan, Mitra Kukar terus meningkatkan tekanan. Beberapa kali gawang Persidafon terancam, seperti lewat tendangan keras Marcus Bent pada menit ke-56 yang berhasil ditepis Gebze dan tendangan bebas Nemanja Obric yang melambung di atas mistar. Keunggulan 1-0 ini akhirnya bertahan hingga peluit berbunyi dan laga bubar.
Pelatih Mitra Kukar Simon McMenemy mengaku kecewa dengan kekalahan di kandang ini. Para pemain Mitra Kukar sejak awal pertandingan gagal menembus Persidafon yang bermain bertahan.
”Kami memiliki banyak peluang, tetapi gagal mengeksekusi. Sangat sulit menerima hasil ini. Jelas keberuntungan bukan di pihak kami,” ujar Simon.
Sesudah menggelar kongres luar biasa, pengurus PSSI versi Komite Penyelamat Sepak Bola Indonesia (KPSI) menyerahkan hasil KLB kepada KONI Pusat. La Nyalla Mattalitti meminta KONI memverifikasi keabsahan KLB yang digelarnya.
La Nyalla mengklaim PSSI bentukannya adalah PSSI yang sah. Namun, La Nyalla menyerahkan kepada KONI untuk menentukan keabsahannya.
Ketua KONI Tono Suratman mengatakan, pihaknya menyerahkan konflik PSSI kepada Badan Arbitrase Olahraga Indonesia (BAORI) untuk memverifikasi keabsahan KLB PSSI versi KPSI. BAORI juga diharapkan dapat menyelesaikan konflik antara PSSI pimpinan Djohar Arifin Husin dan PSSI versi KPSI.
PSSI juga akan memanggil pengurus PSSI yang dipimpin Djohar Arifin untuk membicarakan penyelesaian masalah ini. Djohar diharapkan memenuhi panggilan KONI, induk olahraga di Indonesia.
Namun, saat ditanya apakah KONI akan memberikan legitimasi pada salah satu PSSI yang dimenangi BAORI, Tono tidak dapat memberikan jawaban yang pasti.