Suu Kyi Diinfus karena Sakit

Kompas.com - 26/03/2012, 02:31 WIB

MYEIK, MINGGU - Sepekan menjelang digelarnya proses pemilihan umum sela di Myanmar, tokoh oposisi sekaligus pejuang demokrasi negeri itu, Aung San Suu Kyi, Minggu (25/3), dilaporkan sakit sampai harus diinfus dan harus beristirahat total.

Suu Kyi terpaksa menghentikan jadwal kampanye untuk kemudian beristirahat total dan menjalani perawatan di salah satu kota di sebelah selatan Myanmar, Myeik, tempat seharusnya dia berkampanye.

Puluhan ribu pendukung datang memadati kota itu. Suu Kyi menyempatkan diri tampil sebentar di depan para pendukungnya untuk meminta mereka memilih partai politiknya, Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD). ”Saya berusaha untuk tetap sehat,” ujarnya.

Suu Kyi dipastikan sangat kelelahan akibat jadwal kampanye yang sangat panjang dan ketat. Diperkirakan dalam waktu dekat dia akan kembali ke Yangon dan menghentikan aktivitas kampanye jarak jauh. ”Menurut nasihat dokter keluarga, Tin Myo Win, dia harus beristirahat di rumah dan diharapkan tidak perlu lagi bepergian jauh,” ujar wakil pejabat informasi NLD, Kyi Toe.

Lebih lanjut, tambah Toe, kondisi itu berdampak pada rencana kampanye terakhir Suu Kyi selanjutnya di kota kelahiran ayahnya yang juga pahlawan Myanmar di Kota Magway, kawasan tengah Myanmar, Selasa besok.

Sebelumnya Suu Kyi dilaporkan pertama kali merasa tidak enak badan pada hari Sabtu (24/3). Perahu yang dia tumpangi terjebak gunungan pasir dangkal selama beberapa jam.

Saat itu Suu Kyi dalam perjalanan kampanye ke kawasan selatan Myanmar melalui jalur sungai. Menurut dokter pribadi, Suu Kyi saat itu muntah-muntah dan tekanan darahnya sangat rendah. Beberapa waktu sebelumnya Suu Kyi dilaporkan jatuh sakit bersamaan dengan padatnya jadwal kampanye di beberapa tempat di Myanmar.

Intimidasi pemilu

Pemilihan umum sela 1 April mendatang dinilai banyak kalangan bakal menjadi salah satu parameter penting dalam melihat keseriusan pemerintah negeri itu mereformasi diri.

Dalam pemilu sela tersebut Suu Kyi maju mencalonkan diri dengan diusung NLD untuk memperebutkan 48 kursi di parlemen.

Pada pemilu tahun 1990 Suu Kyi dan NLD menang telak walaupun sang pemenang Hadiah Nobel Perdamaian itu berstatus tahanan rumah. Akan tetapi, kemenangan telak tadi dianulir pemerintahan junta militer yang memang sangat berkuasa.

Kemudian pada tahun 2010, Myanmar kembali menggelar pemilu. Kecurangan kembali dicurigai marak terjadi, apalagi ketika militer beramai-ramai ”mengganti baju” mereka dan mendirikan partai politik.

Ketika mereka yang telah ”berganti baju” menjadi sipil tadi maju mencalonkan diri, otoritas pemilu malah menetapkan aturan yang mengganjal NLD, Suu Kyi, dan para tokoh oposisi lain untuk maju dalam pemilu.

Akibatnya bisa dipastikan kelompok status quo kembali menang dan kemudian mengklaim pembentukan pemerintahan sipil, yang banyak diragukan termasuk oleh dunia internasional.

Kecurangan dan intimidasi diyakini marak terjadi, apalagi saat itu Myanmar juga menutup diri dari kehadiran para pemantau asing.

Suu Kyi dan NLD akhirnya memboikot pemilu lantaran tidak yakin prosesnya bisa berlangsung bebas dan adil.

Dalam pemilu sela 1 April mendatang, Suu Kyi yang kembali maju mencalonkan diri bersama NLD diyakini bakal kembali memperoleh kemenangan besar.

Akan tetapi, tidak sedikit pula yang meragukan kemenangan itu bakal berpengaruh banyak mengingat jumlah kursi yang diperebutkan tidak terlalu signifikan jika dibandingkan kepemilikan kursi mayoritas pemerintahan Myanmar saat ini di parlemen.

Menjelang hari militer

Sementara itu di tempat terpisah, dua ledakan bom terjadi di lapangan golf Hotel Regina di Tachilek, sebuah kota dekat perbatasan dengan Thailand.

Saat itu tengah digelar turnamen golf menjelang peringatan hari jadi Angkatan Bersenjata Myanmar pekan depan.

Bom pertama meledak hari Minggu, sekitar pukul 07.00 waktu setempat, disusul ledakan kedua satu jam kemudian.

Bom kedua melukai dua orang aparat yang tengah menyisir lokasi mencari kemungkinan adanya bom lain.

Dalam beberapa tahun terakhir Myanmar beberapa kali diguncang bom, kebanyakan berdaya ledak kecil.

Pemerintah kerap menyalahkan sejumlah kelompok perlawanan etnis minoritas sebagai pihak yang bertanggung jawab. Pelaku sesungguhnya tak pernah diketahui jelas. (AFP/DWA)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau