Hari Ini Ada Unjuk Rasa Besar

Kompas.com - 27/03/2012, 01:42 WIB

Jakarta, Kompas - Unjuk rasa anti-kenaikan harga bahan bakar minyak yang melibatkan massa dalam jumlah besar terjadi di sejumlah tempat di Indonesia, Senin (26/3). Unjuk rasa besar diperkirakan akan terjadi lagi Selasa ini dan akan terus berlanjut sampai Kamis.

Kemarin dari Seoul, Korea Selatan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menginstruksikan jajaran terkait untuk mengantisipasi unjuk rasa besar-besaran yang diperkirakan terjadi Selasa ini. ”Polisi disiagakan penuh, sementara TNI sekarang standby on call,” kata Juru Bicara Kepresidenan Julian Aldrin Pasha di Seoul, Senin.

Menurut dia, Presiden menyadari, di alam demokrasi saat ini, unjuk rasa untuk menyampaikan aspirasi merupakan keniscayaan. Meski demikian, Presiden meminta unjuk rasa dijaga dalam batas kepatutan dan menghindari tindakan anarkistis.

Sejauh ini, menurut dia, kepolisian dipandang paling tepat untuk menjaga unjuk rasa massa dengan tetap berkoordinasi dengan pihak lain, termasuk TNI.

Kepolisian Daerah Metro Jaya memperkirakan ada sekitar 8.000 orang yang akan berunjuk rasa pada Selasa ini. Kegiatan unjuk rasa akan terpusat di tiga titik, yakni di depan Istana Merdeka/Monas, Bundaran HI, dan depan Gedung MPR/DPR/DPD.

Menurut Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto, dari pemberitahuan yang masuk ke Polda Metro Jaya sampai Senin siang, akan ada belasan kelompok yang melaksanakan unjuk rasa. ”Dari pemberitahuan para koordinator lapangan, kami prediksikan yang akan berunjuk rasa sekitar 8.000 orang,” katanya.

Pihak kepolisian menyiagakan 1.000 anggota tim gabungan dari Polri dan TNI untuk pengamanan Bandara Internasional Soekarno-Hatta terkait aksi besar-besaran menolak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), Selasa. Jumlah itu belum termasuk 1.800 petugas pengamanan bagian dalam yang berjaga di dua pintu masuk dan terminal-terminal.

”Petugas dari Polri dan TNI akan menjaga dua pintu masuk, baik Pintu M1 dari arah belakang bandara (Kota Tangerang) maupun Pintu Sedyatmo dari jalan tol. Sementara petugas pengamanan dalam akan membantu menjaga dua pintu masuk dan terminal-terminal,” kata Sekretaris Perusahaan PT Angkasa Pura II Hari Cahyono kepada pers, Senin.

Unjuk rasa massa yang tergabung dalam Kongres Rakyat Sumatera Utara mengepung Bandara Internasional Polonia di Medan, Sumatera Utara, Senin, selama tiga jam (pukul 14.00 sampai 17.00), mengakibatkan aktivitas di bandara terganggu. Ribuan penumpang pesawat tidak bisa masuk dan keluar bandara melalui pintu utama.

Sejumlah pesawat terpaksa ditunda keberangkatannya. Satu pesawat, yakni Batavia Air YG 593 Jakarta-Medan yang dijadwalkan tiba di Polonia pukul 15.15, terpaksa mendarat di Pekanbaru.

Hingga Senin pukul 17.00, berdasarkan informasi di layar kantor Officer In Charge (OIC) Bandara Polonia, Medan, terdapat tujuh penerbangan yang belum berangkat sejak pukul 15.35 hingga pukul 17.00. Sebelumnya, dua penerbangan, yakni Lion Air JT 387 Medan-Jakarta terlambat 30 menit dan JT 399 Medan-Jakarta terlambat 40 menit.

Namun, Kepala Cabang PT Angkasa Pura II Bram Baroto Tjiptadi mengatakan, semua penerbangan berjalan normal. ”Jika ada penumpang yang terlambat dialihkan ke penerbangan berikutnya,” tutur Bram. Hanya satu penerbangan, yakni Batavia Air, yang mendarat di Pekanbaru.

Blokade pengunjuk rasa mau tak mau membuat suasana bandara semrawut. Bandara seperti menjadi markas perang. Tenda komando didirikan di lahan bandara, sementara kendaraan barakuda berseliweran.

Sejumlah maskapai juga mengantar dan menjemput penumpang dari ujung landasan di Jalan Starban, Medan. Pegawai Bandara Polonia pun tidak bisa pulang menunggu blokade massa berakhir.

Di Sulawesi Selatan, ribuan mahasiswa dari sejumlah kampus perguruan tinggi mengepung Kota Makassar. Mereka memblokade Jalan AP Petta Rani setelah menyandera truk kontainer. Mereka juga berunjuk rasa di stasiun pengisian bahan bakar untuk umum (SPBU) yang ada di Jalan Rappocini Raya yang bersimpangan dengan Jalan AP Petta Rani. Aksi tersebut membuat arus lalu lintas di Jalan AP Petta Rani macet total dan SPBU di Jalan Rappocini Raya tutup sementara waktu.

Aksi mahasiswa anti-kenaikan harga BBM, kemarin, juga terjadi di Bogor, Bandung, Pontianak (Kalimantan Barat), Samarinda (Kalimantan Timur), Kudus (Jawa Tengah), Denpasar, dan kota-kota lain. Di Gresik, Jawa Timur, aksi dilancarkan oleh Solidaritas Perjuangan Buruh Indonesia-Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia Gresik.

Di Denpasar, Bali, kemarin mahasiswa menggelar panggung rakyat di depan Kampus Universitas Udayana, Denpasar.

Di Cirebon, Jawa Barat, mahasiswa membawa spanduk besar yang berisi tuntutan agar Presiden mundur. Aksi tersebut membuat arus lalu lintas Cirebon-Indramayu tersendat selama hampir dua jam. Mahasiswa juga membakar ban di tengah jalan.

Di Probolinggo, Jawa Timur, ribuan orang dari partai dan ormas, seperti Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Gerindra, dan Nasional Demokrat, turun ke jalan.

Ketua MPR Taufiq Kiemas di Jakarta menegaskan, peraturan perundangan mengizinkan unjuk rasa, termasuk untuk menolak rencana kenaikan harga BBM bersubsidi. Yang penting, unjuk rasa tersebut tidak anarkistis dan sopan.

(PIN/RTS/ODY/ILO/JON/ACI/APO/ELD/HEN/AHA/MHF/WSI/REK/DEN/ACI/NIK/MKN/DIA/NWO/WHY/REK/DEN/ACI/MKN/DIA)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau