Teroka

Mobil dan Nasionalisme

Kompas.com - 27/03/2012, 02:32 WIB

HERI PRIYATMOKO

Hingga detik ini, SUV Kiat Esemka masih saja menjadi perbincangan. Ia merupakan produk anak muda SMK yang luar biasa kreatif. Sejumlah pihak juga memberikan apresiasi terhadap tindakan Wali Kota Jokowi yang menjadikan mobil bercat hitam itu sebagai tunggangan dinas.

Fenomena sejarah mobil di Indonesia memang lekat dengan kekuasaan. Sebut saja, mobil Timor yang dulu lekat dengan keluarga Cendana. Solo tempo doeloe juga pernah menyimpan cerita mobil dan berkaitan erat dengan Paku Buwono X (1893-1939), raja yang baru saja mendapat gelar pahlawan nasional.

Hasil pencatatan De Ingeniur, seperti yang dikutip Rudolf Mrazek (2006), di kurun 1939 di Hindia Belanda terhitung ada 51.615 mobil. Tentu saja sebagian besar kendaraan roda empat di tanah jajahan itu dimiliki toewan-toewan kulit putih; dan masyarakat bumiputera lebih cenderung berada di belakang kemudi alias jadi sopir saja.

Dalam hal kebijakan politik serta keamanan, boleh saja ”bapa” tuan residen Surakarta tersenyum tanda kemenangan karena posisinya satu tingkat di atas Paku Buwono X. Akan tetapi, kalau bicara soal kepemilikan mobil, pembesar Belanda itu secara jantan mengakui kekalahannya. Raja yang dijuluki ”Kaisar Jawa” itu adalah orang pertama yang punya mobil di kota yang memperoleh sebutan ”surganya Hindia Belanda” ini dan peringkat kedua di seluruh Nusantara setelah John C Potter, Konsul Swiss di Batavia periode 1893.

Kereta setan

Paku Buwono X memilih bermain di wilayah simbol. Sejarah menulis, pabrik mobil pertama kali didirikan oleh Karl Benz dan Gotlieb pada 1885. Dua tahun sebelum Amerika mampu menciptakan mobil buatan sendiri, tepatnya 1896, Sunan pada 1894 atau persis setahun pasca-penobatannya ternyata sudah membeli mobil dengan merogoh koceknya sendiri. Bentuk mobil ”Benz-auto” ini mirip andong dan kala itu sukses membuat masyarakat didera rasa heran. Lantas mereka menyebutnya ”kereta setan”, jalaran iso mlaku tanpo ditarik jaran (karena bisa berjalan tanpa ditarik kuda), seperti kereta-kereta yang lazim dipakai mengangkut bangsawan dan orang Eropa untuk bepergian saat itu.

Permulaan abad XX, di Solo merebak virus yang bernama ”kemajoean”. Seperti halnya virus modernisasi dewasa ini, penduduk kelas menengah pada masa silam memaknainya dengan bermacam-macam tindakan. Misalnya, aksi priayi dan Tionghoa memangkas rambutnya menjadi pendek, mengenakan pakaian ala Barat, memberantas buta aksara, menghapus laku ndodok oleh Gusti Mangkunegara, dan memakai mobil demi mempercepat perjalanan keluar (tedhak) oleh Paku Buwono X. Dengan mobil, Susuhunan berharap bisa mengejar dan barangkali bahkan melewati kemajuan itu sendiri.

Sebuah foto hitam putih dalam buku John Pemberton (2003) dengan terang memperlihatkan raja terbesar di istana Kasunanan ini tampak begitu gembira sewaktu melakukan kunjungan ke desa-desa di Jawa Tengah dengan naik mobil pribadi. Apalagi di sebelahnya bercokol beberapa pembesar Belanda yang turut mengawasi kegiatan Sunan. Tindakannya itu juga makin mengobarkan semangat nasionalisme orang pribumi serta menguatkan tali hubungan dan kepatuhan pejabat daerah terhadap raja.

Sebatas impian

Masih dalam rangka lawatan politik, Serat Kembang Wijaya Kusuma mendokumentasikan kisah perjalanan Paku Buwono X bersama permaisurinya naik mobil ke Batavia. Suatu saat, pengawalnya mengira mobil yang ditumpangi Sunan menabrak trem listrik. Namun, berkat kepiawaian sopirnya, Sunan selamat.

Sekembalinya ke keraton, sopir tadi naik pangkat menjadi mantri dan diberi nama Atmomaruto oleh Paku Buwono X. Kata ”atmo” berarti anak dan ”maruto” artinya angin. Pemberian nama baru ini bukan tanpa maksud. Nama itu dianugerahkan atas dasar kebolehannya menjalankan mobil yang bisa melaju seperti anak angin.

Meski kisah historis ini telah lewat satu abad, kendaraan roda empat hingga kini masih saja menjadi simbol ekonomi yang mewah. Masyarakat level bawah tentu sulit ikut memesan SUV Kiat Esemka. Mereka hanya bisa mendukung serta berharap pejabat negeri dan golongan berduit memanfaatkan karya anak bangsa. Lebih jauh lagi, mengapresiasi dengan cara memakai produk lokal ialah cermin dari sikap nasionalisme. Mengapa tidak didukung?

HERI PRIYATMOKO Mahasiswa Pascasarjana Sejarah FIB, UGM

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau