Kesetiaan Del Piero...

Kompas.com - 28/03/2012, 03:36 WIB

Dalam sejarah sepak bola modern, tak banyak pemain penyerang yang berdedikasi tinggi untuk jangka waktu lama kepada sebuah klub. Wajarlah bila Alessandro Del Piero punya tempat istimewa di publik sepak bola Italia. Kariernya yang panjang bersama Juventus menunjukkan kesetiaannya kepada klub ”Nyonya Besar” itu.

Gol Del Piero yang ikut menentukan kemenangan Juventus atas seteru beratnya, Inter Milan, di Liga Italia Serie A, Minggu (25/3), membuktikan penyerang yang kini berusia 37 tahun itu masih tetap produktif.

Del Piero yang dibangkucadangkan oleh Pelatih Juve Antonio Conte baru diturunkan pada menit ke-53. Saat itu kedudukan masih 0-0. Kehadirannya langsung membuat Juve kian hidup sehingga klub itu kemudian unggul lebih dulu melalui gol pemain asal Uruguay, Martin Caceres. Del Piero menyempurnakannya dengan gol kedua, 19 menit sebelum berakhirnya babak kedua.

”Del Piero berhak atas segalanya. Dia telah menunjukkan dirinya seorang profesional yang luarbiasa. Dia menerima peran (cadangan) ini tanpa memunculkan sebuah kontroversi dan sekarang dia mendapatkan imbalannya,” ungkap penjaga gawang veteran yang kini kembali memperkuat Juve, Gianluigi Buffon.

Del Piero sosok yang sangat setia dengan Juve. Dia telah bergabung dengan klub raksasa kota Turin itu sejak 1993. Ia tidak pernah ”berpaling ke lain hati” meski pada masa puncaknya banyak klub besar menawari uang lebih besar.

Dia ingat bagaimana Padova, klub awal Del Piero, menyelesaikan urusan kepindahannya ke Juve dalam 24 jam. ”Harus cepat karena Fiorentina, dan khususnya AC Milan, juga menginginkan saya. Belakangan saya tahu, Juve ingin menarik saya sejak 1988 saat saya berusia 14 tahun,” tulis Del Piero di situs pribadinya.

Meski selalu setia bersama Juve, striker senior yang telah mengoleksi 317 gol itu masih belum tahu masa depannya di Juve. Pasalnya, tahun lalu Juve mengumumkan bahwa musim ini kemungkinan yang terakhir bagi Del Piero.

”Sekarang bukanlah waktunya untuk suatu kontroversi,” ungkap pesepak bola yang pernah dianugerahi Penghargaan Kaki Emas pada 2007 dan beberapa kali terpilih sebagai Pemain Terbaik Italia itu.

Termotivasi kakak

Del Piero, yang lahir di Conegliano, Italia, 9 November 1974, adalah putra seorang tukang listrik, Gino. Ibunya, Bruna, adalah ibu rumah tangga. Sejak kecil dia senang bermain bola di belakang halaman rumahnya bersama dua kawannya. Del Piero pun terus bermimpi untuk bisa menjadi pesepak bola profesional.

Del Piero termotivasi bermain bola karena kakaknya, Stefano, juga sempat menjadi pesepak bola profesional untuk Sampdoria, meski kariernya pendek karena mengalami cedera berat.

Sejak usia tujuh tahun, Del Piero sudah bermain untuk tim anak-anak klub San Vedimiano. Ketika itu, dia malah lebih sering bermain sebagai kiper. Stefano-lah yang kemudian meminta Del Piero yang menjadi penyerang setelah melihat bakat tersembunyi adiknya itu.

Bakat Del Piero yang kemudian terlihat oleh beberapa pemandu bakat, kemudian membawa ke berlabuh di klub Padova Calcio pada usia 13 tahun. Dia pun meninggalkan kedua orangtuanya untuk pergi di kota Padova, yang berjarak 77 kilometer dari kota San Vedimiano.

”Itu perjalanan jauh sekali. Sekarang jika saya mengingat kembali, saya menyadari, 77 kilometer itu jarak sesungguhnya antara saya yang bukan lagi anak-anak dan saya yang akan dewasa. Selalu saja mengikuti bola. Bola juga tak pernah meninggalkan saya sendiri,” ujar Del Piero di situs pribadinya.

Del Piero harus naik turun kereta api untuk sampai Padova. ”Buat saya itu seperti pergi ke dunia lain, tetapi itu benar- benar sesuatu yang besar karena menjadi simbol pemisahan,” ungkapnya.

Ketika pertama kali datang ke markas Juventus, Del Piero langsung dibawa Presiden Juventus Giampiero Boniperti, ke tempat khusus penyimpanan berbagai trofi yang pernah dimenangi Juve.

Dia juga ingat kiprah pertamanya bersama Juve, yaitu pada 12 September 1993. Ketika itu Del Piero diturunkan pada menit ke-74, menggantikan Fabrizio Ravanelli, pada laga Liga Serie A melawan Foggia. ”Tujuh hari setelah itu, saya mencetak gol pertama dengan mengenakan baju hitam putih pada partai melawan Reggina, tepat pada HUT perkawinan orangtua saya,” ujarnya.

Kecintaannya yang dalam terhadap bola, yang tumbuh sejak kecil, tidak pernah hilang sampai sekarang. ”Saya tidak bisa mengingat ada satu pun kawan yang begitu terobsesi dengan sepak bola sehingga tidak bisa melakukan apa-apa tanpa itu dan tidak bisa memikirkan yang lainnya. Mungkin hanya kakak saya, Stefano, yang seperti saya,” tulis Del Piero dalam profil pribadinya.

Sepanjang kariernya di Juve yang akan memasuki 20 tahun, Del Piero memang telah mencapai hampir segalanya. Dia pernah menjadi pemain nomor satu di Italia dan juga di dunia.

Selain prestasi dan hal-hal manis, Del Piero pun pernah merasakan sedih ketika dia harus beristirahat karena cedera. Pada 8 November 1988, ketika laga melawan Udinese hampir usai, Del Piero memaksakan diri mengejar bola di depan gawang lawan. Bola tak terkejar dan Del Piero cedera otot kaki kiri sehingga harus dioperasi. Pencinta Juve juga masih ingat, saat Juve turun kasta ke Serie B karena skandal pengaturan skor, Del Piero juga setia di ”Nyonya Besar”.

Desas-desus menyebutkan Del Piero kemungkinan akan pensiun setelah berlabuh di klub AS. Namun, Del Piero sendiri terlalu berat untuk berpisah dengan Juventus. (Reuters/OKI)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau