KUWAIT CITY, RABU - Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon, Rabu (28/3), di Kuwait City, Kuwait, memuji Emir negara kaya minyak itu. Ini dikarenakan pemimpin negara itu, yang pernah diinvasi Irak pada era Saddam Hussein, akan turut menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi Liga Arab di Baghdad, Irak, Kamis (29/3).
Ini juga sekaligus menjadi pertanda perbaikan hubungan Irak dan Kuwait, yang pernah membuat AS balik menginvasi Irak tahun 1990. Ini sehubungan dengan perlindungan oleh AS terhadap Kuwait, yang menghadapi ancaman dari Irak.
Emir Kuwait, Sheikh Sabah al-Ahmad al-Sabah, mendarat di Baghdad, Kamis. Ini adalah kunjungan pertama seorang kepala negara Kuwait di Baghdad sejak invasi Irak ke Kuwait pada Agustus 1990.
Sebaliknya, Sekjen PBB juga berharap sisi Irak memberikan sambutan positif kepada Emir Kuwait. ”Saya meminta Irak memenuhi kewajibannya soal Kuwait, terkait orang yang hilang, kekayaan properti Kuwait, kompensasi, sekaligus penentuan tegas soal perbatasan,” kata Ban Ki-moon.
Saat diinvasi pada tahun 1990, banyak warga Kuwait yang tewas dan juga banyak terjadi kerusakan properti.
Hal unik lain dari pertemuan ini adalah kehadiran Presiden Sudan Omar al-Bashir pada KTT Liga Arab. Presiden Sudan telah dinyatakan sebagai orang yang dicari oleh Mahkamah Kriminal Internasional (International Criminal Court/ICC) tahun 2009. Ini terkait dengan tuduhan pembantaian warga Sudan selatan, yang sudah memisahkan diri.
Namun, Presiden Sudan tetap menisbikan keinginan ICC soal penangkapannya untuk diadili di Den Haag, Belanda, atas semua kejahatan yang dituduhkan. ”Presiden Bashir telah meninggalkan Khartoum menuju Baghdad, memimpin delegasi negara ke KTT Liga Arab,” demikian Radio Omdurman, milik negara Sudan, Rabu (28/3).
Presiden Irak Jalal Talabani sudah mengumumkan pada hari Minggu lalu bahwa pemimpin Sudan turut menghadiri KTT. Irak bukan termasuk negara yang meratifikasi Rome Statute, yang menjadi dasar berdirinya ICC. Dengan demikian, Irak tidak berkewajiban menyerahkan Presiden Sudah ke ICC.
KTT Liga Arab beranggotakan 22 negara itu juga bertemu pertama di Baghdad, sejak 1990.
Dalam pertemuan pendahuluan Liga Arab, khususnya tingkat menteri, pembantaian terhadap aktivis di Suriah menjadi topik pembahasan. Namun, para anggota Liga Arab tidak sependapat soal isu Suriah. Intinya, Liga Arab meminta Suriah menghentikan pembantaian terhadap para aktivis.
Namun, sejak dini Suriah sudah mengatakan tidak akan peduli dengan tekanan dan suara dari Liga Arab, di mana Suriah juga menjadi anggota. Jubir Kementerian Luar Negeri Suriah, Jihad Makdessi, mengatakan, Suriah tidak akan terikat dengan apa pun yang akan diputuskan oleh 22 negara anggota. Sementara itu dalam perkembangan di Suriah, sebanyak 40 aktivis demokrasi diberitakan tewas di tangan aparat pemerintah dalam awal pekan ini saja.