Giliran Pengusaha Hongkong Diajak Bangun Rusun

Kompas.com - 30/03/2012, 16:57 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Perumahan Rakyat (Menpera) Djan Faridz mengajak pengusaha Hongkong yang tergabung dalam Hong Kong Infrastructure Development and Real Estate untuk ikut membangun rumah susun (rusun) dan memberikan masukan tentang desain pembangunan kota baru di Indonesia. Keikutsertaan para pengusaha asing itu diharapkan dapat meningkatkan investasi di sektor pembangunan perumahan dan kawasan permukiman di Indonesia.

"Para pengusaha yang bergerak di bidang infrastruktur dan realestat di Hongkong ini memiliki banyak pengalaman dalam pembangunan serta penataan hunian secara vertikal. Karena itu, saya mengajak mereka ikut berinvestasi dalam pembangunan rumah susun serta kota-kota baru di Indonesia," ujar Menpera Djan Faridz, saat menerima kunjungan audiensi Chief Executive Hong Kong Infrastructure Development And Real Estate Mr. HO On Sing Thomas yang memimpin 10 orang delegasi di Kantor Kemenpera, Jakarta, Jumat (30/3/2012).

Menpera mengatakan, pembangunan rumah susun di perkotaan merupakan salah satu program Kemenpera. Menurutnya, jika banyak masyarakat tinggal di hunian vertikal tersebut, secara tidak langsung akan mengurangi mobilitas masyarakat sehingga mengurangi kemacetan lalu lintas di jalan raya.

Sementara dalam pengembangan kota-kota baru seperti Kota Maja, imbuh Djan Faridz, akan terus dilakukan supaya kegiatan perekonomian serta kawasan permukiman tidak hanya terfokus di Ibukota Jakarta. Saat ini, setidaknya Indonesia juga telah mendapatkan bantuan pinjaman lunak dari Jepang untuk pembuatan desain kota dan infrastruktur di Kota Maja.

"Ibukota Jakarta, Medan, Surabaya dan Bandung sudah terlalu padat untuk perumahan masyarakat. Oleh karena itu kami berupaya agar tanah di Kemayoran yang luasnya sekitar 300 hektare bisa dimanfaatkan untuk pembangunan rusun untuk masyarakat berpenghasilan rendah," tandasnya.

Menpera memperkirakan hunian vertikal tersebut dapat menampung sekitar 500.000 orang lebih masyarakat yang belum memiliki rumah layak huni. Selain itu, Kemenpera juga tengah mengupayakan penataan kawasan kumuh di sepanjang Kali Ciliwung agar mereka juga bisa dipindahkan ke rusun yang akan dibangun tidak jauh dari Stasiun Manggarai.

"Upaya untuk mengubah kebiasaan masyarakat Indonesia agar lebih suka tinggal di rusun ketimbang di rumah tapak memang tidak mudah, karena budayanya memang berbeda dengan negara asing lainnya. Namun, kami tidak akan menyerah dan akan terus menggandeng masyarakat dan pemerintah daerah untuk mendorong pembangunan rusun di daerah," katanya.

Sementara itu, Chief Executive Hong Kong Infrastructure Development and Real Estate, HO On Sing Thomas, menyatakan, pihaknya sangat tertarik dengan tawaran investasi dari Menpera ini. Ia mengatakan, pangsa pasar hunian vertikal di Indonesia memang cukup besar dan dapat meningkatkan hubungan antar dua negara.

"Kami tertarik dengan paparan dari Menpera tentang kondisi serta kebutuhan masyarakat akan perumahan di Indonesia. Tentunya, tawaran membangun rusun serta desain konsep pembangunan wilayah dan kota baru ini sangat baik dan kami telah memiliki pengalaman untuk membangun kota besar seperti Hongkong saat ini," tuturnya.

HO On Sing, yang juga menjabat sebagai President Hongkong Construction Association mengungkapkan, salah satu hal penting perlu diperhatikan dalam pembangunan rusun antara lain harus dekat dengan sarana transportasi serta tempat kerja. Jika hal itu dapat diwujudkan, masalah kemacetan tentu akan dapat teratasi dengan baik.

"Kami akan membantu (Kemenpera) mendesain pembangunan perumahan bagi masyarakat," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau