Muenchen Tatap Madrid

Kompas.com - 05/04/2012, 04:27 WIB

Muenchen,Rabu - Klub Jerman, Bayern Muenchen, berkonsentrasi untuk menghadapi klub raksasa Spanyol, Real Madrid, di semifinal Liga Champions. ”The Bavarians” ke empat besar setelah mengalahkan tim tamu wakil Perancis, Olympique Marseille, 2-0, Selasa (3/4).

Dua gol tuan rumah diborong oleh Ivica Olic. Dengan demikian, Muenchen unggul agregat 4-0 karena pada pertandingan pertama di markas Marseille juga menang 2-0.

Madrid menjadi kandidat kuat lawan mereka di semifinal. Juara Eropa sembilan kali itu mengukir kemenangan 3-0 di markas lawannya, APOEL Nicosia, di pertandingan pertama babak perempat final. Saat berita ini diturunkan, giliran Madrid yang menjamu APOEL.

Pelatih Muenchen Jupp Heynckes cukup yakin timnya bakal melawan Madrid. Alasannya, terlalu sulit bagi APOEL untuk meraih hasil positif di Stadion Santiago Bernabeu.

”Jadi, kami siap menghadapi Madrid. Ini akan menjadi laga semifinal yang atraktif. Dari segi sejarah, kami lebih bagus jika bertemu mereka di Liga Champions,” kata Heynckes.

Pada ajang Liga Champions, Bayern Muenchen empat kali berhadapan dengan Real Madrid di semifinal, yakni tahun 1976, 1987, 2000, dan 2001. Dari empat pertemuan itu, Muenchen tiga kali menang. Itu sebabnya, pendukung Madrid menjuluki Muenchen dengan sebutan ”The Bestia Negra” atau Black Beast atau ”Binatang Hitam nan Mengerikan”.

Heynckes dan pasukannya berharap rekor positif ini terus berlanjut, apalagi pada laga semifinal. Menurut dia, tim yang menang berpeluang menjadi juara.

”Madrid lawan yang hebat. Namun, kami juga punya kekuatan dan tim kami lapar gelar. Kami juga butuh sedikit keberuntungan untuk mengalahkan mereka,” ujar Heynckes.

Terakhir kali Bayern Muenchen menjadi juara Liga Champions pada tahun 2001. Uniknya, ketika itu Muenchen menghabisi Madrid pada babak semifinal, baik dalam laga tandang maupun kandang. Sukses tahun 2001 itu mengulangi kejayaan mereka tahun 1987 dan 1976.

Musim ini bukan mustahil bagi Muenchen untuk kembali mengulangi kejayaan mereka. Muenchen mengalami kebangkitan setelah menjalani masa sulit pada awal kompetisi.

Dalam delapan pertandingan di semua ajang kompetisi, Muenchen belum terkalahkan. Mereka kini membuka peluang untuk meraih tiga gelar dalam satu musim. Selain Liga Champions, mereka dalam jalur persaingan untuk merebut gelar di Liga Jerman dan Piala Jerman.

Di Liga Jerman, mereka kini menempel pemimpin klasemen, Borussia Dortmund, dengan selisih tiga poin. Sementara di Piala Jerman mereka meraih satu tiket di final dan bersaing lagi dengan Dortmund.

Direktur Bayern Muenchen Karl-Heinz Rummenigge optimistis timnya bisa menyabet tiga gelar itu sekaligus. Jika Muenchen dapat melakukannya, akan menjadi sejarah bagi sepak bola Jerman. Muenchen akan menjadi klub pertama yang meraih treble alias tiga gelar.

”Kami akan menghadapi pertandingan berat tiap tiga atau empat hari ke depan. Kami siap menghadapi itu,” kata Rummenigge, yang juga anggota tim peraih Liga Champions tahun 1976.

Namun, Muenchen juga harus memperhatikan faktor Pelatih Jose Mourinho. Muenchen boleh punya rekor bagus atas Madrid, tetapi dengan Mourinho mereka pernah terpaksa menelan pil pahit.

Pengalaman buruk Muenchen dengan Mourinho terjadi di final Liga Champions tahun 2010. Saat itu, Mourinho yang menukangi klub Italia, Inter Milan, menghancurkan asa mereka meraih gelar kelima Liga Champions. Ketika itu, mereka tersungkur 0-2 di final.

Rekor Barcelona

Sementara itu, kemenangan 3-1 Barcelona atas AC Milan mengantarkan mereka ke semifinal. Barca secara keseluruhan unggul agregat 3-1 setelah pada laga pertama bermain imbang 0-0 di Stadion San Siro, Milan.

Dua dari tiga gol Barcelona berasal dari eksekusi penalti pemain brilian Lionel Messi. Satu gol lainnya berasal dari Andres Iniesta.

Kesuksesan Barca menembus final memecahkan sejumlah rekor. Barca menjadi tim pertama setelah Real Madrid era 1960-an yang dapat mencapai semifinal lima kali beruntun.

Hal yang fenomenal adalah Lionel Messi. Golnya ke gawang Milan menyejajarkan dengan koleksi gol Raul Gonzalez, Ruud van Nistelrooy, dan Thierry Henry di ajang Eropa.

Messi bahkan melampaui rekor mereka dengan selisih satu angka, yakni 51 gol. Bahkan, Messi juga menyamai rekor Jose Altafini, pemain AC Milan, dengan 14 gol dalam satu musim kompetisi Eropa musim 1962/1963.

(REUTERS/AFP/OTW)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau