Tunggu Saja "Reshuffle"

Kompas.com - 07/04/2012, 05:02 WIB

Jakarta, Kompas - Reshuffle atau pergantian menteri merupakan hak prerogatif Presiden. Maka, ada atau tidak reshuffle tergantung kepada Presiden. ”Tunggu saja,” kata Menteri Sosial Salim Segaf Al’Jufrie, yang kader Partai Keadilan Sejahtera, Kamis (5/4), di halaman Istana Negara.

Isu pergantian menteri muncul menyusul perbedaan sikap Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dengan sikap lima partai koalisi lainnya pada Sidang Paripurna DPR dalam rencana penaikan harga bahan bakar minyak, akhir bulan lalu.

Dalam pertemuan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan para pemimpin partai koalisi, beberapa hari lalu di Cikeas, Jawa Barat, petinggi PKS pun tidak ada yang datang.

Dalam penerbangan dari Phnom Penh, Kamboja, menuju Jakarta, Rabu lalu, Sekretaris Kabinet Dipo Alam mengatakan, tunggu saja tanggal mainnya reshuffle.

Menurut Salim, dirinya belum mendengar ada reshuffle. Ia mengingatkan, pergantian kabinet merupakan wewenang Presiden. Sebagai menteri, ia juga tetap memiliki kebijakan yang sejalan dengan Presiden.

Ada tiga kader PKS yang duduk di jajaran kabinet. Selain Salim, mereka adalah Suswono (Menteri Pertanian) serta Tifatul Sembiring (Menteri Komunikasi dan Informatika).

Memang, kata Ketua DPP Partai Kebangkitan Bangsa Ahmad Helmy Faishal Zaini serta Ketua DPP Partai Amanat Nasional Bima Arya Sugiarto, keberadaan PKS dalam koalisi menunggu keputusan Yudhoyono. Keputusan itu diharapkan tidak lama karena bisa menciptakan ketidakpastian yang berpengaruh buruk pada pemerintahan.

Pimpinan partai anggota koalisi menilai, PKS dianggap telah melanggar code of conduct (tata etika) koalisi. ”Ibarat naik perahu bersama, kita harus sama-sama memercayai nakhoda. Jangan ada yang membocorkan perahu. Menyempal dari kesepakatan bersama itu sama dengan membocorkan kapal,” katanya.

Namun, Bima Arya Sugiarto berharap, partai-partai pendukung koalisi tidak saling menyerang atau menekan anggota koalisi yang lain. Itu akan menciptakan iklim yang kurang kondusif. Namun, kepastian akan keberadaan PKS dalam koalisi juga sebaiknya segera diambil dalam waktu dekat ini.

”Jika tak ada keputusan yang diambil segera, akan muncul ketidakpastian politik. Itu akan mengganggu kinerja pemerintahan, khususnya tiga kementerian yang dipercayakan kepada PKS,” katanya.

Secara terpisah, PKS menyesalkan sikap parpol anggota Sekretariat Gabungan (Setgab) koalisi. Menurut Wakil Sekjen PKS Mahfudz Siddiq, isu Setgab koalisi diminta untuk mengeluarkan PKS dari koalisi merupakan isu elitis. ”Isu itu justru tidak penting bagi rakyat,” katanya. Yang terpenting bagi rakyat bukan masalah koalisi, melainkan pemenuhan hak serta kesejahteraan.

Juru Bicara Kepresidenan Julian Aldrin Pasha mengatakan, ”Apa yang disampaikan masing- masing parpol pendukung di koalisi itu merupakan pandangan mereka. Namun, koalisi masih tetap kecuali ada pernyataan resmi Presiden.”

(IAM/NTA/ATO/WHY)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau