Kekerasan

Geng Motor Serang 4 Remaja

Kompas.com - 08/04/2012, 01:47 WIB

Jakarta, Kompas - Gerombolan pria bersepeda motor menyerang empat remaja yang sedang mengisi bensin di stasiun pengisian bahan bakar umum di Jalan Danau Sunter Selatan, Jakarta Utara, Sabtu (7/4) dini hari. Gerombolan itu memukul keempat remaja itu bertubi-tubi dan melukai dengan golok.

Soleh (16), salah satu remaja yang diserang gerombolan itu, tewas. Tiga temannya, Zaenal (19), Ardian (19), dan Reza (16), cedera ringan hingga luka bacok di sejumlah bagian tubuh.

Penyerangan seperti itu adalah kejadian yang kedua di Jakarta dalam sepekan terakhir. Jumat lalu, segerombolan pria bersepeda motor menyerang Rahmad Gunawan hingga tewas, di Kebayoran Lama, Jakarta.

Reza, yang terkena luka bacok di pundak dan kaki kirinya, menuturkan, penyerangan itu terjadi setelah dia dan ketiga kawannya pulang dari nonton balapan liar di kawasan Jalan Benyamin Sueb, Kemayoran. Penyerangan terjadi setelah mereka yang saling berboncengan dengan dua sepeda motor itu memasuki kawasan Sunter.

Menurut Reza, mereka tidak memacu sepeda motor dengan kencang karena salah satu sepeda motor yang ditumpangi kehabisan bensin sehingga harus dituntun beberapa ratus meter.

”Sampai di SPBU, lalu isi bensin. Saat sedang mengisi bensin itu kami diserang,” tuturnya.

Reza memperkirakan, penyerangnya 30 orang dan berboncengan sepeda motor.

”Saya tidak kenal satu pun dari mereka,” ucap Reza.

Selain dihajar, Reza mengaku tubuhnya juga diseret gerombolan itu hingga beberapa puluh meter. Kemudian dia dibawa berkeliling ke kawasan Warakas, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Setelah itu, dia dikembalikan lagi di SPBU tempat dia diserang.

Seorang kawannya, Soleh, tewas seketika setelah dihajar. Dua kawan lainnya, Zaenal dan Ardian, berhasil melarikan diri setelah sempat dihajar.

Deddy (43), ayah Reza, menuturkan, saat Reza pulang ke rumah, tubuhnya berlumuran darah. ”Sekitar pukul 03.00 dia sampai di rumah, saya langsung bawa ke RSUD Koja,” ujarnya.

Setelah satu jam Reza dirawat di Unit Gawat Darurat RSUD Koja, menurut Deddy, Zaenal tiba di rumah sakit itu diantar sopir taksi, dan dia terkena luka bacok di beberapa bagian tubuhnya. Sementara Ardian hanya cedera ringan.

Belum tahu penyebab

Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Polres Jakarta Utara Ajun Komisaris Besar Didi Hayamansyah mengatakan masih belum tahu penyebab penyerangan tersebut. ”Kami menduga pelaku penyerangan itu juga sekelompok anak muda dan belum tentu geng motor,” paparnya.

Psikolog forensik Reza Indragiri Amriel mengatakan, bisa jadi gerombolan itu menyerang secara impulsif, tanpa perencanaan, tanpa sasaran tertentu, dan tanpa motif tertentu. Ciri itu biasa muncul pada geng untuk membentuk identitasnya. ”Sebagai geng, mereka butuh identitas, tapi tidak punya kemampuan ekstra untuk membangun identitas positif,” jelasnya.

(MDN/FRO)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau