Krisis korea

Korut Bersiap Uji Coba Nuklir Ketiga

Kompas.com - 09/04/2012, 04:28 WIB

SEOUL, MINGGU - Korea Utara diyakini bakal menggelar uji coba nuklir pascarencana peluncuran roket jarak jauh mereka yang belakangan memicu kontroversi.

Jika jadi, uji coba nuklir itu akan menjadi yang ketiga setelah di tahun 2006 dan 2009 Negeri Komunis tersebut menggelar hal serupa.

Menurut sumber yang dikutip kantor berita Korea Selatan, Yonhap, Minggu (8/4), sebuah hasil pencitraan satelit termutakhir mengarah ke kesimpulan tersebut.

”Korut tampak tengah menggali sebuah terowongan bawah tanah baru di kawasan situs uji coba nuklir, dekat dua terowongan dari uji coba sebelumnya. Konstruksi terowongan baru itu sepertinya sudah hampir selesai,” ujar sumber itu.

Beberapa waktu lalu kecaman dari sejumlah negara muncul menyusul pengumuman rencana Korut mengujicobakan roket jarak jauhnya.

Roket yang diyakini sebagai peluru kendali balistik itu dijadwalkan diluncurkan pada 12 dan 16 April, sekaligus untuk menandai perayaan kelahiran pendiri Negeri Komunis itu, Kim Il Sung.

Pihak Pyongyang berkeras peluncuran itu hanya untuk kepentingan damai, mengorbitkan satelit telekomunikasi mereka. Namun, sejumlah negara terutama Korsel dan Jepang khawatir roket itu bisa berisi hulu ledak nuklir.

Akibat rencana peluncuran itu, Amerika Serikat menunda kesepakatan terbarunya menawarkan bantuan pangan, yang juga disepakati untuk diimbangi dengan kesediaan Korut menghentikan aktivitas nuklir dan uji coba rudal balistiknya.

Penundaan itu membuat marah Korut, yang diyakini selama ini menguasai cukup materi plutonium untuk membangun enam sampai delapan bom nuklir.

China dibuat repot

Sementara itu Menteri Luar Negeri (Menlu) China Yang Jiechi mengakui Beijing benar-benar dibuat repot oleh ulah dan rencana Korut meluncurkan roket jarak jauhnya. Untuk itu China mendesak perlunya upaya diplomasi untuk mengatasi kondisi seperti tersebut.

Lebih lanjut Jiechi membenarkan pihaknya telah menggelar pembicaraan tiga pihak terkait kasus itu dengan para Menlu Korsel dan Jepang di kota sebelah timur China, Ningbo.

”Kami saling bertukar pandangan terkait perkembangan situasi di kawasan Semenanjung Korea. China sangat direpotkan dengan masalah ini dan meminta semua pihak yang terlibat untuk tetap tenang, bersikap wajar, dan mendahulukan penuntasan kasus ini lewat diplomasi serta cara damai,” ujar Jiechi.

Adapun Menlu Korsel Kim Sung-hwan menyebut rencana peluncuran roket Korut sebagai kemunduran bagi negeri itu, apalagi jika Korut benar-benar berkeinginan masuk dan diterima kembali di dalam komunitas internasional.

Dalam kesempatan terpisah, Menlu Jepang Koichiro Gemba menyebutkan, hasil kunci pertemuan trilateral tadi adalah kesepakatan untuk bekerja sama menghentikan rencana peluncuran rudal Korut itu.

Sementara itu Pemerintah Jepang juga telah bersiap-siap menghadapi ancaman Korut. Kementerian Pertahanan Jepang menempatkan pasukan artilerinya di Tokyo sekaligus mengirim kapal perang jenis penghancur, yang diperkuat rudal penangkis rudal musuh. (AP/AFP/DWA)

Sebuah hasil pencitraan satelit termutakhir mengarah ke kesimpulan tersebut.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau