SANA’A, MINGGU
Menurut salah seorang pejabat maskapai penerbangan, bandara itu kembali dibuka setelah ada jaminan dari Angkatan Udara Yaman kalau tak akan ada lagi ancaman terhadap penerbangan.
”Sekarang kami tengah bersiap memulai lagi penerbangan perdana,” ujar Manajer Umum Bandara Internasional Sana’a Naji al-Murqab, seperti dikutip situs web berita milik Kementerian Pertahanan Yaman, 26sep.net.
Aksi pendudukan Bandara Sana’a terjadi tak lama setelah penguasa baru dukungan Amerika Serikat (AS), Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi, naik menggantikan rezim lama pimpinan Ali Abdullah Saleh.
Para anggota pasukan loyalis Saleh yang dipimpin Jenderal Mohammed Saleh al-Ahmar, Jumat lalu, mengepung bandara internasional tersebut dan mengancam akan menembak jatuh pesawat mana pun yang terbang.
Pasca-pergantian kekuasaan, Ahmar menolak menyerah. Disebutkan pula Sabtu kemarin Ahmar mengaku bersedia menyerahkan diri jika sejumlah pejabat senior, termasuk Menteri Pertahanan Yaman, mundur dari posisi mereka.
Ahmar juga menuntut pemerintahan baru mengasingkan beberapa orang anggota suku berpengaruh, Hashed, yang diketahuinya terlibat membantu para pembelot dalam aksi antirezim yang digelar sejak tahun lalu.
Aksi Ahmar itu memicu tekanan keras dari banyak pihak, termasuk para duta besar negara Barat. Mereka memaksa Ahmar membatalkan aksinya tersebut.
Dalam versi lain disebutkan, Bandara Internasional Sana’a terpaksa ditutup bukan karena adanya aksi pendudukan oleh pasukan Ahmar.
Penutupan terpaksa dilakukan lantaran ada seorang perwira militer yang kebetulan tinggal di dekat bandara melepaskan 10 kali tembakan ke arah menara pengatur lalu lintas bandara.
Perwira itu mengaku marah dan tak puas lantaran sebidang tanah milik sukunya diambil alih begitu saja oleh pemerintah untuk dipakai perluasan area bandara. Dia menuntut ganti rugi.
Tak lama berkuasa, presiden baru negeri tersebut, Abd-Rabbu Mansour Hadi, memang banyak menyingkirkan orang yang sebelumnya dekat dengan penguasa lama.
Beberapa di antaranya seperti keponakan Saleh, Jenderal Tareq Mohammed Abdul Saleh, dan juga perwira loyalis Ahmar, Jenderal Mohammed Ali Mohsen al-Ahmar.
Langkah itu disambut baik pihak AS yang memang tengah fokus mencanangkan ”perang terhadap teror” di negeri tersebut. Hal itu disampaikan Juru Bicara Pemerintah AS Mark Toner, Sabtu lalu. (AFP/DWA)