Korut Siap Luncurkan Roket Kontroversialnya

Kompas.com - 09/04/2012, 14:07 WIB

TONGCHANG-RI, KOMPAS.com — Sejumlah wartawan, Minggu (8/4/2012), diberi gambaran sekilas yang tergolong langka tetang persiapan peluncuran roket Korea Utara. Para wartawan itu dibawa ke Stasiun Peluncuran Satelit Sohae di Tongchang-ri, di barat laut negara yang tertutup itu.

Korea Utara (Korut) mengumumkan bulan lalu bahwa negara itu akan meluncurkan sebuah roket yang akan membawa sebuah satelit antara tanggal 12 dan 16 April untuk menandai peringatan 100 tahun kelahiran Kim Il Sung, pendiri negara komunis tersebut. Hari ulang tahun Kim jatuh pada 15 April, yang dikenal sebagai "Hari Matahari", dan  merupakan hari libur utama dalam kalender Korut.

Pyongyang mengatakan, operasi peluncuran itu untuk tujuan damai, tetapi Jepang, Amerika Serikat, dan Korea Selatan melihat peluncuran itu sebagai kedok bagi uji coba rudal balistik jarak jauh.

Peluncuran sebuah roket jarak jauh oleh Korut akan melanggar sebuah resolusi Dewan Keamanan PBB. Washington pun telah membatalkan kesepakatan terbaru untuk memberikan bantuan pangan kepada Korea Utara. Jepang mengatakan akan menembak jatuh setiap roket yang masuk ke wilayahnya.

"Jika kalian mencari sendiri dengan mata kalian sendiri,  Anda bisa menilai apakah itu sebuah rudal balistik, atau apakah itu peluncuran wahana untuk menempatkan sebuah satelit ke orbit," kata Jang Myong Jin, kepala tempat peluncuran itu, melalui penerjemah seperti dikutip CNN, Senin. "Itu sebabnya kami mengundang Anda ke tempat peluncuran ini."

Para jurnalis itu—yang tidak diizinkan untuk membawa laptop atau ponsel ke lokasi itu, tetapi diizinkan untuk membuat film—ditunjukkan pusat kontrol dan satelit yang kata para pejabat akan ditembakkan ke ruang angkasa. Roket itu sendiri panjangnya 30 meter. Warnanya putih, dengan bintik merah dan biru.

Para pemimpin internasional telah mendesak Korut untuk membatalkan peluncuran itu, tetapi Pyongyang menolak untuk mundur. Negara itu menekankan, operasinya untuk tujuan ilmiah.

Kali terakhir Pyongyang melakukan apa yang digambarkan sebagai peluncuran satelit pada April 2009. Ketika itu, Dewan Keamanan PBB mengutuk aksi tersebut dan menuntut hal itu tidak boleh diulang.

Seorang analis independen Eropa yang berkunjung ke lokasi peluncuran itu mengatakan, ia tidak melihat ada hal yang harus membuat orang mengibarkan bendera merah. "Saya tidak tahu apa yang ingin mereka lakukan di masa depan, tetapi apa yang kami lihat adalah sebuah peluncur ruang angkasa," kata Christian Lardier, analis itu.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau