iPad Terancam Jadi Kata Generik Perangkat Tablet

Kompas.com - 10/04/2012, 08:57 WIB

KOMPAS.com — Popularitas iPad yang mendunia berhasil melekat kuat dalam ingatan banyak orang. Di satu sisi hal ini menguntungkan bagi Apple, tetapi juga mengancam karena Apple bisa kehilangan merek dagang iPad karena iPad bisa jadi kata generik/umum untuk penyebutan perangkat tablet.

Di Eropa dan Amerika Serikat, ada sekelompok masyarakat, terutama para orangtua, yang menggunakan merek iPad sebagai kata generik mengacu pada produk komputer tablet. Dengan demikian, mereka menyebut semua tablet sebagai iPad meski produk tersebut sebenarnya adalah Samsung Galaxy Tab atau Amazon Kindle Fire.

"Ketika saya berpikir tentang tablet, yang terlintas di benak saya adalah sebuah iPad," kata Maria Schmidt yang berusia 58 tahun asal AS. Ia bahkan tidak tahu nama produk tablet dari produsen lain.

Hal semacam ini bisa menguntungkan dan merugikan untuk Apple. Menguntungkan karena Apple dinilai sukses memopulerkan produknya. Usaha Apple mengeluarkan jutaan dollar AS untuk pemasaran tidak sia-sia.

Namun, di sisi lain, hal ini bisa membuat Apple kehilangan merek dagang iPad karena merek itu bisa saja menjadi kata generik. Menurut Michael Atkins, pengacara khusus merek dagang asal Seattle, AS, saat ini Departemen Hukum AS sedang bersitegang dengan Departemen Pemasaran AS terkait merek yang akan dijadikan kata generik.

Tak hanya iPad, produk iPod dari Apple juga sering disebut sebagai alat pemutar musik populer atau MP3 player. Tidak mengherankan karena iPod merupakan alat pemutar musik digital pertama di dunia yang dirilis pada 2001.

Menelisik kasus merek dagang yang menjadi generik pada masa lalu, mereka yang dikorbankan adalah perusahaan yang menciptakan produk revolusioner. Sebuah merek dagang dinyatakan sebagai kata generik ketika ada perusahaan yang menuntut dan pengadilan federal mengizinkan semua produk serupa menggunakan kata generik tersebut.

Perusahaan pembuat obat Bayer, harus rela kehilangan merek dagang Aspirin pada 1920. Begitu juga dengan merek Eskalator yang menjadi generik pada 1950, Thermos pada 1963, dan Yo-yo pada 1965.

Sulit mengukur berapa banyak kerugian yang diderita perusahaan-perusahaan itu. Juga tak menutup kemungkinan hal ini memunculkan kebingungan di kalangan konsumen.

Perusahaan pembuat mesin fotokopi Xerox berjuang keras selama puluhan tahun agar merek dagang Xerox tidak menjadi kata generik. Karena kala itu, semua orang menyebut nama Xerox mengacu pada semua mesin fotokopi otomatis. "Kami melakukan tindakan proaktif untuk melindungi merek dagang," kata Barbara Basney, Wakil Presiden Periklanan Global Xerox.

Xerox menghabiskan jutaan dollar AS untuk mendidik konsumen agar menyadari perbedaan mesin fotokopi dengan merek Xerox.

Di Indonesia cukup banyak merek yang menjadi kata generik meski tak dilembagakan, seperti Aqua untuk penyebutan semua jenis minuman mineral atau Sanyo untuk pompa air.

Untungnya, merek dagang perusahaan mesin pencari Google hingga kini belum diusik. Popularitas Google telah menciptakan istilah googling yang mengacu pada aktivitas pencarian di internet.

Perusahaan yang dibangun pada 1998 itu berhasil melibas popularitas perusahaan mesin pencari pedahulunya, yakni Alta Vista dan Yahoo.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau