Pelajaran bagi Mancini

Kompas.com - 12/04/2012, 05:06 WIB

Oleh ANTON SANJOYO

Mimpi Manchester City untuk mematahkan dominasi tetangganya yang angkuh, Manchester United, tampaknya sudah berakhir. Meski hitungan matematika masih memungkinkan ”The Citizen” mengejar pencapaian angka si ”Setan Merah” dalam sisa enam laga, mengharapkan Rio Ferdinand dan kawan-kawan tergelincir tiga kali sepertinya sia-sia belaka.

Di Stadion Emirates, Minggu lalu, impian selama 46 tahun pasukan ”Biru Langit” untuk kembali menjadi yang terbaik di jagat sepak bola Inggris habis sudah. Ambisi meraih tiga poin untuk tetap menghidupkan peluang karam oleh gol semata wayang Mikel Arteta di pengujung laga. Derita ”The Citizen” makin sempurna oleh kartu merah yang diterima Mario Balotelli, pemain genius tetapi paling banyak bikin kerepotan dan masalah bagi Pelatih Roberto Mancini.

Suasana di kubu City begitu muram meski kapten Vincent Kompany masih bisa berjalan tegak selepas melemparkan kostumnya kepada pendukung setia yang menahan tangis di Emirates, yang memang tak pernah ramah kepada tim ”Biru Langit”. Suasana yang sangat kontras saat mereka memulai musim 2011-2012 dengan keyakinan penuh untuk mencetak kejayaan Liga Primer yang terlalu lama tidak mereka cicipi. Juga sangat bertolak belakang saat mereka merajai top flight lebih dari separuh musim sebelum mulai menukik selepas boxing day.

Mancini memang belum menyerah. Berkali-kali dia mengatakan tidak ada yang mustahil dalam sepak bola. Arsitek asal Italia itu juga mengatakan, pada sisa enam laga segalanya masih bisa terjadi, termasuk kemungkinan Manchester United tergelincir. Mancini benar, tetapi di lain pihak dia juga mengakui, nasib timnya tergantung tim lain, tim ”Setan Merah” yang juga berisik, yang sangat berambisi 20 kali menjuarai Liga Primer, sebuah pencapaian yang akan dicatat oleh sejarah.

Menilik sisa laga United, harapan Mancini sepertinya bakal kandas total, bahkan sebelum derbi Manchester awal Mei mendatang. Ketika persaingan mereka masih panas menjelang Natal 2011, derbi Manchester diperkirakan akan menjadi penentu. Namun kini, dengan jeda delapan poin dan sisa enam laga, perkiraan itu meleset. Di atas kertas, United sulit dihentikan oleh Wigan, Aston Villa, dan Everton sebelum derbi di Etihad. Dengan catatan menang 11 kali dalam 12 laga terakhir, United sepertinya tidak akan tertahan menjadi juara Inggris untuk yang ke-20 kalinya.

Seusai laga di Emirates, keluarga Sheikh Mansour bin Zayed al-Nahyan yang hadir di tribune pemilik tampak tabah. Meski tak ada seulas senyum pun di wajah, mereka tetap memberikan penghormatan berdiri kepada Kompany dan kawan-kawan.

Dukungan keluarga Sheikh Mansour kepada Mancini pun tampaknya masih besar dan ini menepis spekulasi mengenai masa depan mantan Pelatih Inter Milan itu. Meski gagal merengkuh mimpi yang sudah hampir berusia setengah abad, tampaknya kursi Mancini masih aman, kecuali tiba-tiba Jose Mourinho menyatakan tertarik kembali ke Inggris menangani City.

Dilihat dari perjalanan selama ini, kinerja Mancini memang tidaklah terlalu buruk, kecuali ukurannya jumlah dana yang diguyurkan. Lagi pula, satu gelar Piala FA sudah diraih. Problem terbesar Mancini adalah belum solidnya suasana kamar ganti dan minimnya ketangguhan mental tim dalam persaingan tingkat tinggi di papan atas. Hampir separuh konsentrasi Mancini dan timnya tersita oleh serangkaian problem nonteknis, terutama menyangkut Carlos Tevez dan Balotelli.

Dalam beberapa laga selepas Februari, ketangguhan mental pasukan Mancini memang terlihat rapuh. Kompany dan kawan-kawan kehilangan kepercayaan diri ketika tekanan membesar atau lawan solid bertahan. Hasil-hasil buruk mereka, terutama terlihat saat ditahan imbang Sunderland di Etihad, menunjukkan betapa rapuhnya kebersamaan tim dan daya tahan mereka dalam situasi penuh tekanan psikis.

Dalam kasus terakhir menyangkut perilaku Tevez dan Balotelli, Mancini memang layak belajar dari Sir Alex Ferguson yang pernah bermasalah dengan Tevez dan langsung mempersilakan pemain asal Argentina itu pergi. Dalam sejarah suksesnya, Ferguson memang tidak pernah membiarkan satu atau dua bintang merusak suasana kamar ganti. Sebintang apa pun dia, akan segera dibukakan pintu keluar begitu dinilai mengganggu suasana dan terutama menggoyang otoritas Ferguson. Musim ini, Ferguson nyaris tak punya problem dengan kelakuan pemain, kecuali gangguan-gangguan kecil dari Wayne Rooney.

Mancini berbeda. Dia tidaklah setangan besi Ferguson, terutama menyangkut Balotelli yang selalu disebutnya anak manis yang cuma butuh perhatian lebih. Dia lebih banyak melakukan pendekatan kebapakan meski pada akhirnya menyerah juga dan kehabisan kesabaran terhadap Balotelli.

Dari sisi teknis, Mancini harus lebih banyak melakukan eksplorasi di lini tengah untuk membuat gaya permainannya lebih bervariasi. Setelah setengah musim, hampir semua lawan City paham, playmaker David Silva tidak akan bergerak dari sayap dan nyaris semua serangan dibangun dari poros Yaya Toure-Silva.

Mancini sepertinya sudah mendapatkan banyak sekali pelajaran dari ”kegagalan” musim ini. Musim depan, hampir dipastikan Balotelli dan Tevez diminta pergi. Tanpa mereka, City akan jauh lebih solid dan impian untuk kembali menjadi yang terbaik di Liga Primer, bahkan ajang Eropa, makin mendekati kenyataan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau