Semburat Biru di Kerinci

Kompas.com - 13/04/2012, 12:42 WIB

Oleh Irma Tambunan

Hujan rintik menemani pendakian kami di kawasan Gunung Tujuh, Kabupaten Kerinci, Jambi, beberapa waktu lalu. Jalurnya menanjak curam sehingga kami butuh tiga jam hingga sampai di perhentian.

Namun, letihnya perjalanan seketika lenyap saat kami mencapai tanah datar di ujung punggungan gunung. Sebuah danau dengan permukaan kebiruan terhampar luas, dipagari puncak-puncak gunung. Kami terpaku. Kemegahan alam terasa begitu damai.

Gerimis telah berhenti. Mentari mulai bersembunyi menuju kaki langit. Pantulan gunung-gemunung yang mengelilingi danau vulkanik tampak jelas dari tempat kami berdiri di ketinggian 1.950 meter di atas permukaan laut. Gunung-gunung itu seakan berkaca pada sekeliling permukaan telaga yang memiliki luas 12 kilometer persegi.

Mereka adalah tujuh gunung yang memberi nama danau tersebut. Hamparan yang terletak di dalam kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat ini bisa dibilang salah satu pemandangan terindah di Kerinci. Kami mungkin tidak berkesempatan menikmati semburat jingga di ujung danau, seperti pada sore-sore biasanya. Namun, nuansa biru keabuan yang kami dapatkan selepas hujan memberikan rasa berbeda, yang membawa kami mensyukuri keagungan Sang Pencipta.

Kami pun menyiapkan tenda dan menikmati makan. Malam itu begitu hening, tetapi tak merasa sepi. Kami beruntung bisa menikmati terangnya purnama. Suasana terasa hangat di dekat api unggun.

Bagi wisatawan minat khusus, Danau Gunung Tujuh adalah tujuan wajib, selain pendakian Gunung Kerinci setinggi 3.805 meter di atas permukaan laut.

Namun, kekayaan alam Kerinci telah menyediakan beragam lokasi kunjungan. Bagi Anda penikmat keindahan, perjalanan darat menuju Kerinci sendiri sudah menjadi sebuah atraksi yang memanjakan mata, melenakan sanubari. Dari arah Kota Jambi, kita bisa memulainya dengan menikmati Danau Kerinci, kawasan lembah yang diapit hamparan Bukit Barisan. Danau yang juga kerap diliputi nuansa biru ini berpadu dengan hamparan persawahan luas hingga ke Kota Sungai Penuh.

Sungai Penuh adalah kota tenang. Pada pagi hari, kita bisa singgah ke kawasan perbukitan Bukit Kayangan yang membutuhkan waktu tempuh 10 menit dengan kendaraan bermotor. Dari sana tampak jelas gambaran Kerinci. Namun, jangan berlama-lama karena kabut kerap menutupi pandangan menuju Sungai Penuh.

Selanjutnya adalah mengunjungi perkebunan teh dan pabrik Kayu Aro. Pemerintah Belanda mendirikan kebun teh Kayu Aro tahun 1928, menjadikannya sebagai hamparan teh terluas di dunia, 2.624 hektar, yang mencakup 29 desa. Produk tehnya bernama Teh Kajoe Aro menjadi langganan bangsawan Eropa. Sekitar 90 persen teh buatan pabrik ini diekspor PT Perkebunan Nusantara VI Jambi-Sumatera Barat.

Jika tertarik, bisa juga mampir ke pabriknya yang membuka diri bagi kunjungan wisatawan. Sejumlah tanaman tua yang telah tumbuh sejak perkebunan itu dibangun masih ada.

Kawasan Kayu Aro semakin lengkap oleh kehadiran Gunung Kerinci yang tampak menjulang. Memang, gunung ini lebih sering menutup diri dengan kabut. Pada waktu-waktu tertentu pada pagi hari, dia baru menampakkan dirinya secara utuh.

Para petani di sekitar kaki Gunung Kerinci membangun penghidupan mereka dengan bertanam kentang, wortel, stroberi, dan sejumlah jenis sayuran. Kesibukan para petani teh maupun petani sayur adalah pemandangan yang menyenangkan.

Pada pagi hari mereka keluar sambil membawa sebuah gerobak yang ditarik sapi. Orang-orang Kerinci umumnya ramah dan tak sungkan menyapa para pendatang. Mungkin inilah yang membuat saya yang telah belasan kali berkunjung masih selalu rindu berada di kaki gunung itu.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau