Suriah

Aksi Kekerasan Belum Berakhir

Kompas.com - 14/04/2012, 04:50 WIB

Kairo, Kompas - Aksi kekerasan secara terbatas masih berlanjut di Suriah meski gencatan senjata terlaksana mulai pukul 06.00 hari Kamis (12/4).

Lembaga pemantau Hak-hak Asasi Manusia (HAM) Suriah yang berkantor di London, seperti diberitakan televisi BBCArabic, mengungkapkan, pasukan pemerintah dan Tentara Pembebasan Suriah (FSA), hari Jumat, terlibat bentrok senjata di desa Khorba al-Ghus di provinsi Idlib yang berdekatan dengan perbatasan Turki.

Suara tembakan terdengar keras ketika pasukan pemerintah mencoba mengusir anggota FSA dari desa tersebut. Bentrok senjata juga terjadi di sekitar kota Deir el-Zor yang tak jauh dari perbatasan Irak.

Menurut lembaga pemantau HAM Suriah itu, bentrok senjata di Idlib dan Deir el-Zor merupakan pelanggaran gencatan senjata pertama sejak dimulai Kamis pagi lalu.

Pemerintah dan kubu oposisi saat ini saling menuduh satu sama lain telah melakukan pelanggaran gencatan senjata.

Televisi pemerintah mengklaim seorang perwira militer tewas dan 14 anggota pasukan pemerintah luka-luka akibat ledakan ranjau darat di sebuah tepi jalan di kota Aleppo.

Adapun lembaga umum revolusi Suriah mengungkapkan, sedikitnya 22 warga tewas—sebagian besar gugur di kota Homs dan Idlib—hanya beberapa jam setelah berlakunya gencatan senjata pada hari Kamis pagi lalu.

Para aktivis juga mengungkapkan, pasukan pemerintah yang dilengkapi senjata berat masih tersebar di pusat-pusat konsentrasi permukiman dan sekitarnya.

Presiden Perancis Nicolas Sarkozy—dalam wawancara dengan sebuah saluran televisi hari Jumat kemarin seperti dikutip Reuters—menyatakan tidak percaya dengan Presiden Bashar al-Assad, dan meragukan keberhasilan gencatan senjata yang dimulai hari Kamis lalu melalui mediator mantan Sekjen PBB Kofi Annan.

Ia menegaskan, masyarakat internasional harus memikul tanggung jawab dan harus menciptakan kondisi yang mendorong dibuatnya jalur bantuan kemanusiaan sehingga mereka yang tertindas bisa lari dari kekejaman diktator.

Ia juga mengatakan, harus dikirim tim monitor supaya dunia tahu apa yang terjadi. Ditambahkan, kita harus tahu bahwa kota Homs yang merupakan kota asal istri Bashar al-Assad (Asma al-Assad) mengalami penderitaan paling mendalam.

Sebelumnya hari Kamis, Kofi Annan dalam suratnya kepada DK PBB menjelaskan, Pemerintah Suriah belum melaksanakan secara penuh usulan solusinya yang terdiri dari enam butir itu. Annan meminta DK PBB mendesak otoritas Suriah supaya menarik pasukan dan senjata beratnya dari pusat-pusat konsentrasi penduduk.

Annan juga meminta agar gencatan senjata di Suriah saat ini dijadikan peluang untuk dimanfaatkan secara positif.

Sekjen PBB Ban Ki-moon menyerukan pula semua pihak menghentikan aksi kekerasan.

Di New York, Dewan Keamanan PBB pada hari Jumat kemarin menggelar voting atas draf resolusi, yang di antaranya menyebutkan, penyebaran 30 tim monitor PBB tanpa senjata di Suriah untuk mengawasi jalannya gencatan senjata.

Draf resolusi yang bocorannya disiarkan televisi Alarabiya berbunyi, DK PBB telah mencurahkan perhatian mendalam terhadap krisis Suriah dan memburuknya kondisi kemanusiaan di negara itu. DK PBB mengecam keras pelanggaran HAM yang cukup besar di Suriah.

DK PBB mengakui Pemerintah Suriah mulai melaksanakan sebagian usulan resolusi utusan khusus PBB dan Liga Arab Kofi Annan. DK PBB mendukung secara penuh kedaulatan, kemerdekaan, dan kesatuan wilayah Suriah.

DK PBB menyerukan semua pihak mematuhi gencatan senjata. Pemerintah Suriah diminta pula memberi kemudahan atas misi tim monitor dan masuknya bantuan kemanusiaan ke wilayah Suriah. (mth)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau