Kesejahteraan daerah

Merauke Mengimbangi Kedelai Impor

Kompas.com - 16/04/2012, 03:15 WIB

ERWIN EDHI PRASETYA

Kegembiraan menghinggapi petani kedelai di Distrik Jagebob, Kabupaten Merauke, Provinsi Papua. Hasil panen yang baik dan adanya jaminan penyerapan kedelai hasil panen oleh pemerintah daerah setempat membuat mereka bungah. Masyarakat di ujung timur Nusantara ini mencoba mengimbangi kedelai impor.

Luas area lahan tanam kedelai di Jagebob pada tahun 2012 tercatat 286 hektar, melonjak dibandingkan luas tanam tahun 2011 yang hanya 86 hektar. Setiap hektar lahan rata-rata menghasilkan 1,3 ton-1,4 ton kedelai kering panen.

Distrik Jagebob merupakan sentra pertanian kedelai lokal di Merauke. Jagebob dulu pernah mencapai kejayaannya hingga tahun 1990-an. ”Luas lahan pertanian kedelai di Jagebob dulu sampai sekitar 400 hektar,” ucap Bambang Dwiatmoko, Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) Merauke.

Namun, seiring makin derasnya impor kedelai pada tahun 1990-an, kedelai lokal Merauke terkena imbasnya. Saat itu secara nasional impor kedelai pada tahun 1990 mencapai sekitar 500.000 ton. Tahun 1996 melonjak hingga 743.000 ton. Pedagang besar pun mendatangkan kedelai impor dari Surabaya ke Merauke. Masyarakat, khususnya perajin tempe dan tahu, cenderung memakai kedelai ”bule” yang lebih besar.

Kedelai Jagebob kehilangan pasarnya. Terkikis sedikit demi sedikit. Petani pun meninggalkan kedelai. Mereka beralih ke tanaman pangan lainnya, seperti kacang tanah, ubi jalar, singkong, apa pun yang cocok ditanam di lahan kering Jagebob. Luas areal penanaman kedelai terus merosot hingga tersisa 86 hektar.

Hanya sebagian kecil petani yang masih bertahan meski harus selalu kalah dengan kedelai impor. Hamparan lahan pertanian kedelai dibiarkan begitu saja. Akhirnya, lahan ditumbuhi rumput dan semak belukar. Bekas lahan kedelai yang dikuasai rumput ilalang dan belukar itu masih bisa dijumpai di Jagebob.

Ketika panen harga kedelai pasti anjlok sampai Rp 5.000 per kg. Itu pun kalau ada yang beli, seringnya tidak ada yang mau beli. ”Kalah dengan kedelai Surabaya,” ujar Sudarsono (40), petani kedelai Kampung Wenda Asri, Jagebob.

Dengan harga Rp 5.000 per kg, petani hanya bisa impas bahkan rugi. Sebab, modal untuk menanam kedelai setidaknya Rp 6 juta per hektar untuk pupuk, bibit, dan obat-obatan.

Dari persoalan itu, Pemerintah Kabupaten Merauke tidak tinggal diam dan bertekad membangkitkan kembali kedelai Jagebob. Dimulai tahun 2011, melalui program perluasan lahan tanaman kedelai, Dinas TPH Merauke didukung dana pemerintah pusat membuka lahan seluas 200 hektar di Jagebob untuk ditanami kedelai.

Empat kampung ditunjuk, yakni Kampung Makerti Jaya 50 hektar, Mimi Baru 50 hektar, Kamno Sari 40 hektar, dan Wenda Asri 60 hektar. Petani menanam kedelai varietas baru yang lebih unggul, yakni Anjasmoro. Panen perdana program ini menggembirakan.

”Produksi rata-rata 1,3 ton-1,4 ton per hektar, ada yang 1,8 ton per hektar,” ujar Edi Santoso, Kepala Bidang Pengembangan Lahan dan Perlindungan Tanaman Dinas TPH Merauke.

Petani mendapat bantuan Rp 5 juta per hektar untuk pembukaan lahan, bibit, pupuk, alat pertanian, dan obat-obatan. Perluasan lahan tahap pertama ini berhasil dengan produksi menggembirakan.

Bupati Merauke Romanus Mbaraka antusias dengan hasil itu. Ia memanen perdana di lahan milik Servinus Kaize, petani lokal warga Wenda Asri, Jumat (2/3). Servinus termasuk petani yang hasil panennya terbaik.

Romanus bangga sekaligus menantang petani setempat memenuhi kebutuhan kedelai bagi Merauke. Pihaknya siap membatasi masuknya kedelai impor bila petani Jagebob sanggup memenuhi kebutuhan kedelai bagi Merauke.

Meski gembira, petani kedelai Jagebob mengaku masih sedikit cemas. Selama ini harga kedelai selalu jatuh saat panen karena dipermainkan tengkulak. Dari Rp 8.000 per kg sebelum panen, merosot sampai Rp 5.000 per kg saat panen.

Petani kesulitan menjual hasil panen ke Kota Merauke karena buruknya akses jalan. Apalagi, masyarakat dan perajin tempe-tahu umumnya lebih menyukai kedelai Surabaya yang tidak lain kedelai impor. Mereka berharap Pemkab Merauke dapat menetapkan standar minimal harga kedelai lokal. ”Kami berharap harga kedelai ini minimal Rp 7.000 per kg,” ungkap Wiji (57), petani kedelai.

Untuk mengatasi kekhawatiran petani bahwa produksi kedelai yang berlimpah tidak akan terserap pasar sehingga harga anjlok, Pemkab Merauke telah menyiapkan dana talangan Rp 1,75 miliar. Dana ini untuk membeli hasil panen kedelai Jagebob. ”Saya akan panggil perajin tempe dan tahu untuk membeli kedelai Jagebob,” kata Romanus.

Dinas TPH Merauke juga menyiapkan pasar. Dijalinlah kerja sama dengan seorang perajin tahu lokal terbesar di Kampung Wenda Asri. Pinjaman modal awal senilai Rp 28 juta dikucurkan. Syarat utamanya harus membeli kedelai petani sebagai bahan baku tahu dengan harga beli Rp 7.000 per kg.

Rijalulloh (32), perajin tahu Wenda Asri, mengaku selama ini selalu membeli kedelai Surabaya dengan harga Rp 7.800 per kg. Usahanya kadang harus terhenti bila kedelai Surabaya terlambat masuk Merauke. Dengan harga kedelai lokal yang lebih murah, ia langsung menyambutnya.

Pinjaman modal Rp 28 juta akan dipakai untuk membeli kedelai petani 1,5 ton per bulan untuk tiga bulan atau satu musim panen kedelai. Dalam sehari, rata-rata Rijal biasa menggiling sampai 50 kg kedelai untuk diolah menjadi 1.750 tahu kotak. Dengan jaminan pasokan kedelai dari petani setempat, Rijal mengaku tak lagi khawatir akan kehabisan bahan baku sehingga produksinya lancar.

Bambang mengatakan, kebijakan pemberian pinjaman modal dilakukan semata-mata agar kedelai Jagebob terserap. Dengan menggunakan dana talangan, Dinas TPH akan menyerap kedelai petani dengan syarat biji kedelai bersih dan kandungan air maksimal 14 persen. Kedelai itu selanjutnya disalurkan kepada para perajin tempe dan tahu. Namun, patokan harga pembelian belum ditentukan. ”Kami tidak cari untung. Ini untuk mendukung keberlanjutan produksi kedelai,” katanya.

Potensi pasar kedelai di dalam Merauke relatif besar. Saat ini kebutuhan kedelai di Merauke sedikitnya mencapai 40 ton per bulan. Namun, sekitar 30 ton dipenuhi oleh kedelai impor. ”Ada permintaan dari Kabupaten Mappi, Boven Digoel, Asmat, Yahukimo, dan Timika,” ungkapnya. Dinas TPH Merauke bercita-cita setidaknya lahan pertanian kedelai dapat ditingkatkan lagi mencapai 1.000 hektar.

Adanya jaminan penyerapan hasil panen membuat petani kedelai Jagebob bersemangat lagi menanam kedelai. Apalagi, Bupati menjanjikan perbaikan jalan ke Jagebob. Inilah awal kebangkitan kembali kedelai lokal Jagebob. (RWN)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau