”Saya yakin program ini akan sukses karena tingkat kesadaran warga Jakarta terhadap pendidikan saat ini jauh lebih tinggi. Indikator lama sekolah di DKI sudah mencapai 11,4 tahun. Ini menunjukkan bahwa hampir semua warga Jakarta telah menempuh pendidikan di jenjang SLTA,” kata Gubernur di sela-sela peninjauan pelaksanaan ujian nasional (UN) di sejumlah sekolah di Jakarta, Senin (16/4).
Menurut Gubernur, persiapan ke arah itu sudah dimulai sejak beberapa waktu lalu, antara lain dengan memperkuat kompetensi guru-guru SMA dan SMK serta penambahan ruangan kelas di tingkat SLTA.
”Dari sisi anggaran pun, kemampuan APBD DKI sangat menunjang. Tahun ini saja, Pemprov (Pemerintah Provinsi) DKI mengalokasikan sekitar 28,93 persen APBD untuk pembangunan pendidikan. Insya Allah tidak ada halangan yang berarti, mulai tahun depan sudah tidak ada lagi warga Jakarta yang tidak meneruskan pendidikan ke SMA atau SMK,” katanya.
Soal kelulusan, Fauzi berharap tingkat kelulusan UN 2012 di Jakarta bisa lebih baik daripada 2011. Tahun lalu, tingkat kelulusan 99,81 persen atau hampir semua peserta UN lulus.
”Itu merupakan salah satu indikator keberhasilan DKI Jakarta,” ujar Fauzi.
Tahun ini, Fauzi mengklaim sekitar 13.000 siswa tidak mampu yang rawan berhenti sekolah akan dibantu dengan beasiswa. Di komunitas guru, 12.000 guru dan tenaga sekolah berstatus honorer akan diperjuangkan menjadi pegawai negeri sipil. ”Tahun ini separuhnya dan sisanya tahun berikutnya,” ujarnya.
Sejumlah siswa di DKI Jakarta dan Depok memperoleh pesan singkat (SMS) berisi kunci jawaban UN sejak Minggu malam hingga Senin dini hari.
Sejumlah siswa peserta UN di SMK Negeri 4, Rorotan, Cilincing, Jakarta Utara, mengaku memperoleh SMS berisi kunci jawaban UN. Namun, mereka tak menggunakan kunci jawaban itu untuk mengerjakan soal UN hari pertama dengan mata pelajaran Bahasa Indonesia.
”Saya tidak mau pakai kunci jawaban itu, takut malah menyesatkan,” kata Irfan, siswa jurusan elektro industri di SMK Negeri 4 ini.
Irfan mengaku tidak menggunakan kunci jawaban itu karena belajar dari penyelenggaraan UN tahun lalu. Saat itu, katanya, banyak siswa menerima kunci jawaban UN lewat SMS, tetapi jawabannya malah membuat banyak siswa gagal dalam UN.
Seorang siswa lain, Fajar, juga mengatakan tak menggunakan kunci jawaban UN yang diterimanya lewat SMS. ”Saya terima SMS itu Senin dini hari, hampir subuh, tapi saya biarkan saja,” tuturnya.
Malahan, lanjut Fajar, soal yang diujikan dalam UN tergolong lebih mudah dibandingkan dengan soal-soal dalam uji coba (try out) ujian di sekolah. ”Soal UN malah lebih sederhana dibandingkan dengan soal yang diajukan di try out,” katanya.
Kepala Suku Dinas Pendidikan Menengah Jakarta Utara Didi Suprijadi mengungkapkan, sejauh ini belum menemukan pelanggaran pada pelaksanaan UN hari pertama di Jakarta Utara. Sesuai ketentuan, semua tas dan telepon seluler siswa harus diletakkan di depan kelas selama siswa mengikuti UN.
Di Depok, kunci jawaban beredar melalui telepon seluler. Kunci jawaban itu tidak hanya diterima siswa peserta ujian, tetapi juga pekerja swasta yang tidak ikut ujian. Kunci jawaban itu dikirim lengkap untuk lima paket soal Bahasa Indonesia.
”Saya dapat pesan pendek jawaban soal Bahasa Indonesia tadi malam (Minggu) pukul 23.00. Saya cari tahu pengirimnya, ternyata anak SMA di Depok. Saya bilang saya bukan peserta UN, sepuluh tahun lalu saya sudah lulus SMA,” tutur Rizky Afriono (27) yang tinggal di Depok.
Hal yang sama diakui Ari Supratman, peserta UNI dari SMA Terbuka Yayasan Bina Insan Mandiri, yang mengikuti ujian di SMA 5 Depok. Walaupun menerima pesan pendek kunci jawaban soal lewat telepon seluler, dia tidak berani menggunakannya karena khawatir kunci itu justru menyesatkan.
Menanggapi sistem paket soal, sejumlah siswa merasa nyaris tidak ada ruang untuk berbuat curang. Sistem paket soal itu mengunci siswa sehingga mereka hampir tidak memiliki kesempatan untuk melakukan kecurangan sebelum dan selama ujian. Peserta lebih sibuk mengurusi soalnya sendiri sebelum waktu mengerjakan soal ujian berakhir.
”Kesempatan curang hampir tidak ada. Selain soalnya berbeda, ruangan ditutup sebelum dipakai ujian. Kami tidak bisa menaruh apa-apa di meja ujian,” kata Alhadi Basir, peserta UN dari di SMA 5 Depok.
Dalam sistem paket soal ini, setiap siswa yang berdampingan mengerjakan soal berbeda. Ari tidak berani bertanya kepada teman terdekatnya karena dia yakin soal yang dikerjakan berbeda dengan soalnya.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Tangerang Zainudin saat memantau pelaksanaan UN di SMA Negeri 6 Tangerang mengatakan, UN dilaksanakan dengan pengamanan berlapis.
”Pola ini melibatkan aparat kepolisian dan tim pemantau independen. Pengawasan dan pengamanan mulai dari titik awal pembuatan soal ujian hingga di pelaksanaan di sekolah,” katanya.
Tim independen ini terdiri dari perguruan tinggi, kepala sekolah, dan guru. Sistem pengamanan tim independen ini dilakukan sisip silang antarsekolah. Setiap guru memantau di sekolah lain.