Chelsea Harus Percaya Diri

Kompas.com - 18/04/2012, 03:35 WIB

London, Selasa - Kecerdikan Roberto Di Matteo meracik strategi akan diuji saat Chelsea menjamu Barcelona di semifinal Liga Champions, Kamis (19/4) dini hari WIB. Di Matteo melihat ada titik lemah dalam formasi Barca yang harus dieksploitasi para pemain ”The Blues” di Stamford Bridge. Laga ini akan berlangsung ketat dan emosional seperti semifinal 2009.

”Anda mencari cara untuk melukai Barcelona dan membuat mereka kesulitan. Saya telah menyaksikan banyak pertandingan,” ujar Di Matteo.

”Kami hanya harus mengeksploitasi mereka,” ujar mantan pemain tengah Chelsea itu.

Pelatih asal Italia itu sepertinya akan menerapkan formasi menyerang dengan tetap memasang dua gelandang di depan empat pemain bertahan. Dua gelandang versi Di Matteo ini terbukti efisien memperbaiki kekuatan lini tengah dan pertahanan Chelsea yang hilang di era Pelatih Andre Villas-Boas.

Frank Lampard yang kemungkinan dipasangkan dengan Michael Essien akan mengisi posisi dua gelandang jangkar. Saat menundukkan Napoli 4-1 di perempat final, Lampard diduetkan dengan John Obi Mikel.

Tugas utama mereka saat menjamu Barcelona adalah memutus alur bola menuju Lionel Messi dan Alexis Sanchez. Posisi dua gelandang menjadi sangat vital untuk menjaga kerapatan antarlini. Mereka juga akan memaksa Messi lebih bermain ke dalam, pada posisi di mana dia menjadi kurang bebas bergerak.

Namun, terlalu berkonsentrasi menjaga Messi adalah jebakan yang mematikan. Barcelona memiliki gelandang-gelandang yang lihai menjebol gawang lawan. Bek sayap Dani Alves pun sangat berbahaya melalui tendangan-tendangan jarak jauhnya.

”Ini bukan hanya menjaga seorang pemain karena mereka pasti mempunyai banyak pemain yang bisa melukai kami,” ujar Di Matteo.

”Ini harus menjadi taktik tim, strategi tim, supaya bisa meredam ancaman mereka,” kata Di Matteo, yang mengetahui lini pertahanan Barca bukan yang terkuat.

Langkah pertama yang dilakukan Di Matteo adalah mempertebal kepercayaan diri para pemain untuk bermain dengan pola yang dimiliki Chelsea. Para pemain Chelsea harus melupakan rasa pahit saat disingkirkan Barcelona melalui gol penyama kedudukan 1-1 yang dicetak Andres Iniesta di semifinal Liga Champions 2009. Sejumlah pemain kunci Chelsea, seperti John Terry, Frank Lampard, dan Didier Drogba, mengalami momen menyakitkan itu.

”Anda harus yakin kepada diri sendiri. Di Chelsea, kami merasa pernah memberi mereka perlawanan yang ketat ketika kami bertemu mereka sebelumnya dan kami siap melakukannya lagi,” ujar Lampard.

Chelsea juga harus mewaspadai lini pertahanan yang kehilangan David Luiz karena cedera. Posisinya akan diisi Garry Cahill yang tampil semakin solid berduet dengan John Terry. The Blues bisa sedikit lega karena Branislav Ivanovic bisa kembali tampil.

Kepercayaan diri para pemain Chelsea untuk memainkan gaya permainan mereka menjadi kunci mengimbangi Barcelona. Ketidakpercayaan diri telah membuat mereka gagal menuju final tiga tahun lalu.

”Chelsea tidak mencapai final karena rasa takut. Tim yang unggul satu pemain, tampil di kandang, dan unggul gol seharusnya terus menyerang. Tetapi, tentu saja jika tidak memiliki konsep permainan menyerang, Anda akan bertahan dan tersingkir,” ujar Dani Alves mengenai putaran kedua semifinal Liga Champions 2009.

Pemain bertahan asal Brasil itu memperingatkan, jangan pernah memberikan kesempatan menguasai bola saat melawan Barcelona. Chelsea pada 2009 melakukan banyak bola lambung tanpa pernah terarah untuk menembus pertahanan Barcelona.

”Mereka tidak pernah melangkah maju. Dengan kata lain, mereka memberi kami penguasaan. Hal terburuk yang bisa Anda lakukan terhadap Barcelona adalah memberi mereka penguasaan bola,” ujar Alves.

(Reuters/TheGuardian/AFP/AP/ANG)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau