Trauma Perilaku Homoseksual pada Anak

Kompas.com - 23/04/2012, 08:29 WIB

TANYA :

Dok, saya memiliki anak lelaki umur 5 tahun yang bersekolah di TK. Sepulang sekolah, saya titipkan anak ini di rumah tetangga yang mempunyai 3 anak lelaki berumur 19, 11 dan 3 tahun dan 3 anak perempuan. Ibu mereka tidak bekerja. Anak saya suka bermain dengan mereka dan anak saya betah di rumah tersebut. 

Sekitar 3 hari yang lalu, sewaktu saya jemput, anak saya menuding anak lelaki berumur 11 tahun sebut saja si ‘A’, katanya "Bu, dia punya rencana menjijikan".  Sesampai di rumah anak saya menjadi agak rewel. Saya dan suami saya dengan hati-hati mencari tahu apa yang terjadi. Dari informasi yang kami peroleh : Waktu itu di rumah hanya ada anak saya, si A dan nenek yang sedang tidur. Anak saya dan A masuk kamar, lalu A minta anak saya menghisap kemaluannya, anak saya tak bisa menolak, anak saya berbaju lengkap dan A tidak menyentuh anak saya. 

Sekarang anak saya sudah kembali ceria, sudah tidak saya titipkan lagi dan kami tidak mengungkit peristiwa itu lagi. Pertanyaan saya : Apakah peristiwa tersebut akan mempengaruhi perkembangan jiwa anak saya? dan apa yang harus saya lakukan dok?

(Puji, 46, Solo)

JAWAB :

Ibu Puji yang baik,

Perilaku homoseksual yang dilakukan anak laki-laki tetangga ibu kepada anak ibu memang mungkin mengkhawatirkan ibu dan bapak. Kondisi ini memang sebenarnya ada dan bisa terjadi di lingkungan kita. Apa yang dilakukan "A" tentu saja bisa disebabkan karena meniru hal seperti itu (biasanya lewat tontonan di media internet).

Usianya yang mungkin sudah memasuki akil balik membuat dorongan seksual lahiriahnya mulai timbul terutama seksual birahi yang berasal dari stimulus alat kelamin yang mulai mengalami kematangan. Jadi mungkin fokus dia adalah bagaimana memuaskan hal tersebut dan anak ibu kebetulan karena umurnya masih jauh di bawah dia bisa menjadi sarana untuk melampiaskan hal itu.

Walaupun berperilaku homoseksual, belum tentu si "A" ini mempunyai orientasi seksual sejenis (homoseksual). Kita mungkin menjadi khawatir apakah anak ibu yang masih muda ini bisa menjadi "tertular" perilaku homoseksual dan menjadi homoseksual nantinya. Hal ini tidak terbukti secara penelitian ilmiah.

Orientasi seksual adalah sesuatu yang bersifat genetik, bukan disebabkan karena faktor lingkungan. Orang bisa saja berperilaku homoseksual misalnya seperti para pekerja seks komersial baik wanita dan prianya bisa saja melakukan hubungan seksual dengan sesama jenis namun orientasi seksualnya belum tentu juga homoseksual.

Saat ini anak ibu sudah kembali biasa, walaupun dia merasa jijik akan hal tersebut, baiknya dia tidak menjadi terus teringa-ingat akan hal itu. Ada baiknya memang dia tidak dibiarkan lagi bergaul dengan tetangga ibu tersebut. Hal ini tentunya agar dia tidak mendapatkan pengalaman traumatik yang dianggap dia menjijikan itu.

Semoga membantu

Salam Sehat Jiwa.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau