Tersangka Bersikeras Tak Terlibat Pengeroyokan Kelasi Arifin

Kompas.com - 24/04/2012, 09:06 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - JRR (21), salah tersangka kasus pengeroyokan Kelasi Satu Arifin Sirih hingga tewas di Jalan Benyamin Sueb, Pademangan, Jakarta Utara pada tanggal 31 Maret 2012 lalu, mengaku tak terlibat kasus itu.

Sebelumnya polisi menyebutkan peran keponakan dari pimpinan kelompok motor Y-GEN ini adalah memukul korban memakai tangan kosong sebanyak tiga kali di bagian wajah. Namun, seluruh tuduhan aparat kepolisian itu ditentang habis-habisan oleh kubu JRR. JRR yang kini didampingi jasa kuasa hukum kondang, Otto Cornelis Kaligis, ini tetap bersikeras tidak terlibat pengeroyokan tersebut.

"Ini semua salah tangkap. Saya tidak tahu apa-apa dan tiba-tiba diambil polisi dari rumah saya dekat Polres," ungkap JRR, Senin (24/4/2012), di Mapolda Metro Jaya. Ia menceritakan bahwa pada saat Arifin dikeroyok massa di Jalan Benyamin Sueb, dirinya tidak ada di lokasi kejadian.

JRR mengakui bahwa sebelumnya ia memang sempat datang ke lokasi itu. Namun, hanya sebentar dan kemudian pergi ke McDonalds Mal Artha Gading bersama keenam temannya yakni Hendrik, Marcel, Comeng, Jansen, Yasir, dan Denny.

"Saya di McDonalds pukul 01.00-03.00 bersama teman. Ada saksi dan rekaman CCTV yang tunjukkan saya ada di situ dan bukan di lokasi pengeroyokan," tutur JRR.

Kuasa hukum Joshua, OC Kaligis, mengatakan pada pemeriksaan pertama tanggal 10 April 2012, JRR tidak didampingi pengacara dan diancam penyidik mau diserahkan ke Armada kawasan barat (Armabar) TNI AL.

"Makanya dia mengaku apa yang dikatakan penyidik karena dia diancam katanya mau diserahkan ke TNI. Saat itu, dia belum didampingi pengacara padahal ancaman hukumannya di atas lima tahun," ucap Kaligis.

Setelah didampingi tim kuasa hukum OC Kaligis, JRR akhirnya mengubah berita acara pemeriksaannya pada tanggal 17 April 2012. Di dalam dokumen BAP baru itu, JRR menyangkal semua tuduhan polisi terkait pengeroyokan Kelasi Arifin.

Di hadapan penyidik, JRR mengatakan bahwa pada tanggal 31 Maret 2012 sekitar pukul 01.30, dirinya berada di Jalan Benyamin Sueb hanya sekitar 10 menit dan nongkrong di dekat alat berat. Setelah itu, JRR bersama keenam temannya dengan menggunakan sepeda motor bertolak ke McDonalds Mall Artha Gading.

Ketika JRR berada di lokasi kejadian, peristiwa pengeroyokan terhadap Kelasi Arifin belum terjadi. Demikian pula saat JRR melintasi jalan itu ketika pulang dari McDonalds menuju rumahnya di kawasan Koja, Jakarta Utara.

"Pas saya pulang, itu hanya ramai anak-anak nongkrong saja balapan. Saya sama sekali tidak lihat ada pengeroyokan di situ," imbuh JRR.

Diberitakan sebelumnya, Kelasi Satu Arifin Sirih, staf khusus Panglima armada kawasan barat (Armabar) TNI AL, tewas ditusuk geng motor di Jalan Benyamin Sueb, Pademangan, Jakarta Utara pada tanggal 31 Maret 2012 lalu. Massa saat itu mengeroyok Arifin karena pria itu mengacungkan sangkur untuk melerai perselisihan antara sopir kontainer dan sopir Avanza yang berserempetan serta geng motor yang marah karena jalannya terganggu kedua kendaraan itu.

Melihat Arifin mengacungkan sangkur, massa di sana kemudian berteriak lalu mengerumuni Arifin dan mengeroyoknya hingga tewas.

Polisi sudah menangkap lima orang tersangka dalam kasus ini yakni Abd alias Idung (22), Znd alias Asoi (17), Mic alias Triyono (20), Adr alias Pance (20), dan JRR (21). Seluruhnya dijerat pasal 170 KUHP tentang pengeroyokan dengan ancaman hukuman di atas lima tahun.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau