Pilkada dki

Jokowi Enam Kali Lipat Lebih Tenar Dibanding Foke

Kompas.com - 24/04/2012, 15:56 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Dipojokkan dengan isu baju koko, popularitas Joko Widodo alias Jokowi bukannya meredup, sebaliknya justru melambung tinggi, jauh melampaui Fauzi Bowo alias Foke.

Bayangkan saja, Jokowi enam kali lipat lebih populer dibandingkan dengan Foke, setidaknya di situs jejaring sosial Facebook! Di Facebook, pasangan Jokowi-Ahok memperoleh penggemar sebanyak 18.712 lewat akun Facebook kampanye beralamat di www.facebook.com/Jokowi.Basuki.

Bandingkan saja dengan penggemar pasangan cagub Foke-Nara yang "cuma" mendapatkan fans sebanyak 2.862 (www.facebook.com/bangfauzibowo).

Foke-Nara bahkan tidak lebih baik dari Hidayat Nurwahid-Didik J Rachbini yang meraup dukungan 8.214 penggemar di akun Facebook kampanye mereka, yakni www.facebook.com/HidayatDidik

Bahkan, Foke juga lebih sedikit angka dukungannya dibandingkan dengan pasangan Faisal Basri-Biem Benyamin yang meraup 4.040 fans lewat akun Facebook kampanye mereka di www.facebook.com/faisalbiem.

Sementara yang mengidolakan cagub independen lainnya, yakni Hendardji Soepanji, sebanyak 425 facebookers, di akun kampanye www.facebook.com/bangadji.

Sementara pasangan Alex Noerdin-Nono Sampono menempati posisi juru kunci alias paling buncit dengan penggemar sebanyak 50 facebookers di akun www.facebook.com/alexnonojkt.

Itulah pantauan Tribunnews pada Selasa (24/4/2012) siang ini di masing-masing akun Facebook pasangan calon penguasa nomor 1 Jakarta itu.

"Semakin Dijelek-jelekkan, Jokowi Semakin Populer", demikian judul tulisan seorang warga penulis (citizen journalist) bernama Najib Yusuf, mengomentari lonjakan popularitas Jokowi-Ahok di Facebook ini.

Sekadar kilas balik, ucapan Wali Kota Solo sekaligus Cagub Jakarta Joko Widodo soal baju koko itu terlontar secara spontan saat menjawab pertanyaan wartawan Tribunnews.

Senin, 16 April 2012 siang, saat menyambangi markas Tribunnews di kawasan Palmerah Selatan, Jakarta, Jokowi ngobrol ngalor-ngidul bersama jajaran redaksi Tribunnews, sekadar bersilaturahim.

Di sela-sela ngobrol akrab, Jokowi ditanya, "Mengapa Anda pilih baju kotak-kotak? Bukankah lazimnya jago-jago pilkada biasanya tampil agamis dengan baju koko plus kopiah di ajang kampanye terbuka ataupun lewat poster-poster?"

Ia pun menjawab spontan tanpa berpikir panjang, "Ya bosenlah. Semua yang maju ke pilkada selalu pakai baju koko dan kopiah, biar kelihatan religius."

Ucapan inilah yang kemudian menuai protes Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB). Padahal, Jokowi sama sekali tidak menyebut kata "Betawi" dalam ucapannya.

Budayawan Betawi, Ridwan Saidi, malah meminta Jokowi tak perlu meminta maaf karena baju koko sebenarnya tidak identik dengan Betawi, tidak juga identik dengan agama tertentu. Justru etnis Tionghoa sudah jauh lebih dulu identik dengan model busana tersebut.

Jokowi memilih baju kotak-kotak justru biar berbeda sekaligus melawan arus utama. Apalagi baju kotak-kotak notabene produk dalam negeri murah meriah yang digemari masyarakat Jakarta.

Jokowi saat itu menggarisbawahi kalau dirinya tak sudi menggunakan simbol-simbol agama untuk tujuan politik, termasuk kaitan dirinya melenggang ke bursa calon gubernur Jakarta.

Bagi Jokowi, urusan beribadah cukup antara dirinya dan Sang Khalik.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau