Jatuhnya pemerintahan Belanda akibat perselisihan mengenai pemangkasan anggaran menggambarkan betapa sulitnya para pemimpin Eropa mengatasi kelesuan ekonomi, timbunan utang, kemarahan pendukung, dan pasar finansial yang bergejolak.
Data pertumbuhan ekonomi dari Inggris, yang diharapkan ke luar Selasa (24/4) sore waktu setempat, akan menentukan apakah Inggris telah jatuh ke dalam resesi atau tidak. Spanyol terbukti kembali ke resesi setelah kembali terkontraksi sebesar 1,5 persen pada kuartal pertama. Sebuah negara dikatakan resesi jika dalam dua kuartal pertumbuhan ekonominya terkontraksi.
”Eropa belum menyelesaikan masalahnya dan program pemangkasan anggaran membuat segala sesuatu menjadi lebih buruk, bukannya membaik,” ujar Peter Morici, seorang ekonom di Universitas Maryland.
Pemangkasan anggaran pemerintah dapat memperlemah perekonomian dan berakibat menurunnya pendapatan pajak yang mengalir ke pemerintah. Dengan demikian, tujuan utama, yaitu pemangkasan defisit, tidak tercapai, bahkan dapat membuat defisit semakin melebar.
Jika sebuah negara mengurangi defisitnya, tetap saja negara tersebut memiliki defisit, yang berarti utang tetap bertambah besar. Uni Eropa menyebutkan banyak pemerintahan yang telah memangkas defisit anggaran mereka pada tahun 2011, tetapi tidak satu pun yang dapat meningkatkan output ekonominya
Jika mengamati data ekonomi, termasuk Purchasing Managers Index yang mengukur aktivitas sektor manufaktur, dapat dilihat bahwa zona euro kembali terjebak dalam resesi. Hal tersebut juga dijadikan argumentasi bahwa tindakan penghematan anggaran yang selama ini dijadikan senjata pamungkas untuk mengatasi krisis ternyata tidak berjalan dengan baik.
Data ekonomi perekonomian yang menunjukkan makin lemahnya zona euro membuat harga saham di Asia, Eropa, dan AS merosot pada perdagangan Senin lalu.
Di Jerman, pendapat mengenai cara pemulihan ekonomi semakin terpecah. Ada yang menyatakan bahwa tidak ada lagi pilihan untuk melaksanakan penghematan. Kritikan bahwa pemangkasan anggaran malahan menjadikan zona euro kian terpuruk semakin besar.
Di seantero Eropa banyak pemilih, politisi, dan investor yang resah mengenai pelemahan ekonomi dan melambungnya utang. Mereka mencari keseimbangan antara pertumbuhan dan disiplin fiskal.
”Zona euro bagaikan pasien yang sakit. Banyak dokter yang berkumpul untuk mengobati, tetapi mereka tidak sepakat dengan diagnosanya. Jadi, sulit mengobati si pasien,” ujar Charles Grant, direktur pada sebuah lembaga penelitian di London, Pusat Reformasi Eropa.
Senin lalu, Perdana Menteri Belanda Mark Rutte menjadi korban terbaru yang jatuh dari tampuk pemerintahan karena permasalahan ekonomi di kawasan tersebut. Rutte seakan mengikuti pemimpin dari Yunani, Portugal, Irlandia, Spanyol, dan Italia yang terjungkal karena krisis.
Jatuhnya pemerintahan Rutte membuat banyak pihak khawatir mengenai dukungan Belanda terhadap program pemulihan di bawah Uni Eropa. Di bawah Rutte, Belanda dikenal sebagai pendukung Jerman yang pro pada pengetatan fiskal.
Selain kejatuhan Pemerintah Belanda yang dikhawatirkan memengaruhi rencana perbaikan ekonomi zona euro ke depan, pemilu Perancis juga berpotensi masalah.
Di Perancis, Francois Hollande dari kubu Sosialis diperkirakan mengalahkan Nicolas Sarkozy pada pemilu presiden putaran kedua. Dalam kampanyenya, Hollande menyatakan akan bernegosiasi kembali mengenai pakta yang diusulkan Jerman dan Perancis soal disiplin fiskal. Dia ingin agar pakta tersebut menjadi lebih menekankan pada pertumbuhan. Jika Hollande menang, dia dapat berseberangan dengan Kanselir Jerman Angela Merkel yang menentang pelonggaran disiplin fiskal.
Yunani juga akan melaksanakan pemilu pada 6 Mei. Hampir pasti para pemilih akan meninggalkan partai yang saat ini berkuasa karena perekonomian tidak kunjung membaik.(AFP/Reuters/AP/joe)