Berakhirnya Era Guardiola

Kompas.com - 28/04/2012, 03:04 WIB

Era kepemimpinan Pep Guardiola sebagai Manajer dan Pelatih FC Barcelona berakhir, Jumat (27/4). Guardiola memutuskan secara resmi mundur dari klub yang telah dibesarkannya selama empat tahun itu menjadi klub terbaik dunia.

Pengumuman pengunduran diri Guardiola disampaikan langsung dalam jumpa pers, Jumat, bersama Presiden Barcelona Sandro Rosell. Turut menyaksikan acara itu beberapa pemain Barcelona yang sedih karena kehilangan sang pelatih.

”Setiap hari selama empat tahun, tuntutan-tuntutannya sangat tinggi, tekanan, energi yang dibutuhkan untuk mendorong para pemain dan menikmati itu. Saya perlu beristirahat dan menjauh,” ujar pelatih kelahiran Santpedor, Spanyol, 18 Januari 1971, itu.

Josep Guardiola i Sala, begitu nama lengkap Pep Guardiola, menjadi pelatih tersukses Barca. Sepanjang empat tahun kiprahnya di klub Catalan itu, dia mempersembahkan 13 trofi, termasuk tiga gelar juara La Liga (2008-2011) dan dua gelar juara Piala Champions Eropa (2008/2009 dan 2010/2011).

”Saya memohon maaf untuk semua ketidakpastian yang saya buat hingga saat ini mengenai masa depan saya. Mungkin itu kesalahan saya. Saya tidak bermaksud demikian,” ujar Guardiola.

Pelatih Terbaik Dunia FIFA tahun 2011 itu mengatakan, sebenarnya memutuskan mundur dari Barcelona sejak Desember 2011. Namun, dia memilih untuk menunggu hingga peluang timnya memburu trofi-trofi besar tertutup.

”Pada Desember, saya mengatakan kepada presiden dan direktur olahraga, saya melihat akhir tugas saya di sini. Namun, saya mempunyai masalah karena saya tidak bisa mengatakannya kepada para pemain. Itulah mengapa perlu waktu sangat lama,” ujarnya.

Setelah empat tahun menangani Barca, Guardiola merasa tidak memiliki apa-apa lagi untuk diberikan kepada klub itu. Oleh karena itu, dia pun tidak ingin menunda pengunduran dirinya sampai berakhirnya musim kompetisi 2011-2012 karena hanya akan menambah ketidakpastian.

Kekalahan dari Chelsea di semifinal Liga Champions dan kalah dari Real Madrid pada perebutan angka penting untuk menjadi juara kompetisi La Liga semakin memantapkan Guardiola untuk mundur dari Barca. Padahal, Rosell terus membujuknya agar bertahan.

Persaingannya dengan Manajer/Pelatih Real Madrid Jose Mourinho kian menghidupkan La Liga sehingga liga itu kian diminati penggemar sepak bola dunia. Laga el clasico pun selalu ditunggu-tunggu di seluruh dunia.

Guardiola juga pernah mendulang sukses sebagai pemain Barcelona. Dia mengatakan, walau sembari bercanda, Barcelona adalah klub tempat siapa pun dapat bekerja untuk masa tiga atau empat tahun.

Tekanan yang ditanggung seorang manajer/pelatih Barca berat. Guardiola pun menyadari, sukses klub itu harus dibayar mahal dengan kehidupannya sendiri. Alhasil, dia pun sangat sadar kepemimpinannya yang terus mengendur karena beratnya tekanan itu malah akan merugikan klub tersebut jika dibiarkan terus. Inilah sikap seorang pemimpin yang bijak, yang lebih mementingkan kepentingan klub dan pemainnya ketimbang kepentingan dirinya sendiri.

Tantangan baru

Profil dua pelatih tersukses sepak bola pada saat ini, Pep Guardiola dan Jose Mourinho, tidak banyak berbeda. Mereka selalu merindukan tantangan, penyegaran, dan pembaruan dalam hidupnya sehingga tidak cepat berpuas diri dan enggan puas hanya dengan meraih kesuksesan di satu tempat.

Guardiola mengindikasikan akan beristirahat dari sepak bola selama sekitar setahun. Dia juga belum tahu akan ke mana setelah itu. Namun, bagi pelatih berkualitas sekaliber Guardiola, pasti banyak klub tertarik segera merekrutnya.

Bahkan, pemilik Chelsea, Roman Abramovich, dilaporkan cukup lama mendorong Guardiola agar mundur dari Barca. Pemilik Chelsea itu pun berani menawari 40 juta poundsterling (sekitar Rp 580 miliar) untuk kontrak selama empat tahun menukangi Chelsea.

Angka itu lebih besar dari gaji bersihnya di Barca, sekitar 8 juta poundsterling (sekitar Rp 116 miliar) per musim. Jika Guardiola menerima tawaran itu, dia akan menjadi manajer/pelatih dengan bayaran termahal di dunia.

Ketika masuk sebagai manajer/pelatih baru Barca, menggantikan Frank Rijkaard, Guardiola mengubah bagaimana cara pemain berlatih, membangun mentalitas di klub, dan lebih memajukan program pemain muda di klubnya. Kesempatan besar kepada para pemain muda itu membuahkan hasil dengan kemunculan Lionel Messi, Xavi Hernandez, dan beberapa pemain inti Barca, saat ini sebagai pemain-pemain tangguh dan mumpuni.

Guardiola pun mengubah taktik timnya yang semula bermain cenderung kaku dengan membuat para pemainnya lebih mengalir dan bebas menjelajahi seluruh bagian lapangan. Hasilnya, aliran bola para pemain Barca terkenal menjadi yang terbaik di dunia dengan istilah taka-tiki.

Meski demikian, Guardiola pun punya banyak kelemahan. Metode dia mengambil keputusan dan pengelolaan para pemainnya justru kerap merugikan klub. Langkah itu pula yang kemudian meruntuhkan keperkasaan Barca.(AP/Reuters/OKI)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau