Sudan

Keadaan Darurat Diberlakukan

Kompas.com - 01/05/2012, 03:59 WIB

khartoum, senin - Pemerintah Sudan di Khartoum, Minggu (29/4), menetapkan ”negara dalam keadaan darurat”. Hal ini berlaku di sepanjang perbatasan dengan negara tetangganya, Sudan Selatan.

Kebijakan itu muncul sehari setelah penangkapan empat orang asing di Heglig, lokasi ladang minyak yang memicu pertikaian sengit kedua negara sejak 10 April.

Presiden Omar al-Bashir mengeluarkan satu resolusi yang menegaskan keadaan darurat. Hal itu diberlakukan di perbatasan Negara Bagian Kordofan Selatan, Nil Putih (White Nile), dan Sennar, dekat perbatasan Sudan Selatan. Di bagian lain di perbatasan, keadaan darurat sudah ditetapkan lebih dahulu.

Tindakan itu menunda konstitusi dan memberlakukan embargo perdagangan terhadap Sudan Selatan. Perdagangan di seluruh perbatasan secara tidak resmi telah dihentikan sejak kemerdekaan Suda Selatan pada 9 Juli 2011.

Resolusi itu ”memberikan hak istimewa kepada presiden dan siapa saja” untuk membentuk pengadilan khusus, sambil berkonsultasi dengan hakim agung.

Pengadilan akan menangani kasus kriminal dan ”teroris”. Sentimen nasionalisme di Sudan menguat setelah Sudan Selatan menduduki Heglig, sumber minyak Sudan, selama 10 hari.

Memerangi ”serangga”

Pertikaian di Heglig merupakan yang paling parah sejak kemerdekaan Sudan Selatan. Konflik memicu kekhawatiran akan pecahnya lagi perang besar, yang pernah melelahkan kedua belah pihak selama 22 tahun sebelum perjanjian damai pada tahun 2005.

Sudan bersumpah akan memerangi ”serangga” Selatan sampai tuntas. Sudan Selatan keluar dari Heglig setelah ada tekanan internasional.

Jens-Petter Kjemprud, Duta Besar Norwegia untuk Sudan, Minggu (29/4), mengekspresikan keprihatinan mendalam atas penangkapan empat warga asing, termasuk satu warga Norwegia. Dia dan diplomat lain tidak dapat bertemu dengan empat orang yang ditangkap tentara Sudan.

”Kami belum mendapatkan akses,” kata Kjemprud. Norwergia memiliki hubungan baik dengan Sudan Selatan dan pejabat Inggris terkait empat warga asing itu.

Tentara Sudan, Senin (30/4), mengaku menangkap keempat orang asing itu di Heglig. Mereka ditangkap saat mengumpulkan ”puing-puing akibat perang untuk penyelidikan”.

Kjemprud mengatakan, permintaan telah berulang kali disampaikan ke Khartoum. Meski demikian, mereka tetap belum bisa mendapatkan akses untuk menjenguk keempat orang itu. ”Kami menaruh perhatian dan berkeinginan menjenguk mereka segera mungkin,” katanya.

Jan Lelang, Direktur Misi Bantuan Rakyat Norwegia di Juba, mengatakan, salah satu yang ditangkap, John Sorbo, adalah anggota stafnya. (AFP/AP/CAL)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau