MEDAN, KOMPAS.com -- Sebanyak 40 kontainer besi bekas yang diimpor PT Growth Sumatra Industry, positif mengandung limbah bahan beracun dan berbahaya (B3). Bea dan Cukai Belawan, Sumatera Utara, menunggu keputusan Kementerian Lingkungan Hidup untuk menangani kontainer-kontainer yang masih tertahan di Belawan International Container Terminal (BICT) itu.
Hingga Selasa (1/5/2012), kontainer tersebut masih menumpuk di BICT. Kontainer tersebut diimpor dari Belanda, Amerika Serikat, dan Rusia. Kandungan B3 di dalam kontainer itu antara lain berupa karet, lampu bekas, travo bekas, dan oli bekas. Belasan kontainer juga terindikasi mengandung limbah B3 dengan tanda-tanda kotor dan berbau.
"Untuk tindak lanjut atas kontainer yang mengandung B3 itu, kami menunggu rekomendasi dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH). Sementara ini, kami hanya menahannya agar tidak keluar dari pelabuhan," tutur Kepala Seksi Penindakan dan Penyidikan Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Belawan Teguh Priyono.
Teguh mengatakan, KLH merupakan institusi yang berwenang memeriksa dan menentukan boleh atau tidak besi impor itu diangkut ke pabrik. Jika KLH melarang, Bea dan Cukai meminta importir untuk mengirim kembali (reekspor) besi bekas itu ke negara asal.
Teguh menambahkan, 40 kontainer berisi besi bekas yang mengandung limbah B3 tersebut merupakan bagian dari 213 kontainer yang sudah diperiksa. Saat ini, masih ada 690 kontainer yang menumpuk dan menunggu pemeriksaan.
Kontainer tersebut tiba di BICT sejak dua bulan lalu. Importir meminta kejelasan pemerintah atas kepastian status kontainer tersebut. "Biar kami bisa mengambil tindakan untuk kami bawa pulang atau kami kembalikan (reekspor)," kata Kepala Bagian Operasional PR Growth Sumatra Industry Maidi.
Ia mengatakan, PT Growth Sumatra Industry tidak dapat terlalu lama menunggu. Sebab, biaya penyimpanan dan pemeriksaan kontainer sangat mahal. Untuk memindahkan satu kontainer dari penyimpanan ke lokasi pemeriksaan butuh biaya Rp 630.000 per kontainer. Belum lagi biaya penyimpanan yang mencapai Rp 210 juta per bulan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang