MANCHESTER, KOMPAS.com - Stadion Etihad riuh oleh teriakan dan tepuk tangan suporter Manchester City begitu wasit Andre Marriner meniup peluit panjang, Selasa (1/5). City kembali ke puncak Liga Primer setelah menang 1-0 atas Manchester United. Namun, persaingan meraih gelar juara belum selesai.
Manchester City dan Manchester United (MU) kini sama-sama mengantongi 83 poin. City berhak berada di puncak klasemen karena unggul selisih delapan gol dibandingkan MU. Dengan dua sisa pertandingan, persaingan dua rival bebuyutan ini semakin ketat.
City memiliki jadwal yang lebih berat karena harus bertandang ke markas Newcastle United sebelum mengakhiri liga dengan menjamu Queens Park Rangers. Sedangkan lawan MU lebih ringan, Swansea dan Sunderland. Jika City dan MU menang dalam dua laga terakhir, City akan meraih trofi juara, bermodal keunggulan selisih gol.
Namun, City bisa terjegal oleh Newcastle yang tangguh di kandang. Apalagi, ”The Magpies” dalam motivasi tinggi mengejar jatah Liga Champions musim depan. Mereka membutuhkan tiga poin setelah pekan lalu kalah 0-4 di kandang Wigan Athletic.
”United masih favorit. Swansea dan Sunderland tidak memiliki sesuatu untuk diperjuangkan. Saya sangat senang kami di puncak (klasemen), tetapi itu tidak mengubah apa pun,” kata Pelatih City Roberto Mancini.
City mengungguli MU berkat gol sundulan Vincent Kompany menjelang turun minum. Kapten City itu meloncat sangat tinggi, mengungguli bek MU Chris Smalling untuk menyambut tendangan sudut David Silva.
Gol itu disambut teriakan dan tepuk tangan ribuan suporter City. Gemuruh itu mengiringi mimpi buruk Pelatih MU Sir Alex Ferguson yang gagal membawa pulang poin.
MU yang menjalani derbi dengan keunggulan tiga poin mencoba bertahan. Ferguson memasang lima gelandang di depan empat pemain bertahan. Wayne Rooney sendirian di depan.
Ferguson memilih pemain-pemain tua seperti Paul Scholes, Ryan Giggs, dan Park Ji-sung sebagai gelandang. Tiga pemain veteran itu tidak mampu mengimbangi dominasi City yang digalang Yaya Toure dan Gareth Barry yang tampil fantastis.
City menumpukan serangan melalui bek sayap Pablo Zabaleta dan Samir Nasri. Kedua pemain ini mengeksploitasi wilayah bek kiri Patrice Evra untuk menembus pertahanan MU.
Di babak pertama, Nasri dan Zabaleta menyelesaikan 18 dan 13 umpan. Tendangan sudut Silva yang melahirkan gol Kompany berawal dari kombinasi serangan Nasri dan Zabaleta.
Dari statistik pertandingan yang dicatat The Guardian, City menciptakan tiga tendangan ke arah gawang dari 15 percobaan. Sedangkan MU hanya menghasilkan lima tendangan dan tidak ada yang mengarah ke gawang.
”Ini hasil yang merusak. Mereka kini di kursi kemudi. Mereka hanya butuh dua kali kemenangan lagi, dan mereka juara liga. Sesederhana itu,” ujar Ferguson. ”Ini belum berakhir, tentu ini belum berakhir. Tetapi situasinya mereka unggul delapan gol dan itu keuntungan besar,” ujarnya.
(Reuters/AFP/AP/ANG)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang