TKW asal Blitar Tewas di Rumah Majikan di Riyadh

Kompas.com - 04/05/2012, 19:28 WIB

BLITAR, KOMPAS.com - Seorang tenaga kerja wanita (TKW) asal Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, bernama Yanah (32) diketahui tewas saat bekerja di rumah majikannya, Riyadh, Arab Saudi.

Edi Subagyo, suami korban yang ditemui di rumahnya Desa Kebon Duren, Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar, mengatakan Yanah menghubunginya beberapa pekan lalu.

"Ia menanyakan kabar anak-anak dan keadaan mereka. Ia memang sering menghubungi keluarga dan terutama kondisi anak. Tapi, saya tidak menyangka jika telepon itu adalah yang terakhir," ucapnya dengan sedih, Jumat (4/5/2012).

Ia mengaku cukup kaget ketika diberitahu istrinya telah meninggal dunia di tempat majikannya. Kabar duka itu diterima pada 31 Maret 2012 lalu. Saat itu, yang menghubungi keluarga adalah pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) yang mengabarkan jika Yanah meninggal dunia.

Kakak korban, Sucipto mengatakan saat menghungi keluarga dua pekan lalu, ia sempat mengabarkan jika kondisinya dalam keadaan baik. Yanah tidak mengeluhkan jika sedang sakit.

Selain itu, kata dia, Yanah juga selalu bercerita tentang kondisi kesehatannya. Ia selalu mengatakan pada keluarga jika kondisinya sedang sakit maupun sikap dari keluarga majikan.

Pihak keluarga tidak yakin jika Yanah meninggal karena sakit. Keluarga masih ragu, karena selama ini Yanah selalu mengabarkan jika kondisinya baik-baik saja. Keluarga menduga, ia dibunuh.

Selama ini, keluarga majikan dari Yanah juga tidak pernah berupaya untuk menghubungi keluarga Yanah di Indonesia. Padahal, ia diketahui meninggal dua bulan lalu dan sampai saat ini jenazahnya juga belum dipulangkan ke Indonesia.

Keluarga sampai saat ini masih berupaya meminta bantuan dari pemerintah untuk memulangkan jenazah Yanah. Keluarga ingin memastikan secara langsung tentang kondisi Yanah, termasuk memeriksa kondisi tubuhnya, apakah organ tubuhnya masih lengkap atau ada luka.

Sementara itu, Kepala Bidang Penempatan Tenaga Kerja Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Kabupaten Blitar Yudi Priono mengaku sudah mendapatkan laporan tentang kematian TKI asal Kecamatan Ponggok tersebut.

"Kami sudah mendapatkan laporan tentang kematian TKI tersebut. Saat ini, kami berupaya agar jenazah segera dipulangkan," ucapnya.

Tentang surat dan PJTKI bersangkutan, Yudi mengatakan belum menemukan dokumen TKW tersebut di kantor. Namun, pihaknya tetap berupaya untuk mengurus proses pemulangan TKW tersebut, serta mendesak PJTKI bersangkutan untuk memberikan hak-hak dari TKW itu.

Yanah berangkat bekerja menjadi TKW ke Arab Saudi sejak 2010 lalu menjadi pembantu rumah tangga di sebuah keluarga di Riyadh rumah Abdul Aziz. Ia berangkat pada Juni 2010 lalu melalui PT Amri di Jakarta Selatan.

Yanah dan suaminya, Edi Subagyo sudah lama menikah. Keduanya dikaruniai tiga orang anak yaitu Siti Naimah (21), Diah Ayu (19), dan Yasin (16).

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau