Internet Rentan, Indonesia Belajar dari Jepang

Kompas.com - 07/05/2012, 19:26 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Setiap hari, situs-situs web dan server internet di Indonesia mendapat serangan cyber sebanyak 1,5 juta kali. Untuk mencegahnya, Indonesia sampai harus belajar ke Jepang.

Hingga saat ini, Jepang adalah salah satu negara dengan jumlah hacking terbesar di dunia. Japan CERT adalah salah satu organisasi pemerintah yang mengawasi internet dengan 700 sensor lebih, tersebar di seluruh penjuru di Negeri Sakura.

Pada 2009, jumlah situs web dan server internet di Jepang yang diretas oleh hacker telah mencapai 2 juta kali. Oleh karena itu, Indonesia memandang perlu untuk belajar tentang hacking dari Jepang.

"Kita memang baru saja kerja sama dengan Kementerian ICT Jepang untuk membahas cyber crime lintas negara," kata Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring, saat ditemui di acara Journal Radio Asia "Connect Me to the World" di Hotel Crown Plaza Jakarta, Senin (7/5/2012).

Dengan kerja sama tersebut, Indonesia dan Jepang bisa belajar mengetahui dari mana serangan hacking yang dilakukan sekaligus cara mengatasi serangan hacking dari seluruh dunia.

Kerja sama tersebut diwujudkan dalam penandatanganan kerja sama (Memorandum of Understanding/ MOU) antara Kementerian Komunikasi dan Informatika dan Kementerian ICT Jepang.

"Ini memang masih awal, detail kerjasamanya baru akan kami rancang kemudian," ujarnya.

Kepala Pusat Informasi dan Hubungan Masyarakat Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Gatot S Dewa Broto menjelaskan, serangan hacker setiap tahun mengalami peningkatan secara signifikan.

"Di tahun lalu saja, sudah ada rata-rata 1,25 juta kali per hari. Bahkan tahun lalu situs Kominfo juga jebol hingga tiga kali," kata Gatot.

Gatot mengaku serangan hacker tersebut kebanyakan berasal dari alamat IP Amerika Serikat, Rusia, China, dan sebagian kecil dari negara-negara di Eropa. Kebanyakan dari hacker tersebut berasal dari perseorangan.

Ketua Indonesia Security Incident Response Team on Internet Infrastructure (ID-SIRTII) Rudy Lumanto menjelaskan, peningkatan serangan hacker tersebut dilakukan karena seiring pertumbuhan pengguna internet di Tanah Air dan luar negeri.

"Hacker tersebut biasanya menyerang situs-situs lembaga pemerintah. Bukan secara khusus menyerang, tetapi biasanya mereka cuma iseng," kata Rudy.

Rudy mengaku serangan tersebut memang beragam, tidak hanya dari dalam negeri, tetapi juga berasal dari luar negeri.

Akan tetapi, Rudy juga tidak bisa langsung menerka bahwa hacker tersebut berasal dari luar negeri secara murni. Bisa saja, hacker tersebut berasal dari Indonesia,  tetapi memakai alamat Internet Protocol (IP) luar negeri.

Serangan hacker tersebut biasanya menyerang komputer berbasis SQL, DOS, ICNT, dan bahkan bisa berupa virus berbahaya (malware).

"Biasanya kecenderungan serangan hacker meningkat di awal dan akhir tahun. Bahkan serangan itu bisa meningkat dua kali lipat dari hari biasa," tuturnya.

Bidang Hubungan Kerja Sama Antarlembaga ID-SIRTII Muhammad Salman menjelaskan, serangan hacker tersebut biasanya menyerang aplikasi berbasis  database web.

"Akan tetapi, serangan berbasis web database, seperti SQL dan semacamnya, itu tidak terlalu mengkhawatirkan. Untuk mengatasinya juga tidak sulit," kata Salman.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau