Kotoran Burung Jatuh di Lembar Jawaban UN

Kompas.com - 08/05/2012, 13:18 WIB

Kompas.com - Selain bangunan sekolah yang nyaris roboh, siswa SDN I Sukalilah, Cibatu, Garut, Jawa Barat juga mendapat gangguan lain ketika mengerjakan soal ujian nasional (UN). Gangguan tersebut adalah 'serangan' burung dan tikus yang membuang kotoran sembarangan.

Akibatnya, ketika ujian baru berlangsung beberapa menit, beberapa murid terpaksa meminta lembar jawaban baru karena lembar jawaban mereka yang sebelumnya dibagikan pengawas kotor akibat "hadiah" kotoran burung yang bersarang di atap ruang ujian.

Sedikitnya ada empat peserta ujian yang meminta lembar jawaban cadangan kepada pengawas ujian. Akibat kejadian langka tersebut, pihak sekolah dan pengawas meminta murid untuk ekstrahati-hati karena terbatasnya lembar jawaban cadangan.

Bahkan ketika ujian berlangsung, sejumlah murid tampak sibuk melindungi lembar jawaban ujian dengan badan mereka. Sebagian lagi tampak tidak tenang dan sesekali menengok ke bagian atap kelas yang bolong karena khawatir ada burung yang membuang kotoran.

"Ada burung di atap kelas. Enggak tahu burung apa. Tapi kotorannya jatuh mengenai lembar jawaban," kata seorang peserta ujian, Senin (7/5/2012).

Selain serangan kotoran burung, tidak adanya langit-langit sebagai atap kelas juga dikhawatirkan para siswa ketika turun hujan karena kemungkinan air hujan akan langsung merembes dari genting.

Dede, salah seorang pengawas ujian, mengakui di satu ruang ujian saja, ia mencatat sudah ada empat peserta ujian yang meminta lembar jawabannya diganti dengan lembar jawaban baru. Penyebabnya, kata dia, semuanya terkena kotoran burung yang langsung jatuh dari atap kelas yang tidak memiliki langit-langit.

"Atapnya bolong, jadi kalau ada sesuatu dari atap yang jatuh, maka akan langsung mengenai murid," kata dia.

Kepala SDN Sukalilah 1, Ana Suryana, mengatakan beberapa kelas di sekolah yang dipimpinnya tersebut memang sudah rusak sejak beberapa tahun lalu. Namun, ia mengaku tak dapat berbuat banyak untuk memperbaiki kondisi kelas yang rusak tersebut.

"Bahkan peserta ujian ini diungsikan ke kelas yang lebih bagus karena kelas buat ujian kondisinya lebih parah," ujarnya.

Ia mengaku sudah beberapa kali memberitahukan kondisi sekolah tersebut ke Dinas Pendidikan Kabupaten Garut. Namun, kata dia, hingga kini permohonan mereka tak kunjung terealisasi. "Ya, kami berharap Pemkab Garut secepatnya melakukan perbaikan di sekolah kami. Sangat berbahaya bagi anak-anak kalau kelasnya tetap seperti ini," ujar Ana.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau