Satu Hiu Bernilai Rp 1,6 Miliar

Kompas.com - 08/05/2012, 16:04 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Perburuan hiu berlangsung di berbagai wilayah, termasuk Raja Ampat yang menjadi primadona pariwisata Indonesia saat ini.

Baru-baru ini, masyarakat lokal Raja Ampat dan tim patroli menjumpai 33 nelayan dengan 7 kapal memburu ikan hiu. Upaya penangkapan dilakukan, tetapi sayangnya pelaku berhasil lolos.

Selama ini, perburuan hiu untuk mendapatkan siripnya dianggap memberikan nilai ekonomi yang luar biasa besar. Namun, kenyataan bicara berbeda.

"Kalau kita memburu ikan hiu lalu kita jual siripnya, paling harga pada akhirnya hanya Rp 200.000-an. Setelah itu putus," ungkap Ketut Sarjana Putra, Direktur Conservation International Indonesia (Direktur CI Indonesia).

Sementara itu, nilai ekonomi jika hiu dibiarkan hidup justru lebih besar dan lebih kontinu.

Ketut memaparkan, berdasarkan hasil studi Australian Institute of Marine Science tahun 2010 di Palau, seekor ikan hiu diperkirakan memiliki nilai ekonomis Rp 1,6 miliar dan nilai seumur hidup sebesar Rp 17,5 miliar untuk industri pariwisata.

Keberadaan ikan hiu di Raja Ampat menjadi salah satu daya tarik wisatawan di samping kekayaan ekosistem terumbu karang.

Saat ini, potensi pariwisata hiu di Raja Ampat diperkirakan Rp 165 miliar per tahun. Sumbangan terhadap pendapatan daerah diperkirakan Rp 2,5 miliar per tahunnya.

"Jadi, pariwisata nilainya lebih besar," ungkap Ketut kepada Kompas.com, Selasa (8/5/2012).

Nilai pariwisata hiu yang lebih besar sudah saatnya menjadi dasar upaya konservasi hiu dan ekosistem Raja Ampat secara keseluruhan. Semua pihak harus ikut serta dalam upaya konservasi ini.

Terkait dengan adanya perburuan hiu di Raja Ampat, Ketut menilai bahwa pemerintah perlu menambah jumlah patroli di perairan Raja Ampat. Jumlah patroli saat ini baru satu per daerah konservasi.

Masyarakat adat Kawe sudah menetapkan wilayah seluas 155.000 hektar di Wayag dan Sayang sebagai daerah tertutup bagi perikanan. Mereka memantau kawasan ini 24 jam untuk mencegah praktik perikanan ilegal.

"Pemerintah perlu memperkuat pemantauan yang sudah oleh masyarakat ini," kata Ketut.

"Jika hiu sampai hilang, ruginya miliaran. Wisatawan mungkin tidak akan datang lagi ke Raja Ampat," tambahnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau