Tebersit Rasa Sesal di Hati Ferguson

Kompas.com - 08/05/2012, 19:58 WIB

MANCHESTER, KOMPAS.com - Masih satu laga tersisa menjelang akhir musim Premier League. Keuntungan sudah dipegang oleh Manchester City untuk meraih gelar musim ini, namun Manchester United masih berharap ada keajaiban.

Hanya saja, di balik itu semua, tebersit rasa sesal dalam hati manajer Manchester United, Sir Alex Ferguson. Pelatih berusia 70 tahun itu masih berandai-andai tentang pertandingan-pertandingan krusial yang pernah dihadapi oleh MU.

Hal utama yang disesali oleh Ferguson adalah hasil imbang 4-4 saat menjamu Everton di kandangnya sendiri, Old Trafford, 22 April lalu. Menurutnya, dua gol yang dicetak Everton belakangan seharusnya tidak terjadi andaikan Patrice Evra dan kawan-kawan menerapkan cara bertahan ala Italia di akhir pertandingan yang diterapkan Roberto Mancini dalam laga-laga terakhir City.

Tim berjuluk "Setan Merah" itu sempat unggul dua gol ketika menghadapi Everton, 22 April lalu, namun mereka kemudian kehilangan dua poin karena kebobolan dua gol lagi hingga laga berakhir imbang.

"Pada akhirnya kami kehabisan waktu. Mancini membuat perubahan penting di belakang. Ini adalah mental permainan Italia dan mungkin kadang-kadang kami harus mencoba melakukannya," katanya seperti dilansir oleh Goal.com.

"Kami sebenarnya pasti bisa menang dengan bertahan saat melawan Everton. Jika kami telah melakukan sebagian kecil dari apa yang dilakukan City itu maka saya mungkin akan mengatakan hal yang berbeda," ungkapnya kemudian.

Ferguson mengatakan bahwa pasti MU-lah yang berada di ambang gelar juara Premier League jika berhasil merebut poin penuh dalam laga itu. Oleh karena itu, dia mendapuk laga melawan pasukan David Moyes itu sebagai laga paling krusial bagi timnya.

"Jika kami kalah di liga musim ini, tak ada keraguan bahwa laga yang sangat penting adalah yang berakhir dengan hasil imbang 4-4 (melawan Everton," tambahnya.

Hal kedua yang disesali oleh Ferguson adalah derbi Manchester, Oktober tahun lalu. Saat itu, lagi-lagi di rumahnya sendiri, MU dihajar 1-6 oleh City. "Menang besar" membuat City lebih unggul dalam selisih gol meski mereka mengantongi poin yang sama di klasemen.

Mereka juga kembali dibungkam dalam derbi Manchester di Etihad. Kali ini 0-1. Lini belakang MU masih juga tak sanggup menahan gempuran City yang tampil dengan tekanan lebih tinggi.

Ferguson menyadari bahwa MU akhirnya harus membayar harga atas keteledoran itu. Pasalnya, jika ingin menang, mereka harus unggul dengan sembilan gol pada laga terakhir jika baik mereka maupun City masing-masing menang melawan Sunderland dan QPR.

"Kami membayar untuk itu sekarang dengan City memegang keuntungan," katanya.

Kini, MU hanya bisa berharap. Namun, Ferguson mengingatkan bahwa timnya tak pernah meninggalkan filosofi menyerang mereka dalam pertandingan. Itu yang bisa dibanggakan oleh pelatih asal Skotlandia itu.

"Bukan natur kami untuk menutup diri dan saya berpikir bahwa ini adalah naluri menyerang kami yang alamiah, pendekatan yang sangat berani yang membuat United itu terkenal. Dalam hal ini pula, kebijakan, yang menjadikan kami juara dalam beberapa raihan trofi," tuturnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau