Transportasi

Pertimbangkan Pembangunan MRT

Kompas.com - 10/05/2012, 09:03 WIB

XIAMEN, KOMPAS.com — Jakarta dalam waktu dekat akan segera memulai pembangunan kereta api cepat (mass rapid transit). Proyek ini perlu dipertimbangkan dengan masak-masak.

China tahun-tahun belakangan ini justru lebih mengembangkan pembangunan sistem transportasi berbasis bus (BRT) ketimbang MRT karena pertimbangan efisiensi dan prosesnya lebih singkat. Di Xiamen, China, misalnya, pembangunan infrastruktur yang semula disiapkan untuk LRT malah kemudian diubah dan digunakan untuk BRT.

Institute for Transportation and Development (ITDP) Indonesia secara khusus mengunjungi Xiamen, China, untuk mempelajari itu. BRT di Xiamen yang mulai beroperasi tahun 2008 ini akhirnya menjadi BRT layang pertama di dunia. Koridornya sangat panjang dan menyeberangi laut karena Xiamen berupa pulau.

"Ini bisa dijadikan pelajaran berharga untuk Indonesia yang sekarang ini juga mulai membangun MRT yang tahap pertama menghabiskan anggaran Rp 17 triliun," kata Country Director ITDP Indonesia Yoga Adiwinarto, saat melihat stasiun BRT layang di Xiamen kemarin, seperti dilaporkan wartawan Kompas Sutta Dharmasaputra yang ikut rombongan itu.

Hadir juga Kepala Dinas Perhubungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta Udar Pristono, Wakil Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Wahyono, dan Kepala Badan Layanan Umum Transjakarta M Akbar, serta Zhu Xianyuan dari ITDP China.

Pembangunan tahap pertama, Lebak Bulus-Hotel Indonesia akan menelan biaya Rp 17 triliun. Dananya berasal dari pinjaman Jepang dan ditargetkan dapat dioperasikan tahun 2016. Sistem transportasi massal berbasis MRT ini memang sangat mahal apabila dibandingkan dengan LRT, kereta rel layang, apalagi dibandingkan dengan BRT, sistem transportasi massal berbasis bus atau biasa dipanggil busway.

Sebagai gambaran betapa ekonomisnya BRT dibanding sistem transportasi lain, dengan biaya Rp 17 triliun itu bisa dibangun jalur BRT sepanjang 426 kilometer, sedangkan untuk LRT sepanjang 40 km dan MRT hanya sekitar 7 km.

Pristono juga mengakui bahwa BRT memang lebih ekonomis. Namun, menurut dia, MRT tetap diperlukan seperti juga yang dilakukan kota-kota metropolitan di dunia. BRT dan MRT itu bisa saling melengkapi. "Dengan MRT, kota metropolitan jadi tambah cantik," ucapnya.

Menurut Pristono, MRT tetap diperlukan di Jakarta karena daya angkutnya yang besar, yaitu sekitar 100.000 penumpang per jam per arah. Adapun LRT hanya  50.000-80.000 penumpang  dan BRT 5.000-40.000 penumpang, seperti di Bogota.

Yoga berpendapat, MRT di Jakarta memang bisa dilanjutkan. Namun, kalau di tengah jalan ternyata mengalami kesulitan pembiayaan, pengalaman di Xiamen ini bisa dijadikan pelajaran berharga.

Infrastruktur yang sudah dibangun ternyata bisa juga digunakan untuk BRT meski tidak sempurna.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau