Piala jerman

Gemuruh Dortmund Vs Bayern di Ujung Musim

Kompas.com - 12/05/2012, 03:52 WIB

BERLIN, JUMAT - Seluruh tiket telah ludes terjual. Dengan kapasitas 74.497 penonton, Stadion Olimpiade, Berlin, bakal membeludak oleh suporter dan penggemar sepak bola saat dua klub terbaik Jerman, Borussia Dortmund dan Bayern Muenchen, bertarung memperebutkan trofi Piala Jerman, Sabtu (12/5) atau Minggu dini hari WIB.

Bagi publik sepak bola Jerman, duel Dortmund versus Bayern di final Piala Jerman menjadi laga penutup yang sempurna musim ini sebelum Bayern menggelar final Liga Champions pada 19 Mei mendatang. ”Ini salah satu laga-laga terbesar di Jerman tahun-tahun terakhir ini. Kami tak sabar menantinya,” kata Juergen Klopp, Pelatih Dortmund.

Dortmund, juara Bundesliga dua musim terakhir, bertekad mengawinkan gelar liga yang sudah mereka dapatkan dengan trofi Piala Jerman. Dalam empat pertemuan terakhir melawan Bayern, mereka selalu menang. Itu sebabnya, suporter Dortmund begitu antusias menyambut laga tersebut dan pemesanan tiket mereka mencapai 350.000 buah.

Dortmund tak terkalahkan dalam dalam 28 laga terakhir musim ini, hingga akhirnya memastikan diri juara Bundesliga, dengan unggul delapan poin di atas Bayern, tim peringkat kedua klasemen akhir. Sebastian Kehl dan kawan-kawan berharap, konsentrasi pemain Bayern terpecah oleh persiapan melawan Chelsea di final Liga Champions.

Disiarkan ke 150 negara

Laga Dortmund versus Bayern itu bakal disiarkan langsung di lebih dari 150 negara, termasuk Indonesia melalui RCTI mulai Minggu pukul 00.30. Dalam dua kali pertemuan di Bundesliga musim ini, Dortmund memukul Bayern masing-masing dengan skor 1-0.

Namun, Bayern memiliki catatan fantastis di final Piala Jerman. Dari 17 kali penampilan, 15 kali mereka menang. Angka ini jauh di atas pencapaian Dortmund yang menang dua kali dari empat penampilan di partai puncak ajang tersebut.

Terakhir kedua tim bertemu di final Piala Jerman terjadi pada 2008 saat dua gol Luca Toni jadi penentu kemenangan Bayern 2-1 lewat babak perpanjangan waktu. Dortmund terakhir juara Piala Jerman sudah 23 tahun silam saat menang 4-1 atas Werder Bremen.

Bagi Dortmund, jika sukses memenangi Piala Jerman, itu bakal menjadi pencapaian pertama dalam 103 tahun sejarah mereka mengawinkan gelar juara Bundesliga dengan Piala Jerman.

Dendam dan ambisi

Sudah pasti tak mudah bagi Dortmund untuk mengukir sejarah itu. Bukan hanya didorong untuk membayar dendam akibat kekalahan dari Dortmund musim ini, para pemain Bayern juga ambisius mengukir rekor pribadi masing-masing.

Kiper Bayern, Manuel Neuer, misalnya, bertekad kuat mempertahankan trofi yang direbutnya musim lalu bersama Schalke 04. ”Ini laga spesial bagi kami. Saya benar-benar ingin mempertahankan gelar itu dan bisa merayakan bersama Bayern untuk pertama kalinya,” kata Neuer.

Gelandang Bastian Schweinsteiger juga tak ketinggalan memendam ambisi pribadi. Laga ini merupakan aksi keenam di final Piala Jerman dan ia selalu menang dalam lima final sebelumnya. Jika kembali juara, gelandang andalan timnas Jerman itu bakal menyamai rekor kiper Oliver Kahn yang juara enam kali dari enam final Piala Jerman.

”Ini bakal menjadi final Piala (Jerman) yang pernah saya jalani bersama Bayern,” ujar Schweinsteiger. ”Saat ini, Dortmund tengah dalam bentuk permainan optimal. Mereka sering tampil dengan tepat, tetapi saya benar- benar yakin bahwa kami punya kualitas mengalahkan mereka.”

Masih ada enam hari setelah laga itu untuk memulihkan fisik dan mental—dan itu lebih dari cukup—bagi Bayern sebelum berlaga di final Liga Champions,

(AP/AFP/SAM)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau