MINGGU (13/5/2012) yang menegangkan buat kota Manchester. Ketegangan seolah menyelimuti kota ini, seperti halnya ketegangan yang dirasakan jutaan penggemar sepak bola seluruh dunia.
Hari penentuan gelar Premier Legaue 2011-2012 seolah menggerakkan mata tertuju ke Stadion Etihad dan Stadium of Light. Di Stadion Etihad, City menjamu Queens Park Rangers (QPR). Adapun di Stadium of Light, Manchester United (MU) melawan Sunderland.
Sebelumnya, kedua tim sama-sama memiliki nilai 86, tetapi City unggul selisih gol. Peraturannya jelas. Jika City menang, mereka juara. Jika seri atau kalah dan MU menang atas Sunderland, gelar kembali milik "Setan Merah".
Dan, ternyata MU memimpin lebih dulu dibanding City. Pada menit ke-20 mereka unggul 1-0 setelah Wayne Rooney mencetak gol.
Sementara itu di Stadion Etihad, City masih kesulitan mencetak peluang. Baru pada menit ke-39 Pablo Zabaleta membuat City unggul.
City gantian memimpin untuk meraih gelar juara. Apalagi Joe Barton mendapat kartu merah pada menit ke-55, yang membuat QPR bermain 10 orang.
Pekerjaan menjadi mudah? Ternyata tidak. Kota Manchester seolah kembali mencekam. Pasalnya, QPR ternyata malah mampu menyamakan kedudukan pada menit ke-66 berkat gol Djibril Cisse. Sementara itu di tempat lain, MU tetap memimpin.
Peluang City untuk juara kemudian seolah tertutup setelah QPR gantian memimpin. Pada menit ke-59 Jamie Mackie mencetak gol.
Kota Manchester pun hampir didominasi "merah" sebagai warna kebanggaan MU. Pesta seolah sudah segera digelar untuk merayakan gelar MU yang ke-20. Apalagi waktu sudah memasuki injury time.
Lalu, MU mengakhiri pertandingan lebih dulu dengan kemenangan 1-0. Artinya, gelar sudah di depan mata. Sementara itu di Stadion Etihad, pertandingan diperpanjang 5 menit karena insiden Joe Barton. Namun, City masih tertinggal 1-2.
Wajah-wajah tegang menyelimuti Stadion Etihad. Bahkan, air mata mulai turun dari pasang mata beberapa pendukung City. Sementara di belahan lain, pendukung MU berharap-harap cemas sambil menyiapkan pesta, menunggu pertarungan antara City lawan QPR yang hanya beberapa menit lagi.
Ternyata, waktu yang sempit itu bisa dimanfaatkan oleh City. Edin Dzeko mencetak gol dengan sundulan pada menit ke-92, menyamakan kedudukan menjadi 2-2. Tinggal tiga menit lagi dan hasil seri 2-2 belum cukup mengantar mereka untuk juara karena MU menang 1-0.
Akan tetapi, semangat luar biasa ditunjukkan Vincent Kompany dan kawan-kawan. Pertandingan hanya kurang semenit, tepatnya pada menit ke-94, tekanan City membuahkan hasil. Sergio Aguero memberikan bola kepada Mario Balotelli. Penyerang Italia itu mengembalikannya kepada Aguero.
Posisi Aguero tertutup bek QPR. Namun, dia meliuk dan membuat tipuan untuk membuka ruang, kemudian melepaskan tendangan. Blast! Bola menusuk gawang QPR dan ternyata itu yang menjadi penentu kemenangan City 3-2, sekaligus meraih gelar juara Premier League untuk pertama kalinya sejak 1968.
Kota Manchester yang tadinya hampir didominasi warna merah, tiba-tiba berubah. Warna biru langit kebanggaan Manchester City secara cepat mendominasi atmosfer Manchester.
Untuk pertama kalinya, warna biru langit itu "merona" di Manchester, tanda bahwa Manchester City juara Premier League. Sebuah liga sepak bola tertinggi di Inggris, pun paling sakral. Keberisikan, kegaduhan, sukacita, teriakan gembira yang hampir dilakukan para penggemar berkostum merah, ternyata akhirnya dilakukan yang berkostum biru. Para penggemar City pun berani membentangkan spanduk, "Manchester is blue (Manchester adalah biru)".
Selamat, City!
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang