Kemacetan

Menunggu Kepentingan Elite Terganggu Dulu

Kompas.com - 14/05/2012, 03:48 WIB

Djenar Maesa Ayu

Dua persoalan krusial di Jakarta adalah transportasi massal dan rasa aman, terutama bagi kaum perempuan dan anak-anak. Semua itu bersumber pada lemahnya penegakan hukum akibat kurangnya koordinasi aparat pengamanan Jakarta.

Membangun jaringan transportasi massal yang bagi negara-negara lain sudah bukan sesuatu yang sulit justru menjadi bencana bagi Jakarta karena menimbulkan sejumlah pertarungan kepentingan. Banyak persoalan nonteknis yang justru menjadi penghalang besar pembangunan transportasi massal di Jakarta.

Saya merasa aneh dengan cara aparat menangani para korban kejahatan, terutama perempuan dan anak-anak. Korban yang melapor justru dituduh menjadi pemicu kejahatan. Alih-alih melayani korban, yang terjadi justru menyalahkan korban.

Wibawa negara menghadapi organisasi massa atau gerakan massa masif lain juga sangat lemah. Dengan mudah mereka memaksakan kehendak, melebihi otoritas negara. Kalau di Jakarta saja hal seperti itu mudah terjadi, apalagi di daerah.

Demokrasi dan penegakan hukum masih menjadi jargon.

Saya pesimistis dengan masa depan Jakarta. Siapa pun gubernurnya bakal terseret pada birokrasi pemerintahan yang porak poranda. Sumbernya adalah korupsi dan salah urus.

Oleh karena itu, tolok ukur berhasil tidaknya pasangan gubernur dan wakil gubernur DKI mendatang terletak pada kemampuan keduanya memperbaiki kondisi dan sistem birokrasi.

Selama ini, yang diramaikan hanya sebatas pemilihan gubernur dan wakil gubernur DKI. Persoalan-persoalan birokrasi yang menghambat dunia usaha dan pelayanan publik nyaris tak tersentuh.

Saya juga menyesalkan banyaknya tayangan televisi yang menawarkan mimpi tentang Jakarta sebagai kota pendulang kesuksesan. Padahal, Jakarta itu sumber mata air kesedihan.

Seharusnya soal sumber mata air kesedihan itu yang dieksploitasi sambil menawarkan impian sederhana lain yang lebih baik di daerah.

Kita sudah tahu bahwa negara tidak memiliki kemampuan mengatasi ketimpangan pembangunan. Namun, apakah kita akan menyerah dan menyaksikan setiap hari korban berjatuhan di Jakarta?

Sutiyoso

Jakarta adalah kota yang dirancang sebagai kota dagang berskala kecil dengan pelabuhan utama Sunda Kelapa. Kondisi ini, ditambah dengan letak geografisnya di pinggir laut, menjadikan Jakarta sejak dulu tidak dipersiapkan menjadi kota multifungsi.

Namun, dalam perkembangannya, Jakarta menjadi kota multifungsi yang tidak terencana dengan baik. Sebagai kota multifungsi, Jakarta menjadi kota perdagangan, pariwisata dan rekreasi, industri, pendidikan, pertemuan, kota pantai, dan sebagainya.

Magnet inilah yang akhirnya menjadikan kota seluas 661,52 kilometer persegi ini menjadi kelebihan beban. Jakarta menjadi kota sesak dengan kepadatan penduduk 12.978 jiwa per kilometer persegi. Penduduk pada malam hari 9,6 juta jiwa, sedangkan siang hari 12 juta jiwa.

Jakarta menjadi kota dengan segudang permasalahan, mulai dari kemacetan, banjir, sampah, air bersih, kesejahteraan sosial, tingginya kriminalitas, banyaknya kawasan kumuh, dan sebagainya.

Dalam hal kemacetan, pertumbuhan jalan di Jakarta yang hanya 0,001 persen tak sebanding dengan pertumbuhan jumlah kendaraan yang mencapai 11 persen setiap tahun. Kemacetan terus bertambah karena sejauh ini pemerintah belum menyediakan alternatif transportasi massal yang aman dan nyaman bagi warga. Akibatnya, warga Jakarta, pendatang, dan warga dari daerah penyangga yang masuk Jakarta tak mau meninggalkan kendaraan pribadi.

Ratusan ribu kendaraan dari Tangerang, Bogor, Depok, dan Bekasi masuk Jakarta setiap hari. Sarana transportasi massal yang ada, yakni bus kota, bus transjakarta, dan kereta api, belum mampu menjawab kebutuhan masyarakat.

Sarana transportasi massal monorel dan subway hingga kini tak jelas keberadaannya. Padahal, cetak biru transportasi yang tertuang dalam pola transportasi makro DKI Jakarta sudah lama dibuat.

Setiap tahun, Jakarta masih menjadi daerah langganan banjir, mulai dari banjir akibat rob hingga banjir kiriman dari daerah hulu. Kondisi Jakarta yang dilalui 13 sungai membuat Jakarta selalu rawan banjir.

Kanal Barat tidak mampu menampung air sungai. Sementara pembangunan Kanal Timur belum bisa mengurangi daerah genangan air karena belum jadi. Dalam hal air bersih, masih banyak warga mengeluh tidak bisa mendapatkan pasokan air bersih dengan baik. Belum lagi masalah kawasan kumuh yang masih tetap ada seiring urbanisasi.

Kunci permasalahan ini adalah menghidupkan kembali megapolitan. Penataan transportasi dan banjir, pemerataan penduduk dan perumahan, serta pengelolaan air bersih dan sampah dapat terbangun dengan adanya kerja sama dengan wilayah penyangga, Bodetabek. Misalnya, menata transportasi massal dengan wilayah penyangga sehingga mengurangi jumlah kendaraan pribadi dan warga beralih pada angkutan massal.

Banjir dapat diatasi melalui kerja sama dengan daerah hulu, misalnya dengan membuat situ atau waduk untuk daerah resapan. Sementara di bagian hilir, pembangunan Kanal Timur harus segera direalisasikan serta dilakukan normalisasi sungai yang mulai dangkal dan sempit.

Megapolitan dapat membangun kerja sama dalam mengatasi sampah Jakarta dan daerah penyangga sehingga keuntungan bisa dirasakan dua pihak, yaitu Jakarta dan daerah penyangga.

Semua permasalahan Jakarta ini dapat teratasi jika Jakarta dipimpin gubernur dan wakil yang memiliki dedikasi tinggi dan keyakinan diri.

Gubernur dan wakil gubenur harus berani dan bertindak tegas menegakkan aturan.

Ria Irawan

Sebenarnya aku sudah malas menanggapi soal masalah utama di Jakarta. Beribu kali diomongin, beribu kali dikritik, nggak berubah juga.

Dari dulu, masalah utama Jakarta itu cuma satu: jalan yang macet, tidak aman, dan miskin fasilitas pendukung, seperti trotoar, lampu jalan, halte, rambu lalu lintas, taman, dan peturasan.

Aku sekarang lebih banyak tinggal di Bali karena tidak mau lagi berurusan dengan masalah jalanan Jakarta. Terakhir, sebelum lebih banyak tinggal di Bali, aku lebih banyak naik sepeda motor di Jakarta.

Makin lama, naik sepeda motor juga lama dan tidak aman. Akhirnya, aku memutuskan tinggal di Bali.

Di Bali, ruang untuk para pejalan kaki masih relatif layak. Di Jakarta, barusan jalur pedestriannya dilebarin, dibagusin, besok sudah digali buat jaringan ini-itu. Begitu pekerjaan selesai, hancur tuh pedestrian.

Di Bali, naik sepeda motor pun masih nyaman. Pendek kata, lebih banyak bahagianya di jalanan Bali ketimbang di jalanan Jakarta.

Aku percaya, satu saat, lalu lintas jalanan Jakarta tak bergerak lagi. Itu artinya, denyut perekonomian nasional ikut terhambat. Ketika itulah, para petinggi, termasuk presiden, peduli pada jalanan Jakarta. Ya, memang mesti menunggu sampai kepentingan yang di atas terganggu. (PIN/ARN/WIN)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau