Bergesernya Pendulum di Manchester

Kompas.com - 14/05/2012, 10:21 WIB

KOMPAS.com — Bertahun-tahun Manchester City dipandang sebelah mata di kota Manchester, salah satu ibu kota sepak bola. Musim ini, mereka mengubah pandangan itu. Di bawah pemilik baru, dengan kekuatan uang hampir tak berbatas, City tampil menjadi kekuatan baru di liga sepak bola Inggris.

”Kami hormat kepada City, tetapi lawan kami adalah Liverpool atau Arsenal,” demikian mantan striker Manchester United, Andy Cole, pernah berkomentar, seperti dikutip FourFourTwo (November 2011). ”City sama sekali tidak dilihat sebagai ancaman bagi kami.”

Begitulah contoh cara pandang meremehkan yang tumbuh subur bertahun-tahun terhadap City. Dari segi pencapaian gelar juara, bisa dimaklumi jika muncul pandangan seperti itu. Mereka baru memiliki dua trofi Divisi Utama Liga Inggris, lima trofi Piala FA, dan satu trofi level Eropa (Piala Winners).

Pencapaian itu praktis terlihat seperti seujung kuku jika dibandingkan dengan gelar juara yang dikoleksi klub tetangga, MU,  dengan 19 trofi Liga Inggris, 11 Piala FA, 3 Liga Champions, dan lain- lain. Bahkan, ketika dominasi skuad Sir Alex Ferguson mengakar kuat sejak bergulirnya era Liga Primer, City sempat terdegradasi hingga Divisi Tiga pada 1998.

Pelatih datang silih berganti. Namun, nasib City tak pernah berubah. Terpuruk terus-menerus. ”Saya bermain di sana (City) dari 1986 hingga 1998 dan saya mengalami 13 kali pergantian pelatih, termasuk para caretaker, dalam 12 tahun. Saya mengalami tahap di mana (City) dijadikan lelucon,” ujar Ian Brightwell, mantan pemain City, dalam The Telegraph.

”Ada semacam perasaan, tak seorang pun bakal mampu mengejar MU,” kata Brightwell. Musim 2011/2012 atau musim keempat setelah City dibeli konsorsium pengusaha Abu Dhabi di bawah pimpinan Sheikh Mansour bin Zayed Al Nahyan, bisa menjadi tonggak awal pergeseran kekuatan itu: dari cengkeraman MU ke tangan City.

Kekuatan uang

Sheikh Mansour dan konsorsiumnya merogoh kas yang dilaporkan sekitar 200 juta poundsterling
(Rp 2,9 triliun) saat mengambil alih City dari mantan Perdana Menteri Thailand Thaksin Shinawatra, September 2008. Sejak itu, Sheikh Mansour menggelontorkan 930 juta poundsterling (Rp 13,7 triliun) untuk membuat glamor City.

Itulah era di mana langit kota Manchester membiru, seperti salah satu julukan City, ”The Sky Blues”. Pemain-pemain mahal kelas dunia didatangkan, digaji mahal, dan diperlakukan istimewa. Pemain sebengal Mario Balotelli atau pemberontak seperti Carlos Tevez tetap dirangkul.

Menurut penelitian Sporting Intelligence yang dirilis belum lama ini, pemain City menempati peringkat ketiga gaji termahal di antara klub-klub olahraga sedunia, hanya kalah dari dua klub raksasa Spanyol, Barcelona dan Real Madrid. Jika dirata-rata, setiap pemain City mendapat gaji 86.280 poundsterling (Rp 1,2 miliar) per pekan.

Kekuatan uang mungkin tak selalu mampu membeli gelar juara. Namun, uang bisa membantu pemiliknya berusaha mendapatkan gelar itu. Gebrakan City musim ini diidentikkan Pelatih MU Sir Alex Ferguson seperti Chelsea saat diambil alih taipan Rusia, Roman Abramovich, dan ditangani Pelatih Jose Mourinho yang membawa klubnya juara 2005.

”Italian job”

Sheikh Mansour harus melakukan sekali pergantian pelatih (dari Mark Hughes ke Roberto Mancini) dan butuh waktu hingga musim keempat untuk memetik trofi pertamanya, menghentikan dominasi MU.

Mancini, Pelatih Italia itu, dipuji atas kemampuannya mengelola para pemain bintang. Di mata pemainnya, ia dianggap sosok yang siap menanggung beban tekanan mental pemainnya. ”Roberto sepertinya ingin mengambil alih tekanan dari kami dengan sering mengatakan, ’gelar juara telah berakhir’,” kata David Silva, gelandang City, yang dikutip Guardian.

Musim ini, City tak pernah melorot dari dua peringkat teratas. Pada 8 April lalu, saat kalah 0-1 di kandang Arsenal, City tertinggal delapan poin dari MU. Namun, mereka sapu lima laga berikutnya dengan kemenangan, termasuk 1-0 atas MU dan 2-0 atas Newcastle.

Kini, setelah menjuarai Liga Inggris untuk ketiga kali atau yang pertama dalam 44 tahun, City tak bisa lagi diremehkan. Jelas, sukses ini masih jauh dari pencapaian MU. Namun, kata Silva, ”Kami di sini akan membuat segalanya sulit (bagi MU).” Selamat datang juara baru. (SAM)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau