Tim sar rusia

Kesempatan Terbaik untuk Saling Belajar

Kompas.com - 15/05/2012, 08:39 WIB

KOMPAS.com - Lima belas anggota tim darurat Rusia tiba di posko Tim SAR Gabungan di Cijeruk, kaki Gunung Salak, Minggu (13/5/2012) sore. Mereka langsung bergerak naik menuju lokasi jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100 dengan dipandu anggota Komando Pasukan Khusus TNI AD dan Satuan Pelopor Brimob.

Tak berselang lama, dua orang kembali ke posko, diduga karena kelelahan. Senin (14/5/2012) siang, dua orang Rusia kembali tak bisa meneruskan pendakian di medan Gunung Salak.

Sempat muncul pertanyaan, sebatas itu kah kemampuan tim SAR Rusia? Apakah medan Gunung Salak terlalu berat bagi tim yang disebut-sebut berkelas dunia itu?

Sebelumnya, siaran pers Kementerian Keadaan Darurat Rusia (EMERCOM) menyebutkan, tim SAR yang dikirim ke Indonesia itu terdiri atas dua tim SAR khusus bernama Centrospas dan Leader Squad.

Centrospas adalah tim khusus yang mengadopsi berbagai teknologi modern dalam operasi SAR. Mereka, misalnya, dilengkapi dengan perangkat akustik, inframerah, dan serat optik untuk pencarian korban.

Sementara Leader Squad adalah tim yang dibekali kemampuan untuk melakukan operasi-operasi darurat dengan tingkat kesulitan tinggi. Leader Squad disebut memiliki pengalaman operasi di berbagai belahan dunia dan kondisi medan, mulai dari hutan Amazon, Pegunungan Kaukasus, Gurun Sahara, sampai Kutub Utara.

Kepala Tim SAR Rusia Kolonel Andrey Sorokin menegaskan, orang-orang Rusia yang tak mampu mencapai lokasi itu bukan anggota tim SAR. ”Mereka dari perusahaan Sukhoi dan wartawan, bukan anggota (tim) darurat Rusia,” ujar Sorokin kepada Kompas, Senin sore.

Belakangan diketahui, dua orang Rusia yang menyerah pada Senin siang memang para wartawan yang mengikuti tim SAR Rusia tersebut.

Kualifikasi tinggi

Sorokin memastikan anak buahnya mampu mencapai lokasi kecelakaan pesawat karena mereka telah dibekali kemampuan dan keterampilan bekerja di kondisi ekstrem.

Mereka juga orang-orang terpilih berkualifikasi tinggi untuk bekerja di ketinggian. ”Tim kami biasa bekerja di gunung lebih tinggi (daripada Gunung Salak) dan penuh salju. Di Indonesia masih lebih baik karena cuaca bagus dan suhu 30 derajat (celsius),” ucap Sorokin.

Tim dari Rusia itu diterbangkan langsung dari Moskwa menggunakan dua pesawat Ilyushin Il-76TD, Sabtu. Mereka terdiri atas 68 orang, meliputi personel SAR, psikolog, dan ahli forensik.

Dua pesawat itu membawa lima peralatan berat, termasuk dua helikopter, yakni BO-105 dan BK-117. Satu truk besar dan satu mobil Land Rover, yang dibawa ke Cijeruk, juga diangkut pesawat-pesawat itu langsung dari Rusia.

Kedatangan tim Rusia ke Indonesia ini menjadi bagian dari program Globalny Radius EMERCOM. Dalam program tersebut, Kementerian Keadaan Darurat Rusia selalu menyiagakan pesawat Il-76TD yang membawa satu helikopter dan sewaktu-waktu siap diberangkatkan ke lokasi bencana mana pun di dunia.

Tim Rusia itu membawa peralatan seperti tali, helm pelindung, ransum, tongkat pendaki, dan generator pembangkit listrik. Mereka kemudian mendirikan tenda-tenda peleton di halaman tengah dan belakang SMP 1 Cijeruk, dekat helipad. Puluhan orang dengan berbagai peralatan kerja berada di dalamnya.

Kolonel (Inf) AM Putranto, Komandan Korem 061/Surya Kencana, berkomentar, tenda-tenda yang dibawa tim Rusia adalah tenda kelompok, yang kemungkinan kurang cocok dengan medan di Gunung Salak yang penuh tebing-tebing curam. ”Saya katakan kepada mereka, membuat tenda perseorangan saja susah,” kata dia.

Kerja sama Tim SAR Indonesia dan Rusia dalam mencari dan mengevakuasi korban SSJ100 ini tentu saja menjadi kesempatan untuk saling belajar. (GAL/ICH/DHF)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau