Peluang Ukir Kejutan

Kompas.com - 16/05/2012, 02:59 WIB

Jakarta, Kompas - Setelah memeras keringat berlatih keras sekitar sebulan di pelatnas Cipayung, kini saatnya bagi pebulu tangkis Indonesia unjuk gigi pada kejuaraan beregu Piala Thomas dan Uber di Wuhan, China. Meski tak diperhitungkan, Indonesia berpeluang bikin kejutan.

”Saya pikir kini saatnya kami fokus untuk mendapatkan hasil maksimal. Kami tidak peduli siapa lawan kami. Yang penting kami akan berjuang dan main habis-habisan,” kata pemain tunggal putra Simon Santoso sebelum keberangkatan tim di Bandara Internasional Soekarno- Hatta, Selasa (15/5).

Simon menambahkan, tim harus berkonsentrasi di setiap laga. Tahap demi tahap harus dilalui dengan perjuangan keras.

Pada putaran final di Wuhan, tim Thomas Indonesia akan berjuang di Grup A melawan tuan rumah China dan Inggris. Sementara tim Uber tergabung di Grup A bersama tuan rumah China dan Afrika Selatan. Pertandingan dimulai Minggu (20/5).

Dua tim terbaik dari tiap grup berhak melaju ke babak perempat final. Melihat situasi ini, Indonesia seharusnya bisa lolos ke perempat final.

Kemampuan tim Thomas Indonesia setidaknya sudah sedikit teruji pada turnamen beregu putra Axiata Cup. Tampil dengan dua tim yang terdiri dari kekuatan utama dan lapis kedua, Indonesia sanggup menciptakan final sesama Indonesia.

Indonesia menjadi terbaik dengan melewati persaingan di antaranya dari Malaysia, Vietnam, dan Singapura. Meski turnamen itu hanya level Asia Tenggara, tekanan pada kejuaraan itu sudah cukup memberi bekal untuk Simon dan kawan-kawan.

Semangat dan tekad untuk membuat kejutan juga disampaikan sejumlah pemain lainnya. Sebutan underdog untuk tim Indonesia justru akan menjadi senjata yang menguntungkan.

”Kami senang tidak diperhitungkan. Dengan demikian, beban dan tekanan sudah sedikit lepas dari pundak kami,” kata pemain senior Alvent Yulianto.

Dengan variatifnya pasangan ganda, kata Alvent, menjadi keuntungan besar buat tim Indonesia. ”Lawan sulit memprediksi kekuatan kami,” ujarnya.

Pengalaman di Qindao

Pengalaman di Piala Sudirman di Qingdao tahun 2011 menjadi rujukan. Ketika itu, Alvent yang dipasangkan dengan Muhammad Ahsan di luar dugaan mampu mengalahkan pasangan nomor satu dunia saat itu, Mathias Boe/ Carsten Mogensen asal Denmark.

Tim Uber Indonesia juga tidak perlu berkecil hati. Keberhasilan Korea Selatan menjungkalkan China di final Piala Uber tahun 2010 bisa menjadi pelajaran yang bisa ditiru.

Kerja sama antara atlet dan pelatih juga akan menjadi salah satu kunci keberhasilan tim. Dalam pertandingan beregu, dibutuhkan strategi yang matang yang harus didiskusikan antara pemain dan pelatih. Setiap pemain dan pelatih sudah cukup hafal dengan kekuatan lawan masing- masing. Sekarang tinggal tergantung bagaimana memanfaatkan kelemahan lawan.

Di ajang Piala Thomas, Indonesia terakhir meraih gelar di Guangzhou, China, satu dasawarsa silam. Sementara gelar Piala Uber terakhir didapat Indonesia tahun 1996 di Hongkong.(OTW)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau