”Saya pikir kini saatnya kami fokus untuk mendapatkan hasil maksimal. Kami tidak peduli siapa lawan kami. Yang penting kami akan berjuang dan main habis-habisan,” kata pemain tunggal putra Simon Santoso sebelum keberangkatan tim di Bandara Internasional Soekarno- Hatta, Selasa (15/5).
Simon menambahkan, tim harus berkonsentrasi di setiap laga. Tahap demi tahap harus dilalui dengan perjuangan keras.
Pada putaran final di Wuhan, tim Thomas Indonesia akan berjuang di Grup A melawan tuan rumah China dan Inggris. Sementara tim Uber tergabung di Grup A bersama tuan rumah China dan Afrika Selatan. Pertandingan dimulai Minggu (20/5).
Dua tim terbaik dari tiap grup berhak melaju ke babak perempat final. Melihat situasi ini, Indonesia seharusnya bisa lolos ke perempat final.
Kemampuan tim Thomas Indonesia setidaknya sudah sedikit teruji pada turnamen beregu putra Axiata Cup. Tampil dengan dua tim yang terdiri dari kekuatan utama dan lapis kedua, Indonesia sanggup menciptakan final sesama Indonesia.
Indonesia menjadi terbaik dengan melewati persaingan di antaranya dari Malaysia, Vietnam, dan Singapura. Meski turnamen itu hanya level Asia Tenggara, tekanan pada kejuaraan itu sudah cukup memberi bekal untuk Simon dan kawan-kawan.
Semangat dan tekad untuk membuat kejutan juga disampaikan sejumlah pemain lainnya. Sebutan underdog untuk tim Indonesia justru akan menjadi senjata yang menguntungkan.
”Kami senang tidak diperhitungkan. Dengan demikian, beban dan tekanan sudah sedikit lepas dari pundak kami,” kata pemain senior Alvent Yulianto.
Dengan variatifnya pasangan ganda, kata Alvent, menjadi keuntungan besar buat tim Indonesia. ”Lawan sulit memprediksi kekuatan kami,” ujarnya.
Pengalaman di Piala Sudirman di Qingdao tahun 2011 menjadi rujukan. Ketika itu, Alvent yang dipasangkan dengan Muhammad Ahsan di luar dugaan mampu mengalahkan pasangan nomor satu dunia saat itu, Mathias Boe/ Carsten Mogensen asal Denmark.
Tim Uber Indonesia juga tidak perlu berkecil hati. Keberhasilan Korea Selatan menjungkalkan China di final Piala Uber tahun 2010 bisa menjadi pelajaran yang bisa ditiru.
Kerja sama antara atlet dan pelatih juga akan menjadi salah satu kunci keberhasilan tim. Dalam pertandingan beregu, dibutuhkan strategi yang matang yang harus didiskusikan antara pemain dan pelatih. Setiap pemain dan pelatih sudah cukup hafal dengan kekuatan lawan masing- masing. Sekarang tinggal tergantung bagaimana memanfaatkan kelemahan lawan.
Di ajang Piala Thomas, Indonesia terakhir meraih gelar di Guangzhou, China, satu dasawarsa silam. Sementara gelar Piala Uber terakhir didapat Indonesia tahun 1996 di Hongkong.(OTW)